
"Hati-hati ya di sana! Ingat, jaga kandungan kamu baik-baik! Meskipun aku tak ada di samping kamu, kamu harus selalu ingat kalau aku selalu mencintai kamu," ujar Rian dan Dina menganggukkan kepala sambil tersenyum. Calon suaminya itu selalu saja bersikap manis.
"Kamu sudah kabari Bapak kan, untuk menjemput kamu di Bandara? Nanti kamu meminta bantuan saja, jangan angkat barang terlalu berat," ucap Rian lagi
Dina sudah mengabarkan kepada orang tuanya, kalau hari ini dia akan berangkat dari Jakarta pukul 9 pagi dengan menggunakan pesawat dan meminta agar sang bapak menjemput dirinya di Yogyakarta International Airport ( YIA )Perjalanan dari Kota Yogya ke daerah Dina masih harus memakan waktu sekitar 2,5 jam.
"Aku pamit ya," ujar Dina dan Rian menganggukkan kepalanya.
Untuk sementara waktu dirinya terpaksa harus berpisah dan tak bertemu. Rencananya Rian beserta keluarganya agar menggunakan mobil ke Yogyakarta. Karena mereka harus membawa barang-barang seserahan. Rian bersyukur, ternyata dirinya tak harus menunggu satu minggu untuk menikah dengan Dina. Acara akad nikah akan dilangsungkan setelah tiga hari acara lamaran.
Rian melepaskan kepergian sang calon istri. Melambaikan tangannya sampai sang istri sudah tak terlihat. Kemudian Rian langsung pergi menuju kantor. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum dirinya cuti menikah.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu dari luar, dan Rian mempersilahkan untuk masuk. Ternyata seorang wanita cantik berusia 25 tahun dengan berpenampilan seksi. Membuat kaum Adam akan menatap dirinya. Sayangnya tidak dengan Rian. Sejak dulu dirinya tak pernah tertarik dengan wanita itu.
"Permisi, Pak. Maaf, jika kehadiran saya mengganggu Bapak. Kedatangan Saya ingin menyampaikan permohonan dan pertanyaan kepada Bapak. Apakah boleh, Pak," ujar Audy. Sekretaris sang Om. Jika dengan pegawainya, Rian akan bersikap dingin dan ucapannya terkesan kaki. Sama halnya dengan Dina dulu.
"Silahkan saja, ucapkan saja apa yang ingin kamu bicarakan," sahut Rian. Dia pikir kalau Audi akan membahas masalah pekerjaan. Rian selalu berusaha untuk bersikap profesional kepada semua karyawan di sana. Karena di perusahaan itu sering kali dirinya harus menggantikan posisi Om-nya yang tak datang ke kantor.
"Aku mencintai Bapak. Aku harap Bapak mau menerima cinta Bapak. Saya dengar Bapak akan menikahi Dina? Saya lebih segalanya Pak dari Dina. Saya akan selalu membahagiakan Bapak," ungkap Audy. Membuat Rian melongo.
Tentu saja Rian langsung menolaknya. Pernikahan bukanlah sebuah mainan. Sebelum dirinya mengambil keputusan untuk menikahi Dina, Rian lebih dulu memantapkan hatinya. Terlebih hal ini bukanlah suatu hal yang mudah baginya. Namun, keputusannya sudah bulat. Dirinya sudah menetapkan hatinya untuk Dina.
"Maaf, jika itu yang kamu inginkan. Saya tak bisa. Saya sudah memiliki pilihan hidup, dan dalam urusan percintaan saya tak pernah main-main. Lebih baik kamu mencari laki-laki lain. Karena saya sudah menetapkan hati saya, hanya untuk Dina. Jika sudah tak ada lagi yang ingin kamu bicarakan, kamu bisa keluar dari ruangan ini! Karena saya masih banyak pekerjaan. Saya harus segera menyelesaikan pekerjaan ini," ujar Rian tegas.
__ADS_1
Dengan perasaan malu, Audy keluar dari ruangan Rian. Rian terlihat menghela napas panjang sambil menyenderkan kepalanya. Matanya terlihat terpejam, dan tangannya memijat keningnya yang tiba-tiba saja terasa sakit.
"Huhft, ada saja godaan. Untungnya aku setia, jika tidak pasti aku sudah tergoda," gerutu Rian.
Rian meraih ponselnya dan melihat wajah Dina yang kini menjadi wallpaper di ponselnya. Senyum manis Dina mampu menghipnotis dirinya. Jika dia tak mencintai Dina, mungkin dirinya akan lebih memilih untuk berpaling.
"Panjang umur," ujar Rian sambil tersenyum.
Saat melihat di layar ponselnya tertulis nama My Wife di layar ponselnya. Tentu saja Rian segera mengangkat panggilan dari Dina. Dia yakin jika Allah sudah menakdirkan dirinya dengan Dina. Bahkan saat hatinya tak karuan, Dina secara tiba-tiba menghubungi dirinya. Mengingatkan kalau dirinya adalah milik Dina.
"Kamu sudah sampai?" tanya Rian.
Dina baru saja sampai di Yogyakarta dan sedang menunggu Bapaknya menjemputnya. Dia berniat mengabari Rian.
Rian selalu saja bersikap manis dan perhatian kepada Dina. Membuat Dina merasa begitu berarti untuk Rian. Pernikahan mereka akan dilakukan enam hari lagi. Tiga hari lagi akan diadakan lamaran terlebih dahulu. Lusa Rian beserta keluarganya akan berangkat ke Yogyakarta. Rencananya Om Andi beserta sang istri akan hadir di acara pernikahan Rian. Om Andi akan menjadi saksi di pernikahan mereka.
"Ya sudah salam ya sama Ibu dan Bapak. Lusa aku berangkat ke Yogya bersama Kakak dan kedua orang tua aku. Semoga semuanya di permudah. Kalau uang yang aku transfer kurang, ngomong saja ya," ujar Rian.
Semua persiapan sudah selesai di persiapkan. Hanya menunggu waktu acara lamaran akan diadakan besok. Rian dan keluarganya sudah sampai di Yogya untuk beristirahat, mempersiapkan untuk acara besok. Rencananya acara lamaran akan diadakan jam 10 pagi. Acara diadakan secara sederhana, hanya acara silahturahmi dan makan siang bersama.
"Empat hari lagi, aku akan resmi menjadi istri laki-laki lain. Dimana janji manis yang kamu ucapkan dulu? Kamu bilang, kamu akan menikahi aku. Kamu benar-benar laki-laki breng*sek yang pernah akun temui di dunia ini. Kebersamaan kita selama ini, benar-benar tak ada artinya untuk kamu. Dengan mudahnya kamu meninggalkan aku dan menikahi Mira. Kamu bilang, kamu tak mencintai dirinya dan akan menolak perjodohan itu. Namun, nyatanya apa?" ucap Dina lirih.
Hatinya masih merasa sakit, jika mengingat hal itu. Kini dirinya sudah memantapkan hatinya untuk melangkah ke depan bersama Rian calon suaminya. Dina sudah berdandan cantik. Dengan balutan kebaya berwarna biru senada dengan batik Rian yang berwarna biru. Mereka memang sengaja membeli secara couple.
"Aku harus terus tersenyum, melupakan kesedihan aku," gumam Dina dalam hati.
__ADS_1
Sama halnya dengan Dina, Rian pun sudah terlihat tampan dengan kemeja batik yang nantinya senada dengan Dina. Pihak keluarga Rian pun sudah selesai bersiap-siap. Mereka akan segera berangkat. Dengan mengucapkan Bismillah, Rian melangkahkan kakinya. Berharap keputusannya untuk menikahi Dina tak salah.
Rombongan keluarga Rian sudah sampai di depan rumah Dina. Hal ini menjadi pusat perhatian tetangga-tetangga yang tinggal di sekitar rumah Dina. Untungnya keluarga Rian tak mempermasalahkan kondisi keluarga Dina yang terlihat sederhana tak sepadan dengan keluarganya. Yang terpenting bagi mereka, kebahagiaan sang anak yang terpenting. Dina terlihat tegang, merasa takut kalau nantinya akan mengalami mual saat acara. Dirinya terus berdoa agar dilancarkan semuanya. Dina sempat mengajak bicara kepada buah hati di dalam kandungnya.
Sambil menunggu up mampir yuk di karya temanku yang tak kalah menarik.
Judul : Petaka Rumah Tangga ku
Napen : Aisy Arbia
Judul Karya : Elegi Cinta Diandra
Napen : Bubu. id
__ADS_1