
"Pak, itu mobil siapa ya yang parkir di halaman rumah kita? Plat nomornya Jakarta," ucap Bu Lina kepada suaminya, saat melihat mobil Toyota avanza terparkir di halaman rumahnya.
Pak Hari keluar dari rumahnya, untuk melihat jelas siapa yang datang. Sekalian dirinya bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Saat ini bapak-nya Dina bekerja sebagai staf purchasing di sebuah perusahaan dagang yang berada di kotanya. Mereka hidup sederhana, karena gaji di sana tak sebesar di kota besar. Inilah salah satunya, Dina nekat untuk mengadu nasib di Jakarta.
"Oalah, Dina toh yang datang. Apa kabar kamu, Nduk?Kenapa ke sini enggak bilang-bilang dulu" ujar Pak Hari saat melihat sang anak turun lebih dulu.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam, akhirnya Dina dan Rian sampai di rumah orang tua Dina. Mereka langsung disambut oleh kedua orang tua Dina, meskipun masih menjadi tanda tanya besar, siapa laki-laki yang bersama anaknya.
Dina mengatakan kalau dirinya datang tanpa sebuah rencana. Dina mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian. Dina juga memperkenalkan Rian kepada kedua orang tuanya.
"Kenalin Pak, Bu. Ini namanya Mas Rian. Dia atasan aku di kantor tempat aku berkerja," jelas Dina, saat Rian mencium tangan kedua orang tua Dina secara bergantian.
Yang membuat kedua orang tuanya bingung, yaitu ada masalah apa dengan anaknya? Mengapa Dina datang bersama Rian, bukan Nando. Setau orang tuanya, Dina berpacaran sama Nando, sejak mereka duduk di bangku kuliah.9o
Pak Hadi, dan Bu Lina menyuruh Rian untuk masuk ke dalam dan duduk. Mereka menyambut Rian dengan baik. Apalagi Rian terlihat sopan dan pintar mengambil hati kedua orang tua Dina.
"Bu, ini oleh-oleh dari Mas Rian," ujar Dina kepada Ibu nya. Namun, Rian tak mengizinkan Dina untuk mengangkat yang berat-berat.
"Makasih ya Nak, Rian. Maaf Ibu tidak bisa menyuguhi yang mewah," ujar Bu Lina.
"Wah beruntung banget Dina, laki-laki itu lebih segalanya dari si Nando," gumam Bu Lina dalam hati.
__ADS_1
Dina memilih untuk tidak memulai pembicaraan. Dia ingin melihat waktu yang pas untuk bicara dengan kedua orang tuanya. Terbesit perasaan bersalahnya, karena telah mengkhianati kepercayaan orang tuanya selama ini.
"Din, ayo bantu Ibu memasak," ujar Bu Lina.
Selama memasak, Dina berusaha menahan perasaan mulanya. Sejak tadi dirinya menahan agar tidak muntah di depan orang tuanya. Namun, nyatanya gagal karena Dina mencium bau bawang putih, hingga menusuk penciumannya.
Dina berlari ke kamar mandi, untuk memuntahkan isi perutnya. Rian yang melihat Dina seperti itu, merasa tak tega. Dia terpaksa menghampiri Dina dan memijat tengkuk Dina. Hal itu membuat Bu Lina memicingkan matanya, dan melirik ke arah Dina dan Rian secara bergantian.
"Katakan kepada kami, alasan kalian datang ke sini! Ibu yakin pasti ada sesuatu yang penting."
"Jangan bilang kamu hamil ya, dan kedatangan kamu ke sini karena kamu ingin menikah menutupi kehamilan kamu," cerocos Bu Lina kepada anaknya.
"Maafin Dina, Bu. Dina akuin, Dina salah. Benar yang ibu katakan, saat ini Dina sedang hamil anak Nando. Namun, Nando tak mengakui anak ini dan dia justru menikahi Mira," jelas Dina diiringi isak tangis.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Dina, terasa sangat panas. Ibu-nya Dina merasa sangat marah mendengar pernyataan anaknya. Lantas apa hubungannya dengan Rian?
"Dasar wanita murahan! Mau saja di bodohi laki-laki. Dari awal kamu mengenalkan Nando lewat telepon, Ibu kan sudah bilang sama kamu. Kalau laki-laki itu, bukan laki-laki baik. Gayanya saja urakan seperti itu. Kamu si tidak pernah nurut sama orang tua. Gini nih jadinya. Bikin malu saja," ujar Bu Lina ketus.
Dina tak mampu membendung perasaannya, air matanya jatuh satu persatu. Rian semakin tak tega melihatnya. Hingga akhirnya Rian menghampiri Dina, dan berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
"Ibu tenang saja. Saya yang akan menikahi Dina. Saya sangat mencintai Dina. Saya yang akan bertanggungjawab dengan anak yang dikandung Dina. Saya akan menjadi Ayah untuknya," ujar Rian yang akhirnya ikut bicara.
" Ibu semakin tidak mengerti saja. Yang menghamili Dina itu si Nando, ya si Nando 'lah yang bertanggung jawab. Kenapa harus kamu yang bertanggung jawab, orang kamu tak salah," sahut Bu Lina.
"Biar saja Bu, Saya ikhlas melakukannya. Saya tak ingin melihat Dina di permalukan tidak baik karena sedang mengandung anak di luar nikah. Saya yang akan menjadi Ayah dari anaknya Dina," ujar Rian tegas.
Sungguh mulia sekali hati Rian, mau menerima anak Dina dan Nando. Memang calon menantu idaman. Ibunda Dina langsung jatuh hati pada Rian. Dia yakin kalau Rian benar-benar mencintai Dina.
"Ibu benar-benar malu Nak Rian. Terima kasih sudah membantu Dina memecahkan masalahnya. Kamu memang pria berhati mulia. Mau menerima anak yang bukan darah daging kamu. Kamu harus bersyukur Din, karena bos mu mau menjadi suami kamu," cerocos Bu Lina.
Rian mengatakan kalau dirinya sudah membicarakan kepada kedua orang tuanya, perihal pernikahan dirinya dengan Dina. Rencananya minggu depan Rian akan membawa kedua orang tuanya untuk melamar Dina.
"Tuh, cari suami tuh model begitu. Bukan si Nando yang modelnya urakan seperti itu. Beraninya cuma menanam benih, enaknya saja. Biar saja orang seperti itu akan dapat karmanya nanti. Jadi wanita tuh jangan bodoh, mau saja di perdaya seperti itu. Kamu itu lulusan cumlaude dari universitas negeri, jangan malu-maluin seperti ini. Bikin malu saja, punya otak cerdas di taro di dengkul," cerocos Ibu Lina.
"Mulai sekarang rubah tuh sifat keras kepalamu. Berusaha menjadi istri yang baik, kalau nanti kamu menikah sama Nak Rian. Layani suamimu dengan baik. Kalau perlu, kasihkan saja anak itu sama di Nando, biar kamu fokus dengan anak kamu nanti sama Nak Rian," ujar Ibu Lina
Namun, Dina tetap ngotot akan mempertahankan anaknya dengan Nando. Rian pun tak merasa keberatan. Karena sejak awal dia memang sudah berjanji akan menjadi Ayah untuk anak yang sedang di kandung Dina.
"Bu, Pak ada yang ingin Saya sampaikan sebelumnya perihal kehamilan Dina. Mohon maaf sebelumnya, Saya terpaksa menutupi terlebih dahulu mengenai kehamilan Dina dari orang tua Saya. Sampai situasinya memungkinkan untuk saya bisa berkata jujur. Insyaallah Saya yakin, kalau orang tua Saya akan menerima Dina apa adanya. Meskipun harus penuh drama di awal."
Dina dan kedua orang tua Dina hanya bisa mengiyakan. Mengikuti keinginan Rian. Mungkin ini yang terbaik.
__ADS_1