
"Mengapa rasanya begitu gugup, aku takut sekali melakukannya. Ah Sania, gaya sekali kamu. Seperti kamu masih perawan saja," Sania bermonolog dengan hatinya. Tersenyum sendiri di depan kaca. Dirinya kini hanya menggunakan Bathrobe keluar dari kamar mandi.
Sania berjalan menghampiri sang suami yang sedang duduk santai memainkan ponselnya. Masih ada waktu 3 jam untuk bersantai. Pemandangan itu tentu saja membuat dirinya merasa tambah gelisah.
"Kamu ngapain? Sudah sana istirahat untuk pesta malam," sahut Reza ketus. Menutupi perasaan gugupnya.
"Mengapa perasaan gue seperti ini? Please deh, Za. Seperti lo tak pernah berada satu kamar saja dengan seorang wanita. Mantan Casanova, kok nyalinya tempe," ujar Reza gusar.
Dirinya bertambah frustasi, saat Sania justru duduk di atas pangkuannya. Menunjukkan payu*dara yang masih terlihat kencang. Sania sengaja ingin memberikan kejutan kepada suaminya dengan tidak memakai kain segitiga dan juga kain penutup bukit kembarnya.
"Jangan begini dong! Jangan buat tersiksa! Jangan salahkan aku, kalau sampai aku khilaf," cerocos Reza. Baru seperti itu saja, juniornya sudah menegang.
"Oh ya, coba saja! Aku ingin tahu," tantang Sania. Sedangkan nyali Reza justru menciut.
Sania tersenyum kala berhasil membuat suaminya tak berdaya. Dengan percaya diri Sania bangkit dari pangkuan suaminya dan berdiri di hadapan suaminya. Tanpa pikir panjang, Sania langsung membuka Bathrobe yang dia kenakan, hingga menunjukkan tubuh polosnya. Menunjukkan tubuh yang begitu indah, membuat Reza berkali-kali menelan salivanya.
"Jadi kamu? Kamu enggak ...," ujar Reza. Bahkan dirinya tak mampu lagi berkata-kata. Terlebih dirinya melihat Sania menganggukkan kepala, sambil tersenyum manis.
Reza langsung menggendong tubuh istrinya, dirinya tampak bahagia. Ternyata dirinya tak harus berpuasa. Malam ini akan menjadi malam yang indah untuk mereka berdua. Reza membaringkan tubuh istrinya dengan penuh kelembutan. Rasanya sangat berbeda, saat Nando dulu merebut paksa mahkotanya.
__ADS_1
"Nakal ya kamu, berniat mengerjai aku," gerutu Reza. Ucapan Reza membuat tertawa geli.
"Mas, geli! Sudah dong, iya aku minta maaf karena telah mengerjai kamu. aku hanya ingin memberikan kejutan untuk kamu," ujar Sania yang merasa geli, karena kini Reza menciumi lehernya.
"Sebagai hukumannya, malam ini kamu akan aku buat tak tidur. Jangan salahkan aku, kalau besok kamu jalannya seperti bebek. Siapa suruh punya tubuh indah, membuat aku bergairah," ujar Reza.
"Ampun, Mas! Jangan dong, aku masih takut! Nanti saja ya kalau acaranya sudah selesai! Kalau jalan aku ngangkang gimana nanti," ucap Sania memohon.
"Iya, untuk saat ini aku ampuni! Tapi tidak untuk nanti malam, tak ada toleransi," sahut Reza membuat Sania menelan salivanya. Siap-siap saja dirinya, akan dibuat remuk oleh suaminya. Terlebih ukuran tubuh Reza lebih berisi dari Nando. Sedangkan Sania memiliki tubuh mungil, tetapi memiliki bo*kong dan payu*dara yang padat. Membuat tubuhnya begitu seksi.
Siang ini mereka hanya bercumbu mesra. Reza bersyukur, meskipun dirinya seorang laki-laki be*jad. Allah masih menyayangi dirinya, memberikan pendamping yang benar-benar polos. Hanya saja orang breng*sek telah merenggutnya secara paksa. Ingin rasanya dia menonjok wajah Nando.
"Maaf ya! Tapi aku akan berusaha untuk memuaskan kamu. Kamu ajarkan saja ya. Aku kan waktu itu tak menikmati, justru aku shock. Jadi, meskipun aku sudah tak perawan, aku tak mengerti seperti itu. Hanya rasa sakit yang aku rasakan, aku tak menikmatinya," jelas Sania.
"Iya, aku ngerti! Lagian aku justru senang kok, aku bahkan merasa beruntung. Aku malahan yang merasa malu. Andai saja aku dulu lebih cepat bertemu kamu, pasti aku tak akan lama-lama seperti itu. Maaf ya Sayang, tetapi insyaallah aku safety kok mainnya dulu. Mulai sekarang, kamu jangan merasa bersalah! Karena semua itu bukan kesalahan kamu, aku akan menerima kamu apa adanya, seperti kamu menerima aku apa adanya," ujar Reza sambil mengelus rambut istrinya dengan lembut.
Rasanya sangat berbeda, saat dirinya berhubungan dengan wanita bayarannya. Mungkin kali ini dirinya memakai perasaan cinta. Dia tak akan memaksa sang istri untuk memuaskan dirinya. Karena dalam ini mereka akan saling terpuaskan. Dia tak ingin menjadi suami yang egois.
Siang ini mereka hanya saling berpelukan. Rasanya mereka sudah tenang, bisa seperti itu. Mereka sudah merasa tak canggung lagi.
__ADS_1
"Beb,bolehkan aku meminta 5 orang anak dari kamu," ujar Reza.
Kini mereka sama-sama dalam keadaan polos, tubuh mereka hanya ditutupi dengan selimut. Sania terlihat meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Kamu kira melahirkan tak sakit, merawatnya juga tak mudah. Bagaimana kalau dua orang saja, sesuai anjuran pemerintah," sahut Sania.
"Aku ingin rumah kita rame dengan suara anak-anak kita. Agar aku bertambah semangat mencari uang. Nanti, kamu tak perlu kerja. Biar aku saja yang mencukupi semuanya. Kerjaan kamu hanya mengurus aku, dan melayani aku di ranjang," ujar Reza membuat Sania memanyunkan bibirnya.
Waktu kebersamaan mereka, di isi dengan obrolan tentang masa depan mereka. Kini mereka sudah bersiap-siap untuk acara resepsi pernikahan mereka. Mereka menggunakan konsep Internasional. Malam ini mereka akan memanjakan para tamu undangan dengan aneka macam menu makanan dari dalam maupun mancanegara. Banyak tamu penting yang hadir di acara resepsi pernikahan mereka. Reza mengundang 1000 orang. Karena dia tak ingin terlalu lama berdiri.
Pasangan pengantin telah siap, mereka seperti seorang raja dan ratu dalam semalam. Semua mata tertuju padanya. Semua ini seperti sebuah mimpi bagi Sania yang notabenenya hanyalah orang biasa. Tak pernah terpikir olehnya, bisa merasakan pesta semewah ini. Para tamu undangan telah hadir dan berdiri menyambut kedatangan pasangan pengantin yang sedang berbahagia. Rona bahagia terpancar dari wajah keduanya. Kedua orang tua mereka pun tampak bahagia. Dina dan Rian pun telah hadir di sana. Perut Dina sudah terlihat membuncit.
"Maaf ya, kalau aku tak bisa mengadakan pesta semewah ini," bisik Rian.
"Semua itu tak masalah bagiku, bahkan tak diadakan pesta sama sekali aku tak masalah. Sudah menikah sah dengan kamu saja, aku sudah merasa bahagia," sahut Dina.
Karena yang terpenting untuk Dina yaitu bukan seperti itu, mendapatkan Rian di hidupnya merupakan sebuah anugerah terindah yang dia miliki sepanjang hidupnya. Begitu besar perjuangan Rian untuknya.
Dina sudah merasa tak sabar ingin segera menikah secara sah dengan Rian. Menjadikan dirinya sebagai istri Rian satu-satunya. Hatinya hanya ada nama Rian seorang.
__ADS_1
Acara resepsi di mulai, serangkaian acara di lakukan. Sepanjang acara keduanya tampak menunjukkan kebahagiaan yang mereka rasakan.