
"Gimana ini? Kalau Ibu mertua aku tahu, aku sulit memberikan keturunan, pasti dia langsung menendang aku dan menyuruh anaknya untuk menceraikan aku. Tidak! Hal ini tak boleh terjadi, aku tak mau," ujar Mira bermonolog dengan hatinya.
Sepanjang perjalanan keluar dari rumah sakit, dia seperti yang tak waras. Wajahnya terlihat kusut tak karuan, tak seperti saat dirinya akan berangkat ke rumah sakit. Harapannya hancur berkeping-keping. Pernikahannya dengan Nando berada di ujung tanduk.
"Aku harus kemana? Kalau aku pulang, suamiku pasti akan langsung menanyakan hasilnya. Jika aku pulang ke rumah orang tua aku, ibu mertua aku pasti menghampiri aku. Apa aku harus pergi dari rumah? Namun, ini bukanlah pilihan yang terbaik," ucap Mira lirih.
Mira terlihat stres. Dia tak tahu harus seperti apa. Namun, dirinya juga tak mungkin berkata jujur pada suami dan ibu mertuanya. Tamat sudah riwayatnya. Air mata mengiringi Mira melangkahkan kakinya tanpa arah. Dia tak rela kalau dirinya harus berpisah dengan suaminya.
"Aku ada ide. Kenapa aku baru terpikir sekarang? Bodoh kamu Mira. Otak sampai stres, tak bisa berpikir," gumam Mira.
Mira memutuskan untuk menyembunyikan hasil pemeriksaan ini dari Ibu mertua dan suaminya. Dia akan membuat hasil pemeriksaan palsu, yang menyatakan kalau dirinya baik-baik saja, tak bermasalah kandungannya. Dia masih yakin kalau nantinya dia akan hamil, meskipun prosesnya membutuhkan waktu yang cukup lama.
Dirinya sudah tersenyum bahagia dan hatinya sudah merasa lega, saat melihat surat yang dia buat sudah selesai. Hasilnya sesuai dengan ekspektasinya.
"Kenapa belum pulang juga ini orang? Kemana dulu dia," gerutu Nando yang baru saja pulang dan tak melihat sang istri berada di rumah.
Tak ada lagi rasa khawatir yang dia rasakan saat ini. Dia sudah merasa tenang, dan percaya diri untuk pulang ke rumah bertemu suaminya. Mira memilih menutupi penyakit yang dia derita dari suami dan mertuanya.
"Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang? Memangnya sebegitu antrinya mengambil hasil," ujar Nando saat Mira melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Emm, anu. Eh, maksud aku iya. Pas ambil hasilnya sih tak lama, tetapi lama di dokternya. Antri. Kebetulan juga tadi aku ketemu teman kuliah aku, dia periksa di dokter itu juga. Jadi aku sempat ngobrol sama dia," sahut Mira. Dia terlihat sedikit gugup.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Nando menyelidik. Yang kini menatap istrinya sangat serius.
Mira mengumpat kebodohannya. Karena merasa gugup, dia sampai asal bicara tak berpikir dulu. Padahal dia dan Nando adalah teman kuliah. Suasana terlihat tegang, Nando mengira kalau istrinya pasti sudah membuat gosip tentang kehamilan Dina. Entah mengapa dirinya merasa tak suka, jika ada yang menjelekkan Dina.
"Si Tini, anak fakultas lain. Kamu si tak akan kenal. Orang di kampus yang kamu tahu hanya si Dina. Sudah ah aku mau mandi, badan aku lengket," ucap Mira menghindar dari suaminya. Memang benar apa yang dikatakan Mira. Nando itu dulu cinta mati banget sama Dina. Di otaknya hanya Dina, Hari-harinya selalu bersama Dina, dan dia tak peduli dengan wanita manapun yang menyukai dirinya. Nando dan Dina adalah pasangan populer di kampus. Mereka bintang di kampus, karena memiliki wajah tampan dan cantik. Nantinya pasti tak aneh kalau anak Dina akan memiliki paras yang cantik atau tampan, karena hal itu mewarisi dari kedua orang tuanya.
Mira baru saja selesai mandi, dia sengaja menggoda suaminya dengan menggunakan lingerie dengan warna merah mencolok.
"Kenapa kamu berpakaian seperti itu? Malam ini aku lagi tak ada gai*rah. Aku lelah, ingin tidur cepat," ujar Nando. Bahkan dirinya cuek saja, tak terlalu peduli dengan hasil pemeriksaan.
Mira naik ke ranjang mengikuti suaminya yang sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Dengan percaya diri dia memberikan hasil dari pemeriksaan yang mereka lakukan kemarin.
Mira menjelaskan kepada sang suami, kalau kesuburan mereka tak ada masalah. Mungkin intensitas bercinta mereka yang harus ditingkatkan. Mira masih merasa yakin, kalau dirinya akan hamil.
"Ya sudah, aku mau tidur. Besok-besok saja ya," ujar Nando cuek. Benar saja, tak membutuhkan waktu lama dia sudah tertidur.
"Huuft, bisa-bisanya kamu malah tidur. Apa aku sebegitu tak menarik kah di mata kamu? Bahkan kamu memilih untuk tidur, padahal aku sudah berusaha berpenampilan sangat seksi untuk menarik perhatian kamu. Kamu itu memang benar-benar tampan, beruntung aku bisa mendapatkan kamu," gumam Mira dalam hati.
Bukannya dia ikut tidur, Mira justru asyik melihat suaminya yang tertidur. Dia yakin semuanya akan berubah. Mira diam-diam ingin mengobati penyakitnya, agar dirinya bisa hamil dan suaminya tak akan meninggalkan dirinya.
"Aku akan terus berusaha agar kamu tak pernah berpaling dari aku. Kamu hanya menjadi milik aku," ucap Mira.
__ADS_1
Sama halnya dengan Mira yang masih enggan tertidur. Dina pun sampai saat ini masih membuka matanya. Dirinya terlihat gelisah, dia takut kalau suaminya nantinya akan berpaling darinya. Meninggalkan dirinya. Meskipun Rian telah menjelaskan kepada Dina, Dina masih saja di hantui rasa curiga.
Rian terbangun dari tidurnya dan melihat sang istri yang sedang termenung. Hingga akhirnya dia terpaksa turun dari ranjang, untuk menghampiri sang istri yang berada di sofa.
"Kamu kenapa? mengapa kamu belum tidur? Apa ada yang kamu pikirkan. Wanita hamil tak baik seperti itu, nanti bayi dalam kandungan kamu ikut stres. Wanita hamil itu harus selalu bahagia, agar bayi dalam kandungan si Ibu, ikut bahagia," ucap Rian.
"Aku tak memikirkan apa pun. Hanya saja aku belum bisa tidur. Iya sebentar lagi aku tidur," sahut Dina bohong. Padahal saat ini dirinya sedang diliputi perasaan cemburu.
Akhirnya, Dina naik ke ranjang untuk tidur. Kini dirinya tidur sambil memeluk tubuh suaminya. Perlahan mata dia mulai meredup, hingga akhirnya dia tertidur pulas. Rian terpaksa tidur sambil memeluk istrinya, karena Dina merengek tak bisa tidur. Dina mengira kalau suaminya tak mencintai dirinya.
"Untungnya kamu sudah tertidur, maaf aku harus melepaskan pelukan. Aku takut nantinya aku tak bisa mengontrol diri," ujar Rian.
Kini giliran Rian yang terlihat gelisah, karena melihat paha mulus istrinya. Sejak tadi dirinya menelan salivanya. Sayangnya dia belum bisa menyentuh istrinya.
"Tahan Rian, kamu harus bisa," ucap Rian menyemangati diriya sendiri. Hingga akhirnya dia memilih untuk tidur di sofa.
Dina terbangun di tengah malam, karena hendak membuang air kecil. Dirinya merasa kaget, saat melihat sang suami yang tertidur di sofa. Dia merasa kasihan dengan suaminya itu
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestiku😍
__ADS_1