
"Breng*sek! Berani-beraninya kamu menghindari aku," umpat Nando. Dirinya merasa kesal karena Sania berani pergi meninggalkan dirinya. Membuat Nando semakin sulit saja menemukan keberadaan Dina.
"Kamu dimana si Sayang, laki breng*sek kamu mencoba menutupi kamu dari aku. Ku pastikan, aku akan menemukan kamu. Meskipun kamu berada di ujung dunia sekalipun," ujar Nando dengan percaya diri.
Hidup Nando menjadi tak karuan, dia seperti orang yang tak waras. Dipikirannya hanya ada nama Dina, dia ingin mencari keberadaan Dina saat ini. Berharap agar dirinya segera menemui Dina.
Sama halnya dengan Nando yang seperti orang gila, Mira justru terlihat murung. Tatapannya terlihat kosong, tak ada semangat hidup. Bahkan dirinya sejak kemarin tak ingin makan. Padahal kedua orang tuanya sudah berusaha untuk membujuknya.
"Untuk apa aku makan? Aku benci hidupku, lebih baik aku mati saja, daripada aku hidup menderita," ujar Mira diiringi isak tangis. Dadanya terasa sesak, jika bicarakan hal ini. Membuat sang mama merasakan sakit seperti sang anak. Sang mama sudah berusaha untuk mewujudkan keinginan sang anak untuk menikah dengan laki-laki pilihannya, tetapi takdir berkata lain. Pernikahan anaknya tak bisa dipertahankan.
"Jangan bicara seperti itu, kamu harus tetap bersemangat! Terus berdoa, mungkin saja Allah akan merubah segalanya. Kamu bisa sembuh dari penyakit kamu," nasehat sang Mama memberi semangat.
"Cukup Ma, sekuat apapun aku berdoa. Aku ini tak akan sembuh sampai kapanpun. Aku ini penyakitan, tak ada gunanya. Bahkan mantan suamiku saja membuang aku seperti sampah, karena aku penyakitan. Hidupku tak akan lama, cepat atau lambat aku pasti akan mati. Allah memang jahat padaku, membuat aku menderita," ucap Mira. Dia terlihat frustasi.
Sang Mama langsung memeluk tubuh anaknya, mencoba menenangkannya. Dia tahu apa yang dirasakan anaknya. Dirinya hanya bisa memberi semangat, agar sang anak tetap kuat dalam menjalani kehidupan.
"Lebih baik Mira mati saja Ma, Mira sudah tak tahan menjalankan hidup ini. Aku benci hidup aku," ujar Mira diiringi isak tangis.
"Tenangkan hati kamu Sayang! Kamu harus tetap semangat dan terus berdoa, semoga Allah mendengar doa-doa kamu. Ikhlaskan Nando, mungkin dia bukan jodoh kamu! Sekuat apapun kamu berjuang, kalau dia bukan jodoh kamu. Pasti akan terlepas, tak akan bisa bersama," ujar Sang Mama mencoba mengingatkan dan memberi semangat.
Tak ada pilihan untuknya, lebih baik menerima semua ini dan menikmati hidup. Tak ada gunanya juga meratapi apa yang terjadi. Lebih baik dirinya bersemangat untuk hidup.
__ADS_1
Hari demi hari Sania lewati setelah kejadian itu. Sania memilih untuk mengikhlaskan apa yang terjadi dengannya, dan menjalani kehidupan dengan tenang. Berharap kelak masih ada laki-laki yang mau dengannya.
"Benarkah Pak Saya diterima?" tanya Sania. Dia terlihat sangat bahagia, karena bisa di terima kerja di perusahaan besar di kota itu. Suatu keberuntungan untuknya. Sania berdoa, agar dirinya tak mengandung anak Nando, laki-laki breng*sek yang telah melakukan pemerko*saan terhadapnya.
"Iya. Selamat ya, mulai besok kamu sudah bisa mulai bekerja," ujar Pak Bakhtiar, bagian HRD di perusahaan itu.
"Terima kasih, Pak. Saya sangat bahagia sekali mendengarnya. Saya sangat bersyukur, karena bisa diterima di perusahaan ini," sahut Sania dengan raut wajah bahagia.
Sania akan berusaha bekerja dengan baik. Dia tak ingin mengecewakan orang yang telah memberikan kepercayaan kepadanya. Dia akan tetap semangat.
"Ya Allah terima kasih atas rezeki yang engkau berikan kepadaku. Ternyata ada hikmah dibalik musibah yang terjadi padaku. Aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi, bahkan perusahaan ini bisa memberikan gaji yang lebih besar," ucap Sania dalam hati.
Sania keluar dari perusahaan, dirinya terlihat sangat bahagia. Ternyata pilihannya untuk pergi, memang yang terbaik. Daripada dirinya terus menerus menjadi budak se*ksnya Nando.
"Huuft, kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku tak langsung ikutin saja dari kemarin-kemarin, jadinya aku tak perlu cape,-cape," ujar Nando bermonolog dengan pemikirannya sendiri.
Benar saja, Nando sudah memperhatikan gerak gerik Rian dari jauh. Dia berniat untuk mengikuti kemana Rian pulang. Kelak memudahkan dirinya untuk bertemu Dina, wanita pujaannya.
Rian tak menyadari kalau saat itu ada yang mengintainya dari kantor hingga rumahnya. Kini Rian baru saja sampai di rumah, dia langsung di sambut dengan Dina.
"Akhirnya aku bisa menemukan keberadaan kamu, kamu itu memang jodoh aku. Kemanapun kamu pergi, aku akan menemukannya," gumam Nando dalam hati.
__ADS_1
"Harusnya aku yang bersama kamu, menjalani kehidupan. Aku memang bodoh telah menyakiti hati kamu, dengan tidak mengakui anak yang sedang kamu kandung," gumam Nando.
Nando merasa bahagia karena dirinya berhasil menemukan Dina. Dia berencana mendatangi rumah Rian, saat Rian tak ada di rumahnya. Nando berniat merebut Dina dari Rian. Sedangkan Rian tak menyadari kalau dirinya diikuti Nando.
"Akhirnya aku berhasil menemukan kamu, sebentar lagi kita akan bersama. Aku yakin kalau kamu pun sudah merindukan aku. Kita ini berjodoh, kita pasti akan bersama," ujar Nando sambil tersenyum.
Dirinya teringat akan kebersamaan dirinya dulu dengan Dina. Dengan percaya diri, dirinya yakin kalau Dina akan kembali bersamanya. Mereka akan hidup bahagia dalam sebuah keluarga, bersama dengan anaknya kelak.
"Kalau sudah jodoh, memang seperti itu. Sekuat apapun dipisahkan, pasti akan bertemu." Lagi-lagi Nando berkata kalau dirinya dan Dina berjodoh. Apa yang terjadi padanya, karena dirinya berjodoh. Tak ada sedikit pun pikirannya tentang Sania, wanita yang dia renggut paksa.
Nando terlihat lebih bersemangat, dia sudah tak sabar ingin menemui Dina wanita pujaannya. Rencananya dia akan mendatangi rumah Rian hari ini. Dia sengaja meletakkan motornya cukup jauh, agar tak di curigai.
"Breng*sek, laki-laki itu tak kerja. Sepertinya hari ini aku gagal, dan harus menggantinya dengan hari lain," umpat Nando.
Hari ini Rian memang sengaja cuti, karena dirinya berniat ingin mengantarkan Dina untuk periksa kandungan. Nando terlihat mengepalkan tangannya, saat Rian dan Dina terlihat mesra saat keluar rumah. Mereka tampak seperti pasangan yang berbahagia.
"Sekarang kamu bisa tertawa dengannya, besok-besok kamu akan tertawa dengan aku. Sekarang kamu bisa terlihat mesra dengannya, besok-besok aku akan merebutnya dari dia," gumam Nando.
Hatinya terasa sakit, kala melihat kebersamaan Dina dengan laki-laki lain. Harusnya dia yang menemani Dina memeriksakan kandungannya, karena dialah ayah dari anak yang di kandung Dina saat ini. Dirinya baru menyadari, kalau Dina adalah wanita satu-satunya yang dia cintai. Oleh karena itu, dia berniat untuk memperjuangkannya kembali.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestieku😍
__ADS_1