
"Ya Sayang, katakanlah apa yang ingin kamu katakan kepadaku. Apa kamu ingin kita nikah sekarang. Baiklah aku dan orang tua aku akan berangkat sekarang," goda Rian sambil terkekeh.
"Aish, bukan itu. Kamu itu Mas. Aku lagi bicara serius. Kamu malah ngelucu," gerutu Dina.
"Jangan ngambek dong, nanti cantiknya nambah loh. Biar kamu tak terlalu serius. Ingat kandungan kamu, wanita hamil harus rileks tak boleh tegang," sahut Rian.
Mama Elia terkejut mendengar penuturan sang anak yang menyatakan kalau saat ini Dina sedang hamil. Tentu saja hal itu membuat Mama Elia naik pitam dan langsung menampar wajah sang anak. Rian terkejut mendapatkan serangan dadakan dari sang mama.
"Sayang, maaf. Nanti kita lanjut lagi ya ngobrolnya. Ada Mama ni. Assalamu'alaikum," ucap Rian mengakhiri percakapan dengan Dina melalui panggilan telepon. Bahkan Rian tak menunggu sampai Dina menjawab Walaikumsalam.
Rian terlihat tenang menghadapi sang mama. Karena dirinya memang tak merasa salah. Mungkin sudah waktunya untuk dia berkata jujur kepada kedua orang tuanya. Allah memiliki rencana lain, mengungkap rahasia lebih awal. Namun, Rian akan berusaha keras untuk tetap mempertahankan Dina. Rian akan berjuang agar kedua orang tuanya tetap merestui pernikahan dirinya dengan Dina. Mama Elia menarik paksa anaknya dan membawa sang anak ke kamar hotelnya.
Brug!
Mama Elia membuka pintu kamar hotel dengan kasar. Membuat jantung Papa Emir dan Rian tersentak kaget. Jika sudah seperti itu, mereka sudah mengetahui kalau Mama Elia sedang mode marah. Mereka sudah mengenal sifat Mama Elia.
"Mama kenapa sih? Bikin Papa jantungan saja," ujar Papa Emir yang masih mengelus dadanya.
"Bukan hanya Papa, Mama juga akan jantungan. Sekarang saja napas Mama terasa sesak, jantung Mama berdetak kencang. Semua ini karena anak laki-laki kesayangan Papa ini," sindir Mama Elia membuat Papa Emir mengerutkan keningnya.
"Sejak awal Mama juga sudah curiga, kenapa kamu minta nikah seperti orang kesetanan seperti itu. Kamu itu benar-benar bikin malu orang tua. Dari dulu di suruh nikah selalu nolak, giliran sekarang berulah menghamili anak orang. Kamu telah mencoreng nama baik keluarga kamu. Mama kecewa sama kamu," cerocos Mama Elia.
Ucapan sang istri membuat Papa Emir semakin tak mengerti. Siapa yang hamil? Dina? Siapa yang menghamili Dina? Rian anaknya kah? Semua penuh tanda tanya. Namun, berbeda halnya dengan Mama Elia yang justru terlihat sangat emosi. Papa Emir justru lebih terlihat tenang. Dia yakin semua bisa diselesaikan secara baik-baik.
"Ada apa sebenarnya? Siapa yang hamil? Memangnya kamu yang menghamili wanita ini? Lantas pernikahan kamu sama Dina gimana?" tanya Papa Emir yang kini memandang wajah anaknya dengan serius.
"Dina yang hamil Papa dan Rian yang menghamili Dina. Makanya dia ingin cepat-cepat nikahi Dina. Wong itu anak sudah DP duluan," cerocos Mama Elia lagi.
Papa Emir memberikan sang anak untuk menjelaskan semuanya, dan meminta sang istri untuk diam. Papa Emir menunggu penjelasan dari Rian. Dia ingin mendengar langsung kejujuran Rian.
Berbeda halnya dengan Rian yang saat ini sedang sedang beradu argumen dengan sang Mama. Dina justru terlihat was-was. Dia merasa takut kalau ucapan Rian tadi di dengar oleh sang Mama. Karena Dina sempat mendengar Rian menyebut kata Mama.
"Kamu kenapa Din, muka kamu terlihat tegang banget," ucap Ibu Lina membuat Dina kaget dengan kedatangan sang Ibu yang datang secara tiba-tiba.
Dina langsung menceritakan kekhawatiran Dina akan terbongkarnya rahasia tentang kehamilannya dengan Mama Elia. Ibu Lina mencoba menenangkannya sang anak. Menyerahkan semuanya kepada Allah. Jika Dina memang berjodoh dengan Rian, semua pasti akan di permudah langkah mereka. Namun, jika mereka tak berjodoh semua tak akan terwujud. Meskipun mereka berusaha untuk memperjuangkannya.
__ADS_1
"Sebelumnya Rian ingin meminta maaf kepada Mama dan Papa. Jika keputusan yang Rian ambil ini adalah keputusan yang salah. Awalnya Rian juga sempat berniat ingin membicarakan hal ini kepada Mama dan Papa, tetapi akhirnya Rian mengurungkan niat untuk menundanya dan merahasiakan tentang kehamilan Dina. Berhubung Mama sudah tahu semuanya, di sini Rian akan menjelaskannya semuanya," ungkap Rian secara dewasa.
Rian belum selesai bicara, Mama Elia sudah terlihat histeris menangis. Dia tak menyangka kalau sang anak akan seperti ini. Padahal mereka tak pernah melarang sang anak untuk segera menikah, dia khawatir jika sang anak tak mampu menahan syah*watnya. Mama Elia terus memukuli sang anak meluapkan kemarahannya. Dirinya merasa kecewa.
"Ma, tolong dengarkan dulu ucapan Rian hingga selesai!Rian belum selesai menjelaskannya. Rian harap mama sabar dulu, agar Mama tak salah paham," ujar Rian.
Sebelum berbicara Rian menarik napasnya panjang. Semoga keputusan yang dia ambil tak salah. Dia berharap kedua orang tuanya bisa mengerti keputusan yang dia ambil. Kini kedua orang tuanya menatap dirinya dengan tatapan tajam.
"Dina bukan hamil anak Rian. Bukan Rian pelakunya, Rian tak pernah berzina dengan Dina," ungkap Rian membuat kedua orang tuanya bertambah penuh tanda tanya. Lelucon seperti apalagi yang anaknya ucapkan. Mama Elia terlihat memegang dadanya yang terasa sakit. Namun, dirinya berusaha untuk kuat. Tubuhnya terasa lemas, hingga akhirnya dia memilih untuk duduk.
"Dina hamil anak mantan pacarnya yang tak bertanggung jawab. Laki-laki baji*ngan itu meninggalkan Dina di saat telah mengambil keperawa*nan Dina dan menikah dengan wanita lain," ungkap Rian.
"Terus, kalau kamu sudah tahu Dina saat ini sedang hamil anak laki-laki lain. Kenapa kamu masih ngotot ingin menikahi wanita itu? Seperti tak ada wanita lagi, mau saja menikah dengan wanita bekas laki-laki lain. Kamu itu memiliki segalanya, kamu bisa mendapatkan yang lebih segalanya dari Dina. Ya sudah kita batalkan saja pernikahan ini," cerocos Mama Elia. Inilah yang Rian takutkan, dia takut orang tuanya akan menolak keputusan dirinya untuk menikahi Dina.
"Rian cinta Ma sama Dina. Rian sudah siap mau menerima Dina apa adanya. Sekalipun saat ini Dina tengah mengandung anak laki-laki yang tak bertanggung jawab," ucap Rian tegas.
"Kamu itu sudah tak waras ya? Mau saja di manfaatkan orang. Otak itu di pakai untuk berpikir yang benar. Orang kalau sudah cinta, hati dan pikirannya menjadi tertutup," sindir Mama Elia dan Rian hanya menanggapinya dengan senyuman.
Mungkinkah memang benar apa yang dikatakan Sang Mama, kalau dirinya saat ini seperti orang yang tak waras. Bertahan meskipun dirinya harus menunggu lama bisa memiliki Dina seutuhnya dan tak bisa menjadi laki-laki yang pertama.
Hai para readersku, hari ini aku mau merekomendasikan karya yang keren banget. Mampir yuk sambil menunggu aku up, 😍
Judul Karya : Nothing is Perfect
Penulis : Penikmat_Senja
Judul Karya : Pernikahan Karena Dendam
__ADS_1
Penulis : Ulfa
Bhuk...
"Akhhhh" pekik Syakira merasa bokong nya sedikit sakit.
"Apa yang kamu lakukan, Mas? Apa salah ku? Kenapa sikap kamu berubah menjadi kasar seperti ini?" tanya Syakira dengan melirih, air matanya mulai keluar tanpa bisa dia cegah.
"Mana Mas Alif yang baik dan penyayang yang ku kenal? Kenapa sekarang kamu begitu kejam, Mas? Apa salah ku?" lanjut Sya lagi bertanya.
Alif melipat lengan bajunya hingga ke siku, dia berjalan duduk di sofa, dengan begitu santai, tapi memberikan tatapan tajam pada Syakira.
"Apa yang dulu harus ku jawab? Pertanyaan mu begitu banyak!" dengan begitu sombong Alif berbicara pada Syakira, seolah wanita itu bukan siapa-siapa nya dia.
"Hem ... Oke, aku akan menjawab dari pertanyaan mu yang pertama,"
"Aku melakukan ini karena aku mau, dan kamu tidak salah, tapi ini semua karna kesalahan orang tua mu, dan Alif yang kamu kenal dulu, itu hanya topeng. Karna dia ingin mendapatkan apa yang dia inginkan!" lanjut Alif, dia bangkit dan mendekati Syakira.
Deg...
"Dengarkan aku Fitta Dania Syakira Wilmar, aku memang telah lama mengincar mu, bahkan pada saat kamu lahir, aku menjaga mu dari kejauhan. Dan saat kamu dewasa aku di bantu oleh kakak brengs* k mu, tidak ada lelaki yang berani mendekati mu, karna mereka memberikan persyaratan gila hanya untuk bersanding dengan mu,"
"Dan dengan segala cara akhirnya aku bisa menikahi wanita yang paling berharga dalam keluarga Wilmar, dan itu membuat rencana ku akan berhasil,"
"Ap--apa maksud mu? Kenapa kamu begitu kejam, apa salah kedua orang tua ku?" tanya Syakira lagi, air matanya kembali menetes, hatinya sakit bagaikan tertusuk beribu jarum.
Alif melihat sekilas pada Syakira, kemudian memberikan senyum sinis pada wanita yang beberapa hari lalu dia nikahi.
"Dengarkan ini baik-baik, Syakira! Aku menikahi kamu karna ingin membalaskan dendam pada Papa yang kamu banggakan itu atas kematian orang tua ku, aku tidak pernah mencintai mu, sama sekali tidak. Aku menikahi mu hanya untuk membuat Davvien merasakan apa yang aku rasakan saat anak nya yang paling dia sayangi tersiksa bahkan kehilangan nyawanya dengan secara tragis!"
Duar.....
__ADS_1