
"Maaf, aku tak sengaja," ucap Sania dengan perasaan bersalah.
Seorang laki-laki berusia 30 tahun, menatap lekat Sania dari atas hingga bawah. Dengan berani tangannya mengangkat wajah Sania yang tertunduk malu. Netra mereka saling bertemu sepersekian detik.
"Maaf, aku tak sengaja. Aku terburu-buru, hingga membuat minuman aku tumpah di jas kamu," ucap Sania lagi.
Sania menyadari atas apa yang diperbuat dirinya. Karena ulahnya, membuat laki-laki yang sedang meeting dengan kliennya harus terhenti dan merasa kesal karena merasa di permalukan.
"Kamu tunggu dulu di sana! Urusan kita belum selesai. Setelah urusan saya selesai. Saya baru selesaikan urusan dengan kamu," ucap Reza sinis.
Sania terlihat gelisah, menunggu Reza yang belum juga selesai. Sesekali dirinya melirik ke arah Reza yang masih saja mengobrol.
"Huhft lama sekali. Sepertinya laki-laki itu bukan orang yang sembarangan. Mati aku. Bodoh banget sih kamu Sania, bisa-bisanya kamu menumpahkan minuman itu ke jas orang itu. Semoga noda minuman itu hilang, agar aku tak bermasalah dengannya," Sania bermonolog dengan hatinya.
"Apa sebaiknya aku pergi saja ya? Dari pada nanti urusannya menjadi panjang," ucap Sania dalam hati. Matanya melirik ke arah Reza. Jantungnya berdegup sangat cepat.
Sania berjalan mengendap-endap berniat keluar secara perlahan. Dia yakin kalau Reza tak akan melihatnya, karena Reza sedang sibuk mengobrol dengan kliennya. Sania berhasil keluar dari restoran.
"Akhirnya aku bisa terbebas. Terlepas darinya," gumam Sania yang bergegas untuk segera keluar dari restoran itu.
"Mau kemana kamu? Saya bilang, kamu duduk dulu. Setelah urusan saya selesai, kita baru urus masalah kita. Ternyata kamu malah niat kabur dari saya," ujar Reza ketus. Reza menarik tangan Sania dengan kasar. Membuat tubuh mereka bertemu. Jantung Sania berdegup sangat kencang, tangannya bergetar ketakutan. Ternyata yang dia pikirkan salah.
"Emm, anu Mas. Anu," Sania terlihat gugup, bahkan dirinya tak bisa berkata-kata. Dia terlihat ketakutan, wajahnya terlihat tegang.
"Sudah tak usah anu-anu. Ayo cepat naik ke mobil saya" Reza menarik tangan Sania dan membawanya ke mobil miliknya. Kemudian Reza langsung melajukan mobilnya. Melesat, membelah jalanan Jakarta. Suasana terasa hening seketika.
__ADS_1
Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya. Dirinya terlihat tegang. Bayangan masa lalunya dengan Nando, hadir kembali. Semakin lama Sania terlihat ketakutan. Namun, Sania mencoba menghilangkan perasaan itu.
"Tidak! Jangan lakukan itu padaku! Aku tak bersalah," Sania berteriak seperti orang yang tak waras. Menutup telinganya dengan tangannya. Membuat Reza yang fokus menyetir menjadi terganggu. Hingga akhirnya dia terpaksa menepikan mobilnya.
"Kamu kenapa," ujar Reza menatap lekat wajah Sania.
Bukannya menjawab, Sania justru bertambah histeris. Membuat Reza merasa bingung. Seakan dirinya adalah seorang pemer*kosa. Hingga akhirnya dia membawa Sania dalam dekapannya. Hal yang sulit bagi Reza untuk memeluk Sania. Karena Sania terus memberontak, mencoba melepaskan pelukan Reza.
"Mengapa kamu memperko*sa aku? Apa salahku padamu? Jika cintamu hanya untuk Dina, mengapa kamu tega merusak aku. Hiks ... hiks ... hiks," ucap Sania diiringi isak tangis. Membuat Reza semakin tak mengerti.
"Tenangkan hati kamu, aku tak akan menyakiti hati kamu," ungkap Reza, mencoba menenangkan Sania. Sania sudah terlihat tenang, membuat Reza sudah bisa bernapas lega.
Reza mengajak Sania ke sebuah tempat yang terlihat sepi, tetapi begitu menyenangkan. Sebuah tempat yang sangat indah. Matanya mengarah melihat sekeliling.
Kini mereka berada di sebuah Villa milik Reza. Yang jauh dari hiruk-pikuk kegiatan kota. Suasana terasa tenang.
"Silahkan duduk," ujar Reza.
Reza sosok laki-laki yang dingin. Tak pernah sekali pun dia tersenyum. Reza menyuruh penjaga di Villanya untuk membuatkan minuman untuk dirinya dan juga Sania.
"Minumlah! Tenang saja, aku tak menyampurkan obat apapun ke minuman kamu," ucap Reza, saat melihat keraguan Sania untuk minum minuman yang dibuatkan penjaga Villa. Hingga akhirnya Sania mau minum.
Reza terlihat menatap wajah Sania secara lekat. Membuat Sania terlihat salah tingkah. Merasa malu. Tanpa sadar senyuman terbit di sudut bibir Reza. Setelah sekian lama hilang, kini hadir kembali karena melihat tingkah Sania yang baginya begitu menggemaskan.
"Mengapa aku merasakan hal yang berbeda, saat bertemu dengan kamu. Perasaan apakah ini sebenarnya? Masa iya aku telah jatuh cinta padanya," gumam Reza yang bermonolog dengan hatinya.
__ADS_1
Sama halnya yang di rasa Reza, Sania pun merasakan hal yang sama. Namun, tiba-tiba saja dirinya teringat kalau dirinya sudah tak pera*wan. Untungnya setelah kejadian pemerko*saan hingga sampai saat ini, tak ada tanda-tanda dirinya hamil. Sania berharap, semoga dirinya tak akan pernah hamil anak pria baji*ngan yang merebut paksa mahkotanya.
"Tidak! Aku tak boleh memiliki perasaan kepadanya. Aku sudah kotor, dia tak mungkin mau dengan aku. Sadar Sania, kamu itu tak pantas dengannya. Dia orang kaya, sedangkan kamu orang sederhana. Kalian bagaikan langit dan bumi yang tak akan pernah bersatu sampai kapanpun," Sania bermonolog dengan hatinya.
Setelah saling mengenal, ternyata Reza sosok yang menyenangkan. Reza tak lagi bersikap sinis ataupun dingin kepadanya. Justru dirinya menunjukan perhatiannya.
"Apa kamu setuju kita menginap malam ini di sini? Please temani aku malam ini, agar aku tak kesepian. Tenang saja, aku tak akan menyentuh kamu. Kamu tak perlu takut," ucap Reza dan Sania menganggukkan kepalanya.
Reza menghidupkan api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka. Udara di sana terasa sangat dingin. Mereka duduk berdua di temani bintang-bintang yang gemerlap di langit, menambah keindahan suasana malam hari di sana.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu kepada kamu? Anggaplah aku ini Kakak atau sahabat kamu. Jujur aku merasa iba, saat tadi melihat kamu seperti itu. Apa kamu memiliki sebuah trauma," ujar Reza.
Sania sempat terdiam, mencoba berpikir. Apakah dia harus berkata jujur, atas apa yang terjadi padanya? Namun, dirinya merasa takut jika sampai Reza akan menjauhi dirinya.
"Tak perlu takut! Jika kamu memiliki sebuah masalah, lebih baik kamu ceritakan. Daripada kamu simpan sendiri, dan akhirnya membuat kamu begitu tertekan menghadapi situasi itu sendiri," ungkap Reza.
"Ya sudah, jika kamu tak percaya padaku. Aku tak akan memaksanya. Apa kamu sudah mengantuk," ucap Reza.
Namun, Sania memilih untuk bercerita. Mungkin benar yang dikatakan Reza, bercerita kepada seseorang atas apa yang dia rasakan, bisa membuat dirinya lebih merasa tenang. Dari pada harus menyimpannya sendiri.
Sania mulai menceritakan atas apa yang terjadi kepadanya. Dirinya menceritakan kalau pemer*kosaan yang terjadi padanya, membuat dirinya merasa tertekan.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestie ku😘
__ADS_1