
Mungkinkah ini perasaan cinta yang Dina rasakan? Dikala dirinya merasa nyaman dengan Rian. Dina mencoba menatap yang kini ada di depan matanya. Membalas rasa cinta yang Rian berikan untuknya.
"Nanti, kalau sudah berumah tangga. Kamu harus rajin masak, karena cinta itu berawal dari perut dulu. Kalau suami suka masakan kita, dia akan semakin cinta dan tak akan pernah melepas kita. Contohnya Ibu sama Bapak. Hubungan kami tetap romantis, meskipun ada bumbu-bumbu pertengkaran di pernikahan kami," ujar Ibu Lina dan Dina hanya menganggukkan kepalanya. Rian tersenyum, dia ingin sekali secepatnya menikah dengan Dina, membina rumah tangga yang harmonis.
Ada perasaan nyaman yang dirasakan Rian, meskipun kondisi keluarga Dina hanya hidup sederhana. Rian berharap, kedua orang tuanya bisa menerima Dina apa adanya. Tidak memang perbedaan status.
"Setau Bapak, wanita hamil itu tidak di perbolehkan menikah. Namun, demi menutupi aib diperbolehkan, tetapi tidak boleh di gauli sampai anak itu lahir ke dunia. Memangnya Nak Rian siap menahan sampai Dina melahirkan dan menunggu sampai Dina selesai masa nifasnya," ujar Pak Hari.
"Siap Pak. Saya sudah pikirkan hal ini. Yang Saya lakukan ini demi rasa cinta Saya kepada anak Bapak, bukan semata-mata sebuah na*psu. Toh hal itu tak harus dilakukan cepat, bisa dilakukan di lain waktu," sahut Rian yakin. Membuat kedua orang tua Dina merasa bahagia, semoga ucapan Rian saat ini bukan hanya saat menginginkan Dina , tetapi untuk selamanya.
"Din, ajak jalan-jalan sana calon suamimu! Biar tau daerah pedesaan, mumpung belum gelap. Nak Rian nanti malam menginap di sini saja, soalnya di sini hotel jauh harus ke kota Yogya," ujar Ibu Lina.
"Memangnya tak apa Bu kalau Saya menginap, kan Saya belum resmi. Nanti yang ada akan jadi omongan tetangga," tanya Rian.
Ibu Lina mengatakan tak masalah. Toh palingan tetangga mengira kalau mobil itu, mobil keluarga Dina yang sedang berkunjung ke rumahnya. Lagi pula, sudah tak aneh di kampungnya. Bahkan banyak anak gadis tetangganya yang hamil di luar nikah dan lebih mencengangkan mereka sering menjadi sugar baby, istri simpanan, atau pun karena married by accident.
"Masih enak ya udara di sini. Tenang, damai, udaranya juga sejuk. Pasti aku akan sering mengajak kamu pulang kampung ke sini, kalau aku lagi jenuh dengan hiruk-pikuk kota Jakarta," ujar Rian dan Dina hanya membalasnya dengan senyuman.
__ADS_1
"Kamu memangnya tidak malu Mas, menikah sama orang kampung? Aku juga bukan dari kalangan keluarga berada seperti kamu. Aku khawatir kalau nantinya orang tua kamu tak merestui hubungan kita. Bisa-bisa kisah aku akan seperti saat bersama Nando dulu," ujar Dina.
Rian meraih tangan Dina, dan posisi mereka saling berhadapan membuat Netra mereka saling memandang. Ada getaran hati tak biasa yang dirasakan Dina saat menatap wajah Rian. Mungkinkah itu cinta? Dina telah mencintai Rian?
"Tatap mata aku! Apa kamu masih ragu dengan keseriusan aku? Kalau aku tak mencintai kamu, untuk apa aku seperti ini? Jika aku merasa malu, lantas untuk apa aku mau berjalan-jalan di pedesaan seperti ini? Belum cukup kah yang aku jelaskan kepadamu, untuk membuktikan cintaku padamu," ungkap Rian membuat Dina diam tak terpaku, tak mampu berkata-kata.
"Jawab pertanyaan aku? Biar aku tahu letak keraguan kamu ke aku, dan aku bisa memperbaikinya," ujar Rian kembali.
Sebenarnya Rian tak salah, justru di sini yang salah adalah dirinya yaitu Dina. Rasa sakit atas pengkhianatan yang dilakukan Nando, membuat Dina takut untuk merasakan sakit hati kembali. Hingga membuat dirinya sulit untuk percaya.
Rian tak butuh jawaban dari Dina. Karena semua itu akan terbukti seiringnya waktu, dan Rian akan membuktikan ucapan dirinya kepada Dina. Bagi Rian, Dina adalah sebuah batu berlian yang baru mampu dia miliki. Berharap Dina pun membalas cintanya.
"Ayo kita pulang! Tak baik wanita hamil masih berada di luar, saat menjelang magrib," ujar Rian dan Dina menganggukkan kepalanya. Mengikuti ucapan suaminya.
Rian menggandeng tangan Dina dengan mesra. Senja menjadi saksi cinta mereka. Ya, perlahan Dina membuka hatinya untuk Rian dan mengubur rasa cintanya kepada Nando. Laki-laki breng*sek yang hanya bisa menanam benihnya, tanpa mau bertanggung jawab.
"Nak Rian nanti malam tidur di kamar bekas Dina saja, biar Dina tidur sama Ibu, dan Bapak tidur di ruang tamu," ujar Ibu Dina dan Rian mengiyakan.
__ADS_1
Kini saatnya mereka makan malam bersama. Makanan sederhana, tetapi memberikan kenikmatan untuk Rian. Rian bersyukur karena satu langkah menuju pernikahan sudah terlewati. Semoga keluarganya nanti bisa menerima Dina apa adanya.
"Ayo Mas, kita duduk di depan. Udara di sini masih seger loch," ajak Dina dan Rian menganggukkan kepalanya sambil mengikuti Dina berjalan di belakangnya.
"Mas, aku buatkan teh hangat dulu ya sebentar," ujar Dina.
Satu hal yang Dina suka dari Rian, Rian tak merokok. Wajar saja jika Rian mempunyai bibir berwarna merah. Perawakan Rian tinggi dan gagah, memiliki kulit berwarna putih, dan alis yang tebal, dan hidung yang mancung. Secara keseluruhan Rian memiliki wajah yang tampan.
"Di minum Mas, tehnya," ujar Dina sambil meletakkan dua cangkir teh untuk dirinya dan Rian.
"Enak ya punya istri. Masak ada yang masakin, minum teh ada yang menemani, ada yang ngurusin. Tidur juga ada yang menemani," ujar Rian.
Dina mengatakan kalau dirinya ingin tidur terpisah kamar dengan Rian. Dia takut kalau mereka nanti tak bisa menahan nap*sunya. Mereka masih harus menunggu 8 bulan lagi, untuk bisa tidur berdua. Setelah Dina lahir, Rian akan menikahi Dina kembali.
"Bagaimana kalau besok pagi kita pulang? Biar kita bisa main dulu ke Malioboro. Rasanya tak afdol kalau tak berkunjung ke sana. Sekalian lewat," ujar Rian dan Dina hanya menyetujui saja.
Mereka mengobrol berdua menikmati pemandangan di pedesaan pada malam hari. Di iringi suara kodok, tokek. Rian menepati janjinya, sebisa mungkin dirinya tak melakukan kontak fisik dengan Dina, terbukti saat ini mereka hanya duduk berdua dan saling bercerita.
__ADS_1