
Malam pertama adalah menjadi malam yang indah bagi pasangan yang baru saja resmi menjadi pasangan suami istri. Dimana malam ini mereka sudah halal untuk memadu kasih dengan orang yang di cinta.
Acara resepsi pernikahan telah selesai di selenggarakan. Para tamu undangan sudah mulai pulang satu persatu. Hanya menyisakan keluarga terdekat. Nisa dan Rian sengaja menunggu sampai acara selesai. Padahal Rian sudah merayu istrinya untuk pulang, dia takut istirahat kecapean. Acara yang dibuat megah, menjadi kenangan tersendiri bagi Reza dan Sania. Semua tamu undangan yang hadir, turut mendoakan agar mereka menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warohmah.
"Acara sudah selesai, kita langsung masuk ke kamar saja yuk! Aku sudah tidak sabar," bisik Reza. Hingga akhirnya Reza mendapatkan cubitan di pinggang dari Sania. Bukannya marah, Reza justru cengengesan. Sania saat itu masih makan dan belum selesai. Setelah selesai acara, pasangan pengantin dan kedua orang tua mereka baru sempat untuk menikmati makanan yang telah disediakan.
"Makan yang banyak, biar kuat nanti," goda Reza. Ternyata dibalik sifat dingin dan menyebalkan, aslinya Reza sosok yang usil dan suka sekali bercanda. Sania yang mampu membuat suaminya menjadi orang yang periang.
"Do'ain gue ya, semoga di lancarkan semuanya. Setelah selesai nifas, gue nikah ulang. Bersyukur lo enggak hamil laki breng*sek itu. Puas banget gue, kalau dia kena karma. Kasihan laki gue, di suruh puasa terus. Alhamdulillah ya kita mendapatkan suami yang baik, yang menerima kita apa adanya," ujar Dina dan Sania mengiyakan. Bahkan Sania hidupnya akan berubah, suaminya bukanlah orang biasa.
Reza sudah terlihat tampak gelisah, karena Sania masih asyik mengobrol dengan Dina. Mereka asyik berdua.
"Punya istri mereka harus banyak stock sabar. Lo lebih beruntung Bro, lebih parah gue. Dari awal nikah sampai sekarang masih di suruh puasa," ungkap Rian membuat Reza melongo.
"Kenapa emang? Lo kan sudah nikahin dia, sudah sah. Lagi pula istri lo lagi hamil, gimana ceritanya," sahut Reza.
Akhirnya tim cowok pun asyik bercerita. Rian menceritakan tentang dirinya dan Dina. Reza merasa salut dengan kesabaran Rian. Dia pun mungkin tak akan mampu melakukannya. Untungnya sang istri tak sampai hamil. Reza dan Rian sama-sama merasa terkejut, saat mengetahui pelakunya adalah orang yang sama.
"Sumpah, kalau gue ketemu dia, pengen gue tonjok dia. Pengecut banget jadi laki, kalau tak ingin tanggung jawab, main amanlah pakai pengaman, jadi naro saham. Sumpah, salut banget gue sama lo. By the way, lo kerja di mana," ujar Reza.
__ADS_1
Obrolan mereka nyambung, mereka sudah bertukar nomor telepon. Sania dan Dina yang melihat dari jauh ikut senang. Untungnya ada Rian, kalau tidak Reza pasti sudah emosi harus menahan hasratnya.
"Ok, Bro. Thanks ya, sudah menemani kegusaran gue. Junior sudah menjerit ini, gue ke kamar dulu. Next kita ketemuan ya. Semoga lo bisa segera merasakan surga dunia," ujar Reza sambil terkekeh dan kini Rian yang terlihat lesu.
"Sabar, Yan! Lo juga bakal mencoba seperti itu," Rian bermonolog dengan hatinya.
Reza langsung menghampiri sang istri. Kedua orang tua Reza telah pamit pulang, sedangkan kedua orang tua Sania telah kembali ke kamarnya. Reza menyewakan satu kamar untuk orang tua Sania. Di tempat resepsi hanya tinggal Reza, Sania Rian, dan Dina. Tempat sudah terlihat sepi.
'Thanks Bro, Din, kalian sudah datang ke pesta pernikahan kami. Maaf banget kita pamit untuk ke kamar," ucap Reza. Dina dan Rina mengiyakan. Dina dan Rian sangat paham. Setelah berpelukan, akhirnya Dina dan Rian pamit pulang.
Kini mereka sudah berada di kamar. Jantung Sania berdegup kencang, dirinya merasa grogi. Padahal dia sudah tahu pasti sang suami langsung meminta haknya.
"Mas, aku mandi duluan ya," ujar Sania menutupi perasaan gugupnya.
"Kita mandi bareng, sahut Reza sambil memainkan alisnya. Membuat wajah Sania memerah menahan perasaan malu.
Tanpa basa basi, Reza langsung menyerangnya. Mencium bibir istrinya dengan penuh nap*su Tangannya mencoba membuka satu persatu kancing kebaya istrinya. Menunjukan tubuh dan payu*dara yang indah. Reza membawa tubuh istrinya tanpa melepas ciuman itu.
Rasanya begitu nikmat, berbeda saat bersama Nando atau para ******. Mereka mandi bersama dibawah guyuran shower. Sania merasa malu. Saat Reza memberikan sabun di sekujur tubuhnya. Menyentuh kedua bukit kembar dan area sensitifnya.
__ADS_1
"Sudah yuk mandinya, kita main di ranjang saja! Junior sudah tak sabar," ucap Reza. Suaranya sudah mulai terdengar berat.
Reza membantu sang istri untuk mengeringkan tubuh dan rambutnya. Sania masih dalam posisi polos. Reza langsung menggendong tubuh istrinya ke ranjang. Reza melakukannya dengan penuh cinta.
Reza langsung menyerang Sania dengan mencium dan menindihnya. Sania tampak pasrah, menikmati sentuhan demi sentuhan yang dilakukan suaminya. Sania tampak risau, dia takut kalau suaminya akan kecewa.
Desa*han demi desa*han mengiringi percintaan mereka, sebagai musik pengiring di kamar pengantin mereka. Reza begitu lihai memuaskan sang istri. Tak salah dirinya mendapatkan julukan Casanova. Dia mampu membuat Sania tak berdaya. Bahkan baru sebentar saja, Sania sudah langsung mendapatkan pelepasan. Membuat Reza tersenyum. Dia justru merasa bahagia, jika seperti ini.
"Enak? Aku ini suami kamu. Aku tak akan menyakiti kamu, justru aku akan memberikan kepuasan untuk kamu. Nikmatilah, Baby. I Love You. Aku akan selalu mencintai kamu," ungkap Reza dan Sania hanya menganggukkan kepalanya, dia tak mampu lagi berkata-kata. Lidahnya terasa kelu, terlebih kini lidah sang suami mulai. menyelusuri leher, hingga sampai di kedua bukit kembar istrinya. Yang masih terasa kencang dan padat.
"Beb, aku juga dong mau di manjakan," ujar Reza sambil mengarahkan miliknya ke mulut istrinya. Dia meminta sang istri memanjakan juniornya.
Sania sempat tersedak, karena harus mengulum milik suaminya yang sudah panjang dan begitu besar. Reza adalah guru terbaiknya, perlahan Sania sudah mulai bisa mengimbanginya.
"Enak, Baby," racau Reza.
Reza semakin merasa tak tahan. Dia meminta istrinya menghentikan. Karena dia ingin mempercepatnya. Kini Sania kembali yang menjerit, tanpa sadar Sania meremas rambut Reza. Seakan dirinya meminta semakin memperdalam.
"Aku mulai sekarang ya Beb. Sayang kalau sper*manya tak di buang di rahim ku. Aku ingin segera memiliki keturunan," ujar Reza dan Sania mengiyakan. Dirinya sudah menerima Reza sebagai miliknya seutuhnya, dan dia sudah siap. Jika suatu saat nanti, akan hadir janin di rahimnya. Dia ingin segera memberikan keturunan, untuk menambah kebahagiaan di pernikahan mereka.
__ADS_1
Reza mulai melebarkan kedua pangkal paha istrinya, dan memasukkan juniornya secara perlahan. Rasanya masih begitu sempit, meskipun bukan dirinya yang pertama. Hingga akhirnya mereka melewati malam panjang dengan bercinta. Mereka baru terhenti, saat Sania sudah tak sanggup lagi. Jam saat itu menunjukkan pukul 2 pagi. Sampai-sampai Sania langsung tidur, dan Reza yang membersihkan milik istrinya.
Reza tersenyum kala melihat istrinya terkulai lemas tak berdaya, akibat perbuatannya. Reza merasa puas, karena dirinya berhasil membuat istrinya tak berdaya.