Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Bertemu


__ADS_3

"Mulai sekarang, kamu lupakan wanita miskin itu! Sampai kapanpun Mama tak sudi memiliki menantu miskin. Pokoknya Mama tak mau tahu, buat Mira segera hamil. Masa pengantin baru itu, masa yang paling indah. Selalu ingin berduaan dan berakhir di ranjang, lah kamu kerjaannya bertengkar terus. Asal kamu tahu hubungan suami istri itu, bisa membuat hubungan kalian menjadi harmonis. Coba besok kamu sama Mira periksa ke dokter, agar kalian tahu kondisi kesuburan kalian," cerocos Mama Eliza dan Nando mengiyakan dari pada sang Mama terus saja mengoceh. Tentu saja Nando bersikap santai, karena dirinya memang tak bermasalah. Buktinya Dina hamil.


"Ya sudah aku pulang dulu, ingin memberitahu hal ini kepada Mira," pamit Nando dan Mama Eliza mengiyakan. Mereka berencana akan ke dokter besok malam, setelah Nando pulang dari bekerja. Mama Eliza merasa tak sabar ingin segera mengetahui hasilnya.


Nando baru saja sampai di rumah. Sebenarnya dia masih belum ingin memiliki anak bersama Mira, dirinya masih belum yakin dengan nasib pernikahannya dengan Mira. Selain itu, entah mengapa akhir-akhir ini dirinya malas bercinta dengan Mira. Pikirannya terus teringat pada sosok wanita cantik yang dia pernah sakiti. Nando masih ingin bertemu Dina, tetapi takdir belum mempertemukan dirinya dengan Dina.


"Mir, Mama bilang dia ingin segera memiliki cucu. Besok setelah aku pulang kerja, dia mengajak kita ke dokter kandungan untuk memeriksakan kesuburan aku sama kamu," ujar Nando. Mira mengernyitkan keningnya, kala mendengar suaminya tak menyebut panggilan sayang kepadanya.


"Ya penting itu, kamu melakukannya padaku. Percuma saja jika kamu tak menyentuh aku, sampai kapan pun aku tak akan pernah hamil. Lagi pula aku yakin kalau rahim aku tak bermasalah," sahut Mira.


Nando sempat terdiam, memang benar apa yang dikatakan istrinya. Nando pun tak bermasalah, karena Dina pun saat ini sedang hamil anaknya. Hingga akhirnya Nando memutuskan untuk menyentuh istrinya.


"Baiklah, kita lakukan mulai malam ini. Aku mandi dulu, bersiap-siaplah," ujar Nando membuat Mira tersenyum. Akhirnya ladangnya tak akan lagi merasa kekeringan.


Tentu saja Mira menyambutnya dengan senang hati. Mira terlihat sudah mengenakan lingerie, dan dia juga sedikit merias wajahnya seperti seorang wanita penggoda. Dia sudah menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.


"Huhft, berat sekali aku melupakan kamu Din. Tanpa kamu harus bergaya seperti Mira, aku sudah nap*su dengan kamu. Sayangnya, tubuh kamu kini sudah menjadi milik suami kamu," ucap Nando lirih.


"Semoga kali ini, kita berhasil," ujar Nando

__ADS_1


Kali ini Mira yang lebih mendominasi memimpin permainan, dia tak ingin sang suami pergi meninggalkan dirinya. Dia tak akan rela, jika suaminya kembali kepada Dina. Susah payah dirinya berusaha mendapatkan Nando.


Suasana semakin memanas, mereka bermain dengan bermacam-macam gaya. Keduanya dipenuhi rasa gairah. Desa*han demi desa*han mengiringi permainan mereka, sebagai alunan yang sangat indah. Kini keduanya sudah terkulai lemas, tubuh Mira terasa remuk akibat ulah suaminya. Namun, dirinya tersenyum puas. Saat melihat suaminya yang tertidur di dalam pelukannya.


"I Love You, semoga buah cinta kita segera hadir untuk menguatkan pernikahan kita," ucap Mira dan Nando hanya menganggukkan kepalanya. Tubuhnya sudah terasa lemas, sudah tak mampu lagi berkata-kata. Perlahan mata mereka meredup, hingga akhirnya mereka berdua tertidur pulas.


***


"Sayang, hari ini kamu jadwal periksa kan?" tanya Rian dan Dina mengiyakan.


"Baiklah, hari ini aku akan pulang cepat. Nanti kita ke rumah sakit bareng ya! Kamu tunggu aku, jangan pergi sendiri ya," ujar Rian kepada Dina.


Inilah rutinitas Dina selama menjadi istri Rian, setiap pagi dirinya berusaha menyempatkan waktu untuk memasak untuk mereka sarapan dan bekal sang suami makan siang di kantor. Dina mengantarkan sang suami sampai depan pintu rumah.


Suaminya memang luar biasa perhatian kepadanya. Tak ada alasan untuknya, untuk tidak mencintainya. Rian lebih memilih bekerja menggunakan sepeda motornya, agar dirinya bisa lebih cepat sampai di rumah. Semenjak menikah, dirinya pulang lebih cepat. Karena selalu ada yang dia rindukan di rumah.


Rian selalu menggunakan waktu bekerjanya dengan sangat efesien, agar dirinya dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Setelah menikah, kehidupannya lebih teratur. Rian lebih memilih makan makanan yang dibawakan istrinya, selain menghemat dia pun merasa senang karena dibuat dengan perasaan cinta dari istrinya.


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Rian sudah bersiap-siap untuk pulang. Sebelum pulang, dia izin dulu kepada Om-nya untuk pulang cepat. Kebetulan Om Andi berada di kantor, jadi Rian lebih tenang meninggalkan kantor.

__ADS_1


"Salut banget aku sama keteguhan hati Rian, tak ada laki-laki seperti dia yang rela menikahi wanita yang hamil anak laki-laki lain. Bahkan aku pun tak akan mau, jika aku berada di posisinya. Lebih baik aku mencari wanita lain. Ini dengan mulianya dia mengurus anak dalam kandungan Dina, yang bukan anaknya. Jika Dina sampai menyakiti hatinya, aku tak akan terima," ucap Om Andi dalam hati.


Rian baru saja sampai di rumah, dan langsung di sambut oleh Dina. Dina sudah terlihat cantik, dan bahkan bagi Rian wajah istrinya semakin cantik.


"Mas, mau makan dulu tidak?" ujar Dina kepada sang suami.


"Nanti saja, takutnya tak keburu. Aku mandi dulu ya, setelah itu kita langsung berangkat ke rumah sakit. Kita sholat dan makan di dekat rumah sakit saja," ujar Rian dan Dina menganggukkan kepalanya.


"Kita makan dulu ya, takutnya dokternya antri dan kamu sama dede kelaparan," ucap Rian. Padahal yang dia 'lah yang belum makan sejak pulang kerja, bisa-bisanya dia justru memikirkan Dina dan anaknya.


Setelah makan, mereka langsung sholat di musholla yang berada di restoran itu. Barulah setelah itu mereka ke rumah sakit. Dina sudah mendaftar lebih dulu lewat telepon, hanya tinggal registrasi ulang. Rian menyuruh Dina untuk duduk, dan dia yang melakukan registrasi ulang.


"Kasihan banget wanita murahan itu, periksa ke dokter sendiri. Pasti tak ada yang mau bertanggung jawab. Laki-laki yang itu pun pasti pergi meninggalkan dirinya," ucap Mira dalam hati. Hatinya merasa senang melihat Dina menderita, terlebih Rian pernah bertengkar dengan Mira dulu.


"Makasih ya Sayang, kamu masih mau mempertahankan anak kita. Aku memang Ayah yang tak berguna," ucap Nando lirih.


Hatinya terasa sakit, saat melihat Nando datang bersama Mira dan Ibunya Nando. Seharusnya mereka mengantarkan dirinya, karena saat itu dirinya tengah hamil anak Nando. Namun, Nando tak memperjuangkan dirinya sama sekali di depan mereka. Nando hanya diam, mungkin jika tak ada Ibu dan Mira, dirinya baru menghampiri Dina.


Pemikiran buruk tentang penderitaan Dina, musnah sudah. Rian datang menghampiri Dina. Dirinya sempat terkejut melihat ketiga orang yang sangat dia benci. Rian sengaja memanasi Nando, dengan bersikap mesra dengan Dina di depan mereka. Tentu saja membuat Nando terbakar api cemburu.

__ADS_1


"Oh jadi ini Ayah dari anak kamu. Selamat deh akhirnya kamu tahu siapa Ayah dari anak kamu. Jika tidak, pasti kamu terus mengejar anak saya untuk menjadi Ayah dari bayi yang kamu kandung," sindir Mama Eliza membuat Rian naik pitam.


"Sekarang Ibu bisa bicara seperti ini, silahkan saja! Namun, saya pastikan suatu saat nanti saya yakin kalau Anda akan menyesal. Asal Anda tahu, saya adalah penyelamat bayi yang tak berdosa. Oh rupanya anak yang Anda banggakan belum berani untuk bicara jujur pada Anda," sindir Rian sinis membuat suasana menjadi memanas.


__ADS_2