
"Yang, bangun! Kita istirahat dulu," ujar Rian. Membangunkan Dina yang saat itu sudah terlelap. Hingga akhirnya Dina membuka matanya. Meskipun matanya masih terasa berat.
"Emmm, maaf Mas aku ketiduran," ujar Dina dengan suara khas bangun tidur.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengajak kamu makan dulu, nanti kalau kamu mau tidur lagi tak apa," sahut Rian.
"Ih, gimana sih malah bengong. Ayo kita makan! Aku jangan dilihatin terus, nanti lama-lama aku terbang dan hinggap di hati kamu. Aku emang sudah tampan dari lahir," goda Rian sambil memberikan senyum termanisnya. Membuat Dina merasa malu. Wajahnya sudah terlihat memerah. Rian terkekeh melihat sikap calon istrinya.
Kini mereka sudah berada di sebuah restoran ayam kriuk yang berada di rest area. Rian memesan dua paket ayam kriuk, French fries dan juga es cream vanila dengan toping strawberry untuk Dina.
"Selamat makan, wanita cantik. Kalau kurang bilang ya! Nanti aku belikan lagi. Sekarang kamu kan double. Aku tak ingin kalian kekurangan asupan gizi," ujar Rian membuat Dina tersenyum. Calon suaminya itu selalu saja membuat dirinya tersenyum bahagia.
"Pelan-pelan dong makannya, aku tak akan meminta," goda Rian. Rian membersihkan area mulut Dina yang terdapat nasi menempel. Dina menatap wajah Rian, netra mereka saling bertemu. Dina memperhatikan tangan Rian yang dengan telaten membersihkan area bibirnya.
Meninggalkan Dina yang sedang merasakan indah menjalin kasih dengan Rian, laki-laki yang begitu mencintainya. Di rumah sakit, Mamanya Nando justru sedang mengoceh dengan Mira. Dia mengira kalau apa yang terjadi pada sang anak, karena menantunya yang malas memasak untuk sang anak.
"Ma, meskipun aku tak pernah memasak. Aku tetap selalu menyiapkan makanan untuk anak Mama. Emang saja, fisiknya lemah," gerutu Mira yang merasa tak terima dengan tuduhan kepadanya.
"Ah, dulu sebelum nikah Nando tak pernah sakit yang aneh-aneh. Sakit sebentar, besoknya juga sudah sembuh. Makanya Mama aneh, kok setelah menikah Nando justru sampai di rawat. Bahkan ini bukan yang pertama. Dokter juga bingung, tentang penyakit yang diderita Nando. Makanya kamu itu menjadi istri, coba deh seperti Dina. Sudah lembut, penyayang, pintar masak lagi," tanpa sadar Mama-nya Nando memuji mantan pacar anaknya. Hal itu membuat Mira tersentak kaget mendengar penuturan menantunya. Mira merasa geram dan tidak terima, di banding-bandingkan dengan Dina.
"Ma, aku ini Mira. Mira ya Mira, bukan Dina. Aku ini menantu Mama sekarang. Kalau Mama menyukai Dina, mengapa dulu Mama menyuruh Nando menikah dengan aku. Aku tak suka Mama membanding-bandingkan aku dengan Dina," cerocos Mira.
__ADS_1
Mira langsung pergi meninggalkan ruangan begitu saja, membuat Mama-nya Nando melongo melihat kelakuan menantunya. Bahkan membanting pintu ruang rawat Nando.
"Astaghfirullah. Benar-benar tidak ada sopan santunnya ini anak. Masa ngomong sama mertuanya, seperti itu. Berani membanting pintu," ujar sang mama sambil mengelus dada.
"Tuh Mama tahu sendiri kan kelakuan menantu kesayangan Mama. Dina tak pernah seperti itu Mah, meskipun dirinya sedang marah. Namun, sekarang nasi sudah menjadi bubur. Mau tak mau Mira sudah menjadi istri aku, dan Dina akan segera menikah," ucap Nando lirih.
"Bahkan Dina saat ini sedang mengandung anak aku," ucap Nando dalam hati.
Dia memilih untuk menutup rapat, kalau saat ini Dina sedang mengandung anaknya. Dia takut, sang Mama akan marah besar jika mengetahui hal itu. Terlebih sejak lama, sang mama tak merestui hubungan mereka. Namun, dirinya tetap nekat menanam benih di rahim Dina.
"Mertua si*alan. Selalu saja menyalakan gue. Huhft nyesel gue nikah sama dia, kalau akhirnya seperti ini," gerutu Mira.
"Kamu itu sakit apa si, Nan? Masa dokter bisa tidak ngerti kamu ini sakit apa," ujar sang Mama.
"Mana aku tahu Ma, dokter saja bingung apalagi aku," gerutu Nando.
Merasa dirinya sudah merasa tenang, Mira kembali ke ruang rawat suaminya. Di sana masih ada mertuanya.
"Suapin tuh di Nando," ujar mama-nya Nando kepada Mira.
"Aku enggak mau makanan rumah sakit," ujar Nando. Nando bangkit karena baru mencium wanginya saja, perutnya terasa mual.
__ADS_1
"Ya sudah Mir, kamu beliin makanan di luar sana! Mungkin saja suamimu bisa makan," ujar mama-nya Nando lagi.
Dengan perasaan kesal akhirnya Mira pergi membelikan makanan untuk dirinya dan juga suaminya. Dia memilih membeli dua porsi soto ayam.
"Repot juga kalau terus menerus sakit begini. Aku bisa terancam di berhentikan dari pekerjaan. Repot deh tidak punya uang sendiri," gumam Mira dalam hati.
Pesanannya sudah selesai, Mira bergegas untuk kembali ke rumah sakit. Dia malas mendengar ocehan mertuanya, kalau dia terlalu lama di luar. Mira menenteng satu kantong plastik berisi dua bungkus nasi dan juga dua porsi soto ayam.
"Makan dulu ya," ucap Mira. Mira mencoba menahan emosinya. Dia berusaha bersikap sabar
"Tidak! Aku tidak mau," ujar Nando. Nando mendorong piring Mira dan hampir terjatuh.
"Ya sudah kalau tidak mau makan. Menyusahkan saja. Aku sudah cape-cape jalan kaki untuk beli makanan buat kamu. Aku cape ngurus kamu, selalu saja salah. Besok aku mau kerja, tak enak izin terus. Yang ada nanti aku di pecat," cerocos Mira.
"Ya sudah berhenti saja, lebih baik kamu fokus mengurus Nando. Biar kalian cepat diberikan keturunan. Mama sama Papa sudah ingin gendong cucu. Mumpung kami masih sehat. Lagi pula, Nando mampu kok membiayai kamu. Kamu juga kerja di perusahaan biasa. Kecuali perusahaan besar, baru kamu rugi kalau berhenti," ujar Mama-nya Nando.
Mira tetap mengotot ingin bekerja, terlebih suami dan mertuanya seperti itu tipenya. Bisa makan hati di rumah terus menerus. Meskipun nantinya Mira akan hamil, Mira tak ingin berhenti bekerja.
"Ya sudah, terserah kamu saja! Yang penting kamu bisa bagi waktu antara pekerjaan sama keluarga. Apalagi nanti kalau sudah punya anak. Mama tidak mau ya kalau kamu menunda-nunda punya anak. Kalau baru nikah, jangan segala pakai alat kontrasepsi. Nanti yang ada kamu sulit mendapatkan keturunan," ujar Mama-nya Nando.
Entah sudah berapa kali Nando menelan salivanya. Dia jadi teringat dengan wanita yang masih dia cintai. Yang sedang mengandung anaknya. Seharusnya dia tak menjadi pecundang seperti ini. Seharusnya dia berkata jujur kepada kedua orang tuanya. Meskipun di awal kedua orang tuanya pasti akan marah, tetapi mereka tak akan tega membuat cucunya tak memiliki orang tua yang lengkap.
__ADS_1