Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Bertemu dengan kedua orang tua


__ADS_3

"Aku pulang dulu ya, Mas. Assalamualaikum." Pamit Dina.


"Hati-hati di jalan ya! Maaf aku tidak bisa nganterin kamu pulang, kerjaan aku numpuk banget," ucap Rian dan Dina menganggukkan kepalanya mengerti. Rian mengantarkan Dina hanya sampai depan pintu lobby kantor.


Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Dina tersenyum. Mengingat ucapan Rian tadi. Membuat dirinya merasa terpesona.


Nando mencoba menghubungi Dina berkali-kali, tetapi tak ada jawaban dari Dina. Karena Dina saat ini sedang dalam perjalanan pulang ke kosan. Sebenarnya letak kosan Dina tak jauh dari kantor. Hanya saja dirinya harus memutar terlebih dahulu untuk menuju ke kosannya. Membuat terkesan sedikit lama.


"Kemana sih ini orang? Di telepon dari tadi tidak di angkat," gerutu Nando.


Hari ini Nando sudah di perbolehkan pulang. Dirinya ingin menemui Dina di kosannya. Untuk membicarakan masalah sakit yang dia alami saat ini. Sepertinya Nando sudah mulai merasa menyesal pisah dengan Dina.


"Nanti kamu pulang duluan saja! Aku mau ada urusan dulu, pulang belakangan," ujar Nando kepada Mira.


"Mau kemana? Mau nemuin si Dina?" sindir Mira.


"Itu bukan urusan kamu," sahut Nando ketus.


"Jelas donk, ini menjadi urusan aku. Harusnya kamu itu sadar, kamu itu nikahnya sama aku. Dina itu hanya masa lalu kamu," cerocos Mira.


Nando memilih tak meladeni ucapan Mira. Dia lebih memilih untuk diam. Nando berencana akan langsung ke kosan Dina.


"Pokoknya, aku tidak akan mengizinkan kamu menemui dia. Apapun alasannya," ujar Mira membuat Nando merasa geram. Mau tak mau dirinya menemui Dina di jam kerja besok. Karena mulai besok Mira akan mulai masuk kerja.


Dina baru saja sampai di kosannya. Dia langsung mencari keberadaan ponselnya yang berdering terus menerus. Ternyata Nando yang menghubungi dirinya.

__ADS_1


"Mau ngapain lagi si ini orang. Ganggu ketenangan aku saja," gerutu Dina.


Dina memilih tak merespon panggilan dari Nando. Tak semudah itu, bagi Dina untuk melupakan apa yang dilakukan Nando kepadanya. Membuangnya seperti sampah yang tak berguna lagi.


"Kamu sudah sampai? Miss you," tanya Rian di pesan chat.


"Kamu itu selalu bersikap romantis, Mas. Membuat aku selalu merasa menjadi orang yang spesial," ucap Dina saat membaca pesan chat dari Rian.


Baru saja ingin membalas, Rian justru malah melakukan panggilan video. Membuat Dina gembira. Entah mengapa dirinya merasa senang melihat wajah Rian. Berbeda dengan Rian dan Dina yang sedang melakukan panggilan video dengan mesra. Nando justru sedang merasa uring-uringan karena saat ini Dina tak bisa dihubungi. Karena sedang berada di panggilan lain.


"Pasti ini orang lagi pacaran sama pacar barunya. Kami kok bisa-bisanya si, Din. Sudah tau lagi hamil anak aku, eh mau nikah sama laki-laki lain. Apa jangan-jangan memang anak itu anak bos kamu. Kamu main sama dia dibelakang aku. Kan hal seperti ini kerap terjadi di sebuah kantor. Menjalin hubungan dengan bosnya di kantor," ujar Nando bermonolog sendiri.


Rian baru saja pulang dari kantor. Pikirannya menjadi bercabang saat ini. Dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan melanjutkannya besok. Karena dia harus segera menemui kedua orang tuanya.


Kini Rian baru saja sampai di rumah kedua orang tuanya. Setelah memarkirkan mobilnya, Rian masuk ke dalam rumahnya. Saat itu kedua orang tuanya, sedang duduk santai berdua sambil menikmati tayangan televisi. Mereka masih terlihat mesra, meskipun sudah lanjut usia.


"Apa ini?" tanya Mama Elia saat menerima paper bag dari anaknya.


"Itu oleh-oleh dari Dina. Semoga Mama cocok," ujar Rian berbohong untuk mengambil hati sang mama.


Mama Elia merasa cocok dengan pilihan Dina untuknya. Bahkan Mama Elia memuji Dina, merasa senang memiliki calon menantu seperti Dina.


"Terus kapan kita akan melamar Dina ke kedua orang tuanya?" tanya Mama Elia.


"Aku sih pengennya langsung nikah saja, Ma. Untuk resepsinya nanti saja, tahun depan. Yang penting sah dulu saja," ungkap Rian.

__ADS_1


Papa Emir ikut bicara. Dirinya setuju saja. Dia menyerahkan semuanya kepada Rian sang anak. Namun, dia menginginkan agar pernikahan anak laki-lakinya di selenggarakan secara mewah.


"Kenapa kamu tidak langsung resepsi saja sih. Teman Mama punya usaha Wedding organizer. Mama yakin pasti dia bisa bantu biar proses persiapan resepsi untuk kamu dipercepat. Paling juga tiga bulan," ucap Mama Elia.


"Gimana perut Dina kalau aku harus menunda tiga bulan. Tidak! Pernikahan aku dan Dina harus segera," gumam Rian dalam hati.


Setelah sempat terjadi perdebatan, akhirnya kedua orang tua Rian menuruti keinginan anaknya untuk segera menikah. Sesuai permintaan Rian, Rian dan Dina hanya akan melakukan akad nikah. Rencananya minggu ini mereka akan berangkat ke Yogya untuk menemui kedua orang tua Dina, melamarnya.


"Anak Mama sudah tidak sabar sepertinya, ingin menikmati indahnya surga dunia," goda Mama Elia dan Rian hanya tersenyum getir. Demi cinta dia rela melakukan banyak hal untuk Dina.


"Usia aku kan sudah cukup matang, Mah. Nanti kelamaan malah busuk. Aku ingin secepatnya memiliki keturunan. Untuk penerus aku nanti," ujar Rian.


Rian benar-benar berjuang untuk segera menikah dengan Dina. Untungnya kedua orang tuanya akhirnya setuju. Rian dan Dina akan segera menikah.


"Makasih ya Ma, Pa. Sudah merestui langkah Rian untuk berumah tangga. Semoga dipermudah semuanya," ucap Rian sambil mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


Sebenarnya, di lubuk hati Rian yang paling dalam. Dirinya merasa sangat berdosa karena telah membohongi kedua orang tuanya. Dia takut kalau kedua orang tuanya tak akan merestui hubungan dirinya dengan Dina, jika mereka mengetahui kalau saat ini Dina sedang mengandung anak laki-laki lain.


Setelah berbincang dengan kedua orang tuanya, Rian pamit untuk pulang. Rian memilih untuk pulang ke rumahnya. Meskipun dirinya masih merasa kesepian, tinggal sendiri di rumah. Hanya ada ART yang mengurus rumahnya.


"Untuk semua perlengkapan barang bawaan. Suruh Dina saja yang memilih semua yang dia suka," ujar Mama Elia saat Rian pamit pulang.


Rian memilih memberitahu hal itu lewat panggilan telepon, karena tubuhnya sudah merasa lelah. Hanya mendengar suaranya saja, hati terasa riang gembira. Lusa, Rian dan Dina sudah berjanji akan membeli semua perlengkapan barang bawaan saat lamaran. Besok pagi Dina akan menghubungi orang tuanya di kampung, mengenai lamaran Rian.


"Berarti aku harus segera pulang kampung dong, kalau acaranya minggu ini?" tanya Dina.

__ADS_1


"Iya. Karena aku ingin secepatnya menikahi kamu. Besok aku akan pesan tiket pesawat untuk keberangkatan kamu tiga hari lagi. Lebih baik kamu naik pesawat, aku tidak tega kalau kamu naik kereta atau bis," ujar Rian dan Dina menganggukkan kepalanya.


__ADS_2