Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Menikmati Keindahan Cinta


__ADS_3

Rian dan Dina terlihat sudah rapih. Malam ini mereka akan menikmati keindahan cinta di Malioboro. Seperti biasa, mereka lebih memilih berjalan kaki, mengitari kota Yogyakarta. Dina menatap ke arah Rian, saat Rian meraih tangannya dan menggandengnya.


"Maaf."


"Tak apa kok, Mas. Justru aku tersanjung kamu melakukan ini kepadaku. Aku pun boleh ya Mas menyentuh kamu. Orang pacaran saja ciuman kok Mas, malahan aku nakal dulu bukan sekedar pacaran," jelas Dina. Entah mengapa justru Rian saat itu yang jantungnya berdegup kencang. Dia takut kalau Dina akan menyerang dirinya. Rian takut kalau nantinya dia kan khilaf.


Rasanya tak adil, jika Rian harus menunggu terlalu lama untuk menyentuh wanita yang telah dia nikahi. Membuat Dina semakin bersalah. Entah mengapa dia pun ingin mendapatkan sentuhan lembut dari laki-laki yang sudah menjadi suaminya.


Kini mereka sedang menikmati makan malam di sebuah restoran lesehan. Meskipun mereka belum melakukan ritual pengantin baru, tak menjadikan alasan mereka tak terlihat romantis. Rian selalu bersikap manis, mengagungkan seorang wanita.


"Menyesal deh aku beneran nikah sama kamu. Menyesal kenapa tidak dari dulu saja bisa nikah sama kamu, jika bisa seperti ini. Bisa terus menerus memandang wajah cantik kamu. I Love You," ungkap Rian sambil terkekeh. Hingga akhirnya mendapatkan cubitan mesra dari sang istri. Wajah Dina yang berawal terlihat sendu, kini berubah bahagia.


"Ih, ngeselin banget sih. Aku kira kamu beneran menyesal nikah sama aku. Aku juga menyesal. Kenapa tidak dari dulu saja, kamu menjadi suami aku bukan hanya jadi atasan aku yang sangat menyebalkan," goda Din balik.


"Menyebalkan itu sangat tipis loh sama terpesona. Masa sih aku atasan yang menyebalkan? Bukan atasan yang paling mempesona. Diam-diam kamu mengagumi aku kan? Hayo ngaku," goda Rian yang langsung memeluk Dina. Netra mereka saling bertemu. Tanpa sadar Rian memeluk Dina, tetapi hal itu tak lama. Saat tersadar, Rian langsung melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Namun, Rian lebih memilih menutupi dari sang istri, kalau sekretaris Om-nya pernah mendatangi dirinya dan mengungkapkan perasaannya kepadanya. Dia tak ingin merusak momen bahagia dirinya dengan sang istri. Terlebih Rian pun tak ingin ambil pusing, tentang hal itu.


Suaminya itu memang penuh kharisma, menggoda iman kaum hawa. Dina merasa beruntung bisa menjadi pemenang memiliki Rian. Rasa cintanya pada Nando, semakin memudar seiringnya waktu. Semua itu karena kesalahan Nando, yang telah menghancurkan hidupnya.


Kini mereka sudah merasa tak canggung berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka juga banyak mengabadikan kebersamaan mereka dalam sebuah foto. Mereka banyak melakukan foto berdua, Rian juga banyak mengabadikan foto Dina dengan berbagai gaya. Mereka tampak bahagia. Menikmati Keindahan Cinta.


Setelah puas berkeliling memutari Malioboro, menaiki andong berkeliling kota Yogyakarta, dan juga membeli beberapa oleh-oleh, mereka memutuskan untuk pulang ke hotel. Rian tak ingin Dina terlalu kecapean. Kini mereka sudah berada di kamar hotel. Dina langsung masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian memakai daster.


"Meskipun kamu hanya memakai daster, istri. aku tetap terlihat cantik," ungkap Rian. Membuat wajah Dina berubah merah dalam seketika. Merasa malu mendapatkan pujian dari suaminya. Pujian adalah suatu hal yang bisa menyenangkan hati sang istri. Hal ini akan selalu Rian lakukan. Agar sang istri akan merasa kalau pasangannya mencintai dirinya.


Rian pun kini hanya memakai celana boxer dan juga kaos oblong berwarna putih. Rian terlihat seksi dan menggoda.Membuat Dina menelan salivanya. Tubuh Rian terlihat atletis.


Rian terlihat berpura-pura memejamkan matanya, mencoba menghindari syahwatnya. Dia memilih untuk segera tidur, terlebih Dina tadi sempat bicara ke arah yang menjurus. Membuat Rian takut merasa khilaf, hingga akhirnya meminta melakukan hubungan istri dengan Dina. Meminta haknya sebagai seorang suami.


"Mas."

__ADS_1


"Emmm." Rian hanya menjawab emmm, tetapi dirinya enggan membuka matanya.


Tiba-tiba saja Dina bangkit dan menyerang Rian. Mencium bibir Rian dengan penuh kelembutan. Membuat Rian terperanjat kaget dan akhirnya terpaksa membuka matanya. Jika di mana-mana pihak wanita yang merasa terkejut mendapatkan serangan mendadak. Ini justru Rian. Rian masih diam terpaku.


"Kamu tak suka ya aku cium? Merasa jijik ya sama aku, karena aku sudah melakukannya dengan laki-laki lain. Makanya kamu tak suka kan aku cium. Ngaku saja," umpat Dina membuat Rian merasa serba salah.


"Bukan gitu sayang, sebagai seorang laki-laki aku justru harusnya merasa senang. Entah mengapa aku merasa takut akan dosa. Karena pernikahan kita saat ini hanya sebuah status. Aku masih haram menyentuh kamu, walaupun sebenarnya aku pun sudah sangat menginginkan. Terlebih untuk aku yang seorang bujangan, yang bertahun-tahun menahan hasratnya. Berarti aku sebagai laki-laki tak konsekwen dong. Tak bisa memegang janji aku," ungkap Rian.


Namun, Dina tetap saja tak mengerti dan justru menangis karena salah paham. Hingga akhirnya setelah Rian menghela napas panjang, dirinya mulai mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir istrinya. Netra mereka saling bertemu.


"Baiklah, aku akan menuruti permintaan kamu. Karena aku tak ingin membuat kamu bersedih. Semoga Allah tak menghukum aku. Mengerti posisi kita," sahut Rian.


Wajah mereka saling mendekat dan entah siapa yang memulainya. Kini mereka sudah berciuman. Meskipun Rian masih terasa kaku, tetapi Din menikmatinya. Perlahan demi perlahan ciuman mereka semakin mesra. Dina lah yang mengajarkan Rian. Namun, lambat laun Rian semakin pintar. Berawal saling berhadapan, kini berguling Rian sudah berada di atas tubuh Dina.


"Cukup sampai sini saja ya, aku takut khilaf tak mampu menahan nap*su aku. Maaf. Aku harap kamu bisa mengerti," ucap Rian yang langsung bangkit dari atas tubuh istrinya.

__ADS_1


Dina mengerti, paling tidak dirinya sudah tahu kalau suaminya bukan tak ingin menyentuhnya. Kini dirinya sudah merasa tenang. Dina terlihat sudah memejamkan matanya. Sedangkan Rian masih enggan menutup mata. Rian tersenyum sambil memegangi bibirnya. Bibir manis istrinya masih terasa. Ini adalah ciuman pertama baginya.


"Selamat tidur Sayang, semoga mimpi yang indah," ucap Rian sambil menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut.


__ADS_2