Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Pernikahan Dina dan Rian


__ADS_3

"Sayangnya kamu menikah dengan wanita yang tak tepat. Jika tidak, pasti hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi kami. Karena pada akhirnya kamu melepas masa lajang kamu, untuk membina keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah," ujar Mama Elia.


Rasanya dirinya masih merasa tak rela, jika sang anak menikah dengan Dina yang saat ini sedang mengandung anak laki-laki lain. Meskipun bibir mampu terucap iya, tetapi hati dan perasaan kecewa tak dapat di pungkiri. Ya benar, Mama Elia masih berharap jika sang anak akan membatalkan pernikahannya dengan Dina.


"Ma, sudah dong. Please Rian mohon, jangan membahas seperti itu lagi. Sudah berulang kali Rian tegaskan, kalau Rian mencintai Dina dan Rian yakin kalau nantinya Rian akan hidup bahagia dengan Dina. Sudah ya, jangan bahas ini lagi terlebih saat ada Dina nanti. Kita harus menjaga perasaan dia juga, terlebih saat ini dirinya sedang hamil. Pastinya perasaan dia lebih sensitif," jelas Rian.


"Huh, rasanya Mama masih tak rela. Anak Mama yang sempurna seperti ini, harus menanggung menjadi Ayah pengganti untuk anaknya Dina. Belum belah duren, sudah harus menanggung beban," cerocos Mama Elia dan Rian hanya menghela napas panjang.


Untungnya ada Papa Emir ada di sana, dia langsung memberi pengertian kepada sang istri untuk tidak membahasnya lagi. Dalam hitungan jam, Dina akan resmi menjadi menantunya. Kelak mereka harus menerima menantunya dengan baik. Tak baik melihat masa lalu seseorang, karena tak ada manusia di dunia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah. Dina memang salah, karena dulu dia berada pengaruh orang yang salah.


"Dari pada kita terus menerus menyalahkan dirinya, lebih baik kita doakan saja kehidupan rumah tangga Rian dan Dina kedepannya. Semoga mereka bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah," ucap Papa Emir, hingga akhirnya sang istri mengerti.


Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Dina, suasana tegang menghantui perasaan Rian saat ini. Namun, hal ini bukan hanya dirasakan Rian. Dina pun merasakan hal yang sama. Dirinya sudah terlihat tegang, dia takut kedua orang tua Rian akan membatalkan pernikahannya dengan Rian di depan semua tamu undangan yang hadir di sana.


"Doakan Bunda ya Sayang! Semoga acara pernikahan Bunda dengan Ayah Rian, bisa berjalan lancar," ucap Dina sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


Kedua orang tua Dina sudah menyambut kedatangan Rian beserta keluarga di depan pintu. Mendengar suara Rian beserta keluarganya yang datang membuat Jantung Dina berdegup semakin cepat. Wajahnya terlihat tegang.


Sah!


Kini Rian dan Dina sudah resmi menjadi pasangan suami istri, meskipun pada akhirnya mereka tetap harus menikah kembali setelah anaknya Dina dengan Nando lahir. Rian mengucap ijab kabul dengan lancar dan lantang.


Setelah mereka resmi menjadi pasangan suami istri, barulah Dina keluar dari kamarnya dengan didamping sang Kakak dan juga sang ibu. Kini Dina dan Rian sudah duduk berdampingan untuk menandatangani buku nikah mereka. Setelah itu mereka melakukan prosesi tukar cincin. Rian memakaikan cincin di jari manis sebelah kanan Dina, Dina pun melakukan hal yang sama kepada sang suami.

__ADS_1


"Terima kasih untuk semuanya," ucap Dina sambil mencium tangan sang suami.


"Terima kasih juga, karena kamu mau menerima aku di hidup kamu," sahut Rian sambil mencium kening sang istri, menunjukkan rasa cintanya kepada Dina.


Semua para tamu undangan terlihat bahagia, dan mendoakan agar pernikahan mereka hingga menua. Berbeda halnya dengan Mama Elia, Mama dari Rian. Dirinya masih merasa tak rela, anaknya menikahi Dina.


Kini saatnya mereka melakukan sungkeman kepada kedua orang tua yang berjasa untuk mereka. Suasana terlihat penuh haru. Terlebih Dina, karena pada akhirnya dirinya menikah. Meskipun bukan dengan laki-laki yang selama ini dia anggap mencintai dirinya dan juga telah menanamkan benih di rahimnya.


"Ingat Sayangi Rian, jangan berbuat macam-macam! Jika tidak, saya akan mengambil paksa anak saya," ancam Mama Elia dan Dina hanya menganggukkan kepalanya.


Kekhawatiran Mama Elia akan Dina kembali ke Nando sangat besar. Terlebih saat ini Dina tengah hamil anaknya, yang bisa saja suatu saat nanti akhirnya berpikir untuk kembali dan akhirnya Rian yang akan tersakiti. Jika sampai hal itu terjadi, Dina adalah wanita yang sangat bodoh. Rela membuang laki-laki luar biasa, demi laki-laki breng*sek.


Semua berjalan lancar, walaupun acara diadakan secara sederhana. Hanya sekedar akad nikah dan acara makan bersama. Para tamu undangan yang datang pun tak banyak, tetapi tak menyurutkan kebahagiaan Rian dan Dina. Hari ini juga keluarga Rian akan kembali ke Jakarta. Sedangkan Rian dan Dina akan pulang lusa. Rencananya Rian akan mengajak Dina untuk menginap dulu di Yogya.


Entah mengapa, sebagai seorang ibu, hati Mama Elia merasa sesak. Karena sang anak masih harus menahannya dan bukan menjadi orang yang pertama. Namun, Rian justru terlihat santai menanggapinya.


"Mama tak perlu khawatirkan Rian, Rian kuat kok menahannya dan ini pun memang keinginan Rian," jelas Rian.


Para tamu undangan dan pihak keluarga Rian pun sudah pulang. Rian dan Dina kini sudah berada di kamarnya. Dina terlihat gugup. Hal ini wajar yang dirasakan oleh pengantin baru.


"Tak perlu tegang seperti itu, aku tak akan menerkam kamu," goda Rian.


Sebagai seorang laki-laki dewasa, sungguh tak mudah bagi Rian untuk menahan hasrat kelelakiannya. Namun, Rian akan berusaha untuk komitmen pada ucapannya untuk tidak menggauli Dina sampai mereka resmi menikah lagi.

__ADS_1


"Malam ini, kita menginap dulu di sini. Besok kita baru ke Yogyakarta," ucap Rian dan Dina menganggukkan kepalanya.


Malam pun tiba, sepasang suami istri yang baru saat melakukan ijab kabul kini sudah tidur di ranjang bersama. Sebenarnya Rian sudah menolaknya, dia takut jika nantinya tak mampu menahan syahwatnya. Namun, semua ini adalah permintaan Dina. Dina merasa tak enak, membiarkan Rian tidur di bawah. Karena di kamar Dina hanya ada ranjang. Itupun hanya berukuran 120 centimeter, mereka terpaksa harus tidur berdekatan tetapi saling memunggungi. Rasa kantuk yang menyerang mereka, membuat mereka sudah tertidur pulas.


Jam menunjukkan pukul 2 malam, Dina terbangun dari tidurnya karena menginginkan buang air kecil. Dina bergegas turun dan melangkahkan kakinya keluar, setelah selesai dirinya kembali masuk.


"Aku menjadi merasa bersalah membuat kamu seperti ini. Membawa kamu dalam permasalahan aku. Maafkan aku," gumam Dina. Sebelum dirinya naik kembali ke ranjang, Dina sempat menatap wajah teduh sang suami.


Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestie aku yang tentunya ceritanya seru untuk di baca🙏😍



Author Mama Reni yang karyanya tak perlu di ragukan lagi untuk mampir.





Author Kirana Pramudya, karyanya tak perlu di ragukan lagi


__ADS_1



__ADS_2