
"Sayang, bangun! Ayo kita sholat shubuh dulu!" ucap Rian yang mencoba membangunkan Dina dengan mengusap pundak Dina dengan lembut.
Perlahan Dina membuka matanya. Dirinya bersyukur karena memiliki calon suami yang sholeh, yang membawanya ke jalan yang benar. Jalan yang Allah ridhoi. Semoga pernikahan mereka di ridhoi Allah.
"Pelan-pelan turunnya! Inget sekarang di perut kamu ada Baby, segala sesuatunya kamu harus hati-hati. Besok setelah kita pulang, kita ke dokter ya untuk periksa si dede," ujar Rian dan Dina hanya membalas dengan senyuman.
Setelah mandi, sholat mereka bersiap-siap untuk pulang. Mereka memilih sarapan di luar hotel dan Rian berniat ingin membelikan daster dan juga baju batik untuk sang mama, sebagai oleh-oleh dari Yogya.
"Kita makan gudeg lagi?" tanya Rian kepada Dina.
"Aku pengen makan soto ayam. Seger kayanya deh, makan soto ayam bening," sahut Dina.
Mobil mereka masih terparkir di hotel, mereka memilih jalan kaki sekalian berolahraga. Untungnya letak hotelnya tak begitu jauh dari Malioboro. Kini mereka sudah berada di sebuah kedai yang menjual soto ayam.
"Ingat jangan makan terlalu pedas, kasihan si Dede nanti kepedasan di perut kamu," ujar Rian mengingatkan.
Namun, Dina tetap makan yang pedas. Entah mengapa dirinya justru merasa pusing kalau tidak makan yang pedas. Perutnya juga terasa mual, tak nap*su makan. Meskipun demikian, dirinya tetap mengurangi sambal.
"Habis ini, aku minta tolong sama kamu. Tolong kamu pilihkan daster batik dan kemeja batik untuk Mama," ucap Rian meminta tolong kepada Dina, untuk memilihkan oleh-oleh untuk mama."
Kini mereka sudah berada di sebuah toko yang menjual aneka macam batik. Dina tampak terlihat sibuk memilihkan untuk Rian dan juga calon ibu mertuanya. Rian membeli kemeja batik untuk dirinya pakai bekerja.
__ADS_1
"Sekalian kamu beli juga untuk kamu. Dasternya bagus-bagus. Aku suka melihat istri aku berdaster dari pada berpakaian seksi. Kalau pakaian seksi hanya untuk dikamar bersama aku. Nanti kalau hamil kamu sudah besar, pasti kamu akan sering menggunakan daster. Saat menyusui juga. Aku sering perhatikan Kakak aku," ungkap Rian.
"Ya ampun kamu perhatian banget si, Mas. Dalam hal sekecil itu. Aku jadi merasa bersalah banget. Menyesal mengapa tidak dari dulu saja kamu ungkapin perasaan kamu ke aku," sahut Dina. Mata Dina terlihat berkaca-kaca.
"Sudah jangan nangis, malu banyak orang! Nanti dikirain orang aku habis ngapain kamu. Yang lalu biarlah berlalu. Mungkin sudah suratan takdir Allah. Kita baru didekatkan saat semua terjadi. Bagi aku yang terpenting kehidupan selanjutnya, semoga kelak kamu bisa menjadi istri yang baik untuk aku. Aku akan menerima kamu apa adanya. Sudah yuk, jangan rusak momen bahagia kita," ujar Rian. Dina menghapus air mata yang sempat turun membasahi wajahnya. Rian memang bisa menenangkan dirinya. Dibalik penderitaan yang dia rasakan, tersimpan rencana Allah yang begitu indah untuknya.
Dina mulai mencari daster dan kemeja batik untuk calon mertuanya. Bagi Rian, pilihan Dina sangat pas untuk sang mama. Rian yakin kalau sang mama akan menyukainya.
"Lucu banget ya baju batik anak kecil. Anak kita nanti cewek apa cowok ya," ucap Rian sambil menunjukkan satu dress batik untuk anak perempuan dan kemeja batik untuk anak laki-laki. Dina hanya tersenyum getir. Mungkin mereka akan lebih bahagia, jika anak yang dikandung dirinya saat ini adalah hasil buah cinta mereka.
"Kalau aku ingin sekali anak ini seorang laki-laki," sahut Dina terdengar lirih. Dina tentu saja memiliki alasan tersendiri dengan keinginannya memiliki anak laki-laki. Agar bisa melindungi adik perempuannya nanti.
Semua oleh-oleh sudah di beli, dan mereka kini bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Seperti biasa, Rian akan mengatur posisi membuat Dina merasa nyaman di dalam perjalanan. Dengan mengucap Bismillah, mereka memulai perjalanan.
"Iya. Tapi aku masih ingin menikmati perjalanan. Belum mengantuk," sahut Dina.
Untungnya selama perjalanan Dina tak terlihat mabuk, dia terlihat segar seperti tak sedang hamil. Dirinya hanya sesekali saja mengalami mengidam. Justru Nando 'lah yang mengalami seperti orang hamil.
Bahkan saat ini dirinya sampai masuk rumah sakit. Pihak dokter pun merasa bingung dengan penyakit yang di derita Nando. Karena menurut hasil pemeriksaan medis, kondisi Nando semuanya normal. Namun, Nando seperti mengalami masalah lambung yang kronis.
"Huhft, baru nikah sudah harus merasakan seperti ini," gerutu Mira.
__ADS_1
Nando melihat Mira seakan tak ikhlas mengurusnya. Dimana rasa cinta yang Mira katakan dulu kepadanya. Jika Mira mencintai dirinya, dia tak akan berkata demikian. Memang sih, ini semua kesalahan dirinya. Ini bukanlah hal pertama yang terjadi di pernikahan dengan Mira. Ini hal ketiga, Nando masuk rumah sakit dan hingga sampai saat ini masih belum jelas penyakit yang diderita Nando.
"Jadi, kamu tidak ikhlas menjaga suami kamu. Aku baru seperti ini saja, kamu sudah protes. Apalagi kalau aku cacat dan memiliki penyakit. Pasti kamu sudah ninggalin aku," ujar cerocos Nando sambil memberi tatapan tajam ke arah Mira.
"Iyalah, ngapain juga mau hidup sama pria penyakitan dan cacat. Lebih baik menjadi janda, dari pada harus mengurus orang penyakitan," sahut Mira ketus. Membuat Nando merasa geram.
Nando menjadi teringat akan sikap Dina kepadanya. Selama ini Dina selalu bersikap lemah lembut kepadanya. Tak sekalipun dirinya membantah ucapan Nando, bahkan saat dirinya ingin merenggut mahkota Dina. Dina dan Mira sosok wanita yang sangat berbeda.
Suasana terasa hening. Mira lebih memilih memainkan ponselnya, dan Nando hanya memperhatikan istrinya. Percuma dirinya menegur, yang ada nantinya mereka akan bertengkar.
"Yang, tolong ambilin aku minum dong," ujar Nando kepada Mira.
"Kamu itu lihat tidak sih, kalau aku ini sedang sibuk. Kamu kan bisa ambil sendiri," gerutu Mira yang masih terus fokus dengan ponselnya.
"Kalau aku bisa, aku juga tidak akan meminta tolong. Lagi pula memangnya kamu itu sibuk apa? Sibuk tiktokan? Sibuk main sosial media?" sindir Nando.
Mira bangkit dari tempat duduknya dan menghentak-hentakkan kakinya. Dia melayani suaminya dengan terpaksa.
"Makanya jaga kondisi. Biar tidak menyusahkan orang terus," gerutu Mira.
"Kamu itu aneh ya? Memangnya siapa sih yang mau sakit? Tak akan ada yang mau," sahut Nando ketus.
__ADS_1
Tiba-tiba saja orang tua Nando datang, membuka pintu ruang rawat inap anaknya. Wajah Mira terlihat di tekuk, dan dirinya menghela napas panjang. Bertambah lagi kepusingannya. Dulu sebelum menikah, dirinya justru dekat dengan ibu mertuanya. Ketika menikah, dirinya justru merasa kesal karena sang mertua ternyata terlalu banyak mengatur di pernikahan mereka.