
Jedar!
"Maksud kamu apa?" tanya Mama Eliza sinis. Menutupi perasaan malunya. Karena mereka kini menjadi pusat perhatian Ibu-ibu hamil yang akan periksa kandungan.
Bagaimana wajah Nando saat itu? Dia terlihat tegang, ketakutan. Dia benar-benar seorang pecundang, tak berani memperjuangkan Dina di depan Ibu dan juga Mira.
"Tanya saja langsung sama anak Anda! Kalau dia seorang yang Gentle dia pasti berani mengungkap apa yang sebenarnya, jika dia seorang pecundang pastinya dia akan memilih untuk diam menutupi perbuatannya," sindir Rian membuat wajah Nando memerah.
Rian menarik tangan Dina, untuk mengajak Dina duduk. Rian merasa tak tega melihat Dina yang hanya diam terpaku. Untungnya dia datang tepat waktu dan menemani Dina periksa. Jika tidak, dia yakin ketiga manusia yang tak memiliki perasaan itu, pasti akan merempuk Dina.
"Ibu Dina," panggil sang perawat yang bertugas di poli obygyn.
"Ayo Sayang, kita masuk. Kini giliran kamu," ucap Rian mesra.
Nyesek? Sakit? Tentu saja tak ada gunanya. Nando hanya bisa menatap wajah wanita yang dia cintai berjalan sambil bergandengan tangan dengan laki-laki lain.
"Nando, apa benar yang dikatakan laki-laki itu? Kalau anak yang dikandung wanita miskin itu, anak kamu," tanya Mama Eliza menyelidik, sambil menatap wajah anaknya dengan serius.
"Jadi Mama lebih percaya sama laki-laki itu, dari pada anak sendiri? Kalau Dina memang hamil anak Nando, pastinya Nando yang saat ini berada di dalam menemani Dina memeriksa kandungannya," sahut Nando ketus, menutupi perasaannya saat ini. Padahal sebenarnya dia ingin sekali menemani Dina memeriksakan kandungannya.
"Maafkan aku Din, aku memang laki-laki pecundang yang tak memperjuangkan kamu dan anak kita," ucap Nando dalam hati.
__ADS_1
Dokter mulai melakukan pemeriksaan terhadap Dina. Rian tersenyum kala mengingat bayi dalam kandungan Dina dalam keadaan sehat. Meskipun anak itu bukan anak kandungnya, Rian tetap ikut bahagia mendengarnya.
Nando hanya bisa menatap wajah Dina, saat Dina keluar dari ruangan periksa. Ingin rasanya dia menghampiri Dina, dan menanyakan kondisi anaknya. Namun, dirinya saat itu hanya bisa diam. Lidahnya terasa kelu, tak mampu berkata-kata. Padahal sejak kemarin dirinya ingin sekali bertemu dengan Dina.
"Ibu Mira."
Kini giliran Mira yang dipanggil ke ruangan periksa. Mira langsung melakukan serangkaian tes kesuburan. Sebenarnya Nando tak ingin melakukan hal ini, karena untuk memeriksakan hal ini tak cukup menggunakan dana yang sedikit.
Bukan hanya Mira saja yang diperiksa, Nando pun melakukan pengetesan kesuburan lewat sper*ma yang dikeluarkan. Nando berimajinasi sedang melakukannya dengan Dina, hingga dirinya berhasil menumpahkan cairan sper*ma ke sebuah tabung.
"Tes kesuburan keduanya dan tes darah sudah dilakukan, besok tinggal menunggu hasilnya. Semoga hasilnya memuaskan, kalian bisa memiliki anak," ujar sang dokter dan ketiganya mengaminkan.
Kini ketiganya sudah dalam perjalanan pulang, sama halnya dengan Dina dan Rian yang sudah pulang lebih dulu. Dina dan Rian memilih untuk mampir dulu ke sebuah cafe untuk menikmati angin malam, duduk bersantai. Menikmati pemandangan indah di malam hari.
"Untungnya kamu sudah putus dengan wanita miskin itu. Jika tidak, kamu pasti akan memiliki anak dari wanita miskin. Akan membuat hidup kamu sial," cerocos Mama Elia, membuat Nando merasa geram. Wanita yang dia cintai, di hina.
"Ma, Dina itu memiliki nama. Kenapa sih Mama selalu saja menyebut dirinya wanita miskin? Kita tak boleh berkata," gerutu Nando.
Membuat Mira merasa cemburu, mendengar Nando membela Dina. Mira yakin kalau suaminya itu masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya itu.
"Ibu-nya si Nando seperti orang yang tak berpendidikan saja. Rasanya ingin sekali aku memberikan dia sambel ke mulutnya. Aku yakin, suatu saat nanti dia pasti akan merasa malu dengan ucapannya sendiri. Ternyata mantan kekasih kamu seorang pecundang. Kamu tau tidak, kemarin dia sempat mendatangi kantor untuk mencari keberadaan kamu dan mengatakan kalau pernikahan aku dan kamu tak sah. Dia meminta aku meninggalkan kamu. Akibat ulahnya, satu kantor membicarakan aku," ungkap Rian membuat Dina semakin merasa tak enak hati. Demi membelanya, Rian harus merasakan malu. Padahal, Rian itu orang yang berpengaruh di perusahaan itu.
__ADS_1
"Maafkan aku ya, semua ini gara-gara aku," ujar Dina yang kini menatap wajah Rian lekat.
"Tenang saja, aku baik-baik saja. Aku tak peduli dengan ucapan orang-orang di kantor. Karena yang menjalani adalah aku, dan aku juga yang telah memilih," ungkap Rian dan Dina hanya menganggukkan kepalanya.
Nando sudah sampai di rumah. Setelah dari rumah sakit, dia langsung memilih mengantarkan sang mama untuk pulang ke rumah.
Nando terlihat duduk termenung di teras rumahnya sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok. Pikirannya melayang entah kemana. Tatapannya terlihat kosong.
"Sayang, tidur yuk! Aku ingin tidur di temani kamu," ujar Mira yang datang secara tiba. Dia langsung bergelayut mesra, mengalungkan tangannya di leher sang suami. Sedangkan dagunya dia taro di pundak suaminya.
"Tidur saja duluan! Aku belum mengantuk, nanti aku menyusul," ujar Nando, tetapi Mira terus saja merengek untuk ditemani Nando. Hingga akhirnya Nando menuruti permintaan istrinya, untuk tidur menemani istrinya.
Nando dan Mira sudah berada di ranjang yang sama, Nando terlihat dingin kepada sang istri. Padahal Mira sudah berusaha menggoda suaminya. Dia ingin segera hamil, agar Nando tak akan pernah meninggalkan dirinya.
"Mir, aku lelah. Lebih baik kamu tidur saja," ujar Nando, membuat Mira merasa kesal. Terlebih Nando memanggil dirinya dengan sebutan nama.
Mira terus mengumpat Dina. Semua ini gara-gara Dina, yang membuat suaminya berubah. Sampai-sampai Nando bersikap berubah, dingin padanya.
Dina dan Rian sudah berada di ranjang yang sama. Mereka tidur seperti orang yang musuhan berjauhan. Semua itu Rian lakukan demi menahan hasratnya. Bagaimana pun dirinya adalah seorang laki-laki. Dia takut tak bisa mengontrol nap*sunya.
Terlihat Rian sudah tidur terlelap, sedangkan Dina justru masih terjaga. Dina turun secara perlahan dan memilih untuk keluar untuk menonton Televisi.
__ADS_1
"Sayang, Ayah kamu benar-benar tega sama kamu. Di depan Ibu dan istrinya, dia tak berani memperjuangkan kamu. Dia memang tak pantas untuk dimaafkan," ujar Dina sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.
"Dimana janji manis yang kamu ucapkan dulu? Kamu bilang akan memperjuangkan aku? Namun, nyatanya apa? Tak sedikit pun kamu membela aku, disaat Ibu dan Mira menghina aku," ucap Dina lirih.