
"Kamu mau kemana?" tanya Mira kepada sang suami.
Semenjak dirinya mengetahui penyakit istrinya, Nando tak sekalipun menyentuh Mira. Dia tak ingin beresiko seperti waktu itu lagi. Nando berniat ingin kembali dengan Dina. Keinginannya untuk kembali bersama Dina, semakin besar. Nando sudah siap membongkar rahasia yang selama ini dia simpan rapat.
"Mau cari cewek yang bisa diajak tidur 'lah. Kamu kan sudah sakit, tak bisa memuaskan aku lagi. Aku ingin menikah lagi," sahut Nando dengan santai, tak memikirkan perasaan wanita yang masih resmi menjadi istrinya.
"Tega kamu sama aku, setelah apa yang terjadi dengan aku. Kamu mau meninggalkan aku begitu saja. Bukannya memotivasi aku untuk terus semangat," ujar Mira diiringi isak tangis.
"Sudah tak perlu acting. Aku tak butuh tangis kamu. Kamu rasakan saja sendiri, jangan bawa-bawa aku ikut menderita. Harusnya kamu itu sadar diri dong! Kamu itu sudah penyakitan, tak bisa memuaskan aku di ranjang, dan tak bisa memberikan aku anak. Apa lagi yang aku harapkan dari kamu? Aku ini seorang laki-laki dan usia aku masih muda, gai*rah aku masih tinggi. Aku butuh pelampiasan hasrat," cerocos Nando.
"Tapi aku tak ingin pisah sama kamu dan aku tak ingin dimadu," sahut Mira.
Nando tak peduli dengan ucapan Mira, dirinya lebih memilih meninggalkan Mira begitu saja. Kini Nando sedang dalam perjalanan menuju kosan Sania, dia berniat meminta bantuan kepada Sania agar bisa kembali dengan Dina.
"Mau apa lo kesini?" tanya Sania sinis.
Nando memaksa untuk masuk ke dalam. Dia ingin bicara dengan Sania di dalam. Membuat Sania merasa geram.
"San, lo tau tidak sekarang Dina tinggal dimana? Gue mau menemui dia, gue ingin balik sama dia. Please temui gue sama Dina! Memangnya lo tak kasihan dengan anak gue nanti kalau lahir," cerocos Nando dengan tak tahu malunya.
"Sekarang lo baru ngakuin. Dulu lo kemana di saat Dina butuh lo? Bahkan dengan teganya lo menuduh dia, kalau dia selingkuh sama laki-laki lain dan anak yang dikandungnya saat ini adalah anak laki-laki lain. Lo sudah terlambat sekarang. Dina sudah bahagia sama Pak Rian," sahut Sania.
__ADS_1
Nando mengancam kalau Sania tak mau menyatukan dirinya dengan Dina, dia akan memper*kosa dan membuat Sania hancur. Nando yakin kalau Sania akan takut padanya.
"Lo benar-benar gila ya. Apa hubungannya coba gue sama Dina. Sekali lo berani menyentuh gue, gue bisa melaporkan lo ke polisi. Lo pikir gue takut sama lo? Lo salah besar! Lebih baik sekarang lo pergi dari kosan gue, sebelum gue teriak," ujar Sania ketus.
Nando benar-benar gila, apa yang dia ucapkan bukan hanya sebuah ucapan. Nando langsung menggendong tubuh Sania dan membawanya ke ranjang dan merobek paksa baju Sania. Bibir Sania dibungkam oleh bibirnya, sehingga dirinya tak bisa berteriak. Hal ini tentu saja membuat Sania merasa ketakutan. Dia mencoba melawan, tetapi tenaga Nando lebih kuat. Nando berhasil mencium bibir Sania dengan penuh gai*rah.
"Jika lo tak bisa membuat Dina kembali sama gue. Maka lo yang akan menggantikannya. Ternyata lo cantik juga ya, tubuh lo ternyata lebih seksi dari Dina," ucap Nando.
Nando membuktikannya. Dia tak peduli saat itu Sania terisak tangis, dia meminta Nando untuk menghentikannya. Nando benar-benar seperti orang yang tak waras.
"Sudah jangan nangis, nikmati saja! Lo tak perlu takut, gue hanya ingin buat lo enak. Gue yakin lo juga pasti menginginkannya. Sorry kalau gue menyakiti hati lo, gue butuh pelampiasan. Kita bisa menjadi partner ranjang. Mira tak bisa memuaskan gue," ujar Nando.
"Please, Nan. Jangan lakukan ini pada gue! Gue akan berusaha untuk mempertemukan lo sama Dina," ujar Sania memohon.
"Dasar baji"*ngan! Lepasin!" Sania masih berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman Nando.
"Aaaaaahhh, sakit," teriak Sania. Air mata Sania mengalir semakin dekat, mahkotanya telah direnggut paksa Nando. Darah mengalir dari area sensitifnya. Nando benar-benar gila.
"Maaf jika aku menyakiti kamu. Mulai sekarang kamu milik aku. Aku akan belajar mencintai kamu," ujar Nando lembut. Sania tak memiliki kekuatan lagi, bahkan dirinya sampai jatuh pingsan.
Nando benar-benar tak memiliki hati, dirinya tetap menggauli Sania dalam keadaan pingsan. Dia tak peduli Sania tak meresponnya, baginya yang terpenting dia bisa mencapai pelepasan. Nando baru menghentikan permainan, saat dirinya sudah terpuaskan.
__ADS_1
"San, Sania. Bangun!"
Nando mencoba membangunkan Sania. Namun sebelumnya dia memfoto Sania terlebih dahulu. Sania menangis histeris, sedangkan Nando justru terlihat santai. Dia justru asyik merokok. Sania terus menangis, hatinya merasa sangat hancur.
"Maafkan aku. Aku janji tak akan meninggalkan kamu. Aku akan bertanggung jawab," ujar Nando sambil memeluk tubuh Sania. Mencoba menenangkan Sania. Sania memilih melepaskan pelukan Nando.
"Tapi lo tak cinta sama gue, lo itu cinta sama Dina. Gue hanya dijadikan pelampiasan lo doang. Lagi pula lo sekarang status lo masih menikah, gue tak mau menjadi pelakor. Kalau lo memang serius sama gue, lo ceraikan istri lo," ujar Sania dan Nando menganggukkan kepalanya.
"Mulai sekarang kamu kekasih aku, jangan pernah berhubungan dengan laki-laki lain. Jika sampai aku tahu, aku tak akan segan-segan menyebarkan foto ini," ancam Nando.
Setelah misinya telah selesai dirinya pamit pulang, tak lupa dirinya mengecup kening Sania dengan lembut. Nando berusaha bersikap manis, agar Sania mau menjadi kekasihnya lebih tepatnya pemuas ranjang. Tentu saja dirinya tak akan tahan untuk menahan hasratnya.
Nando baru saja sampai di rumah, dan melihat Mira yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Lebih baik kamu menyerah saja, dari pada kamu merasa tersiksa seperti ini. Mungkin memang kita tercipta untuk tidak bersama," ujar Nando sombong.
"Tidak! Apapun yang terjadi, aku tak ingin pisah sama kamu," teriak Mira.
Lagi-lagi Nando tak mempedulikan ucapannya. Dia menganggap ucapan Mira seperti angin lalu. Tentu saja Nando tak akan mau terus menerus seperti ini, cepat atau lambat dia akan menceraikan Mira. Nando berniat merebut Dina dari Rian. Jika cara baik-baik tak bisa, Nando akan menggunakan cara licik untuk mendapatkan Dina.
"Hiks ... hiks ... hiks, mengapa hidup aku menderita seperti ini? Apa salah aku? Apa aku tak pernah bisa merasakan bahagia," ujar Mira yang masih terisak tangis. Dadanya terasa sesak, hatinya terasa amat sakit.
__ADS_1
Sambil menunggu up, mampir yuk ke karya temanku 😍