Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Kepergian Nando untuk selamanya


__ADS_3

"Nan, bangun! Makan dulu ya," ujar sang Mama yang mencoba membangunkan sang anak dari tidurnya. Sang Mama sudah membawa satu piring nasi beserta sayur capcay dan juga ayam goreng.


Hanya sang Mama yang selalu telaten mengurusnya. Memang benar istilah kata kasih sayang seorang ibu, sepanjang masa. Di saat semua orang di dunia menjauh, kasih sayang seorang ibu tak pernah redup.


"Nan, ayo makan dulu! Mama sudah memasakkan makanan kesukaan kamu," ucap sang Mama. Mama Eliza mencoba membangunkan anaknya.


Mama Eliza menjerit, saat mendapati sang anak yang sudah tak bernyawa. Air matanya menetes satu persatu. Dia tak mampu lagi membendung perasaannya lagi.


"Kenapa Ma teriak-teriak seperti itu?" tanya sang suami.


"Nando Pa. Nando meninggal. Hiks ... hiks ... hiks," ucap Mama Eliza diiringi isak tangis. Mama Eliza terlihat sedang memeluk tubuh anaknya yang sudah terbujur kaku.

__ADS_1


"Sudah Ma, ikhlaskan saja! Mungkin sudah umurnya Nando. Dari pada dia terus tersiksa dengan penyakitnya," ucap Papa-nya Nando.


Mama Eliza langsung menghubungi Dina untuk memberitahu tentang kematian Nando. Dina merasa terkejut mendengarnya, padahal baru kemarin dia bertemu dengan Nando. Ucapan Nando kemarin kepada Nisa dan Rian, seolah pertanda dirinya akan pergi meninggalkan dunia untuk selamanya.


"Innalilahi Wainnailaihi Roji'un. Turut berduka cita ya Bu, semoga dilapangkan kuburnya dan tenang di alam sana," ucap Dina.


"Maafkan Nando ya, Din! Agar dia bisa tenang di alam sana," pinta Mama-nya Nando.


Dina sudah memaafkan semua kesalahan yang di perbuat Nando. Dia tak memiliki dendam, justru dirinya bersyukur. Bisa mendapatkan suami yang luar biasa baiknya. Kehidupan rumah tangganya selalu harmonis, dan hidup berkecukupan.


Dina langsung menghubungi suaminya, untuk memberitahu kalau Nando meninggal. Dina berencana untuk datang bersama Al, untuk melayat sang papa yang sudah pergi meninggalkan dunia untuk selamanya.

__ADS_1


"Tunggu ya! Aku akan segera pulang," pinta Rian. Dia tak ingin membiarkan istrinya pergi sendiri.


Dina juga menghubungi ibunya di kampung, untuk memberi tahu meninggalnya Nando. Ibunya Dina justru tak merasa aneh, karena wajah Al memilik wajah yang sangat mirip dengan Nando bapaknya. Biasanya hal ini menyebabkan salah satunya akan kalah, pergi lebih dulu meninggalkan dunia.


"Din, maaf ya aku tidak bisa ikut ke sana. Soalnya kembar lagi kurang enak badan, aku tidak tega meninggalkan kembar sama baby sister-nya. Aku sudah memaafkannya kok Din, salam saja untuk orang tuanya. Turut berduka cita," ujar Sania.


Dina, Al, dan Rian baru saja sampai di rumah Nando. Mereka masuk ke dalam rumah untuk bertemu kedua orang tua Nando. Semua orang yang berada di sana, merasa kaget dan bertanya-tanya saat melihat wajah Al yang sangat mirip dengan sang papa.


Setau mereka, Nando belum memiliki anak. Saat menikah dengan Mira dulu. Namun, saat mereka melihat kedekatan Mama-nya Nando dengan Al. Mereka yakin kalau Al adalah anak Nando.


"Makasih ya Din, kamu sama Al sudah mau datang melayat Nando. Tolong maafkan Nando ya Din," ujar sang mama.

__ADS_1


"Sania dan Dina sudah memaafkan Nando. Dia juga titip salam untuk Ibu dan Bapak. Maaf dia tak bisa ke sini, karena kedua anaknya sedang tak enak badan. Sania tidak tega meninggalkan kedua anaknya dengan baby sister-nya," ungkap Dina.


Al tampak terdiam menatap sang ayah yang sudah menutup mata, dan akan pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


__ADS_2