
"Yang, Al 'kan sudah berusia 2 tahun. Mas, boleh tidak meminta anak dari kamu?" tanya Rian.
Rian sudah sangat menginginkan memiliki anak, sudah dua tahun lamanya dia bersabar untuk menundanya. Bukan dia tak menyayangi Al, Rian ingin rumahnya semakin ramai dengan suara celotehan anak-anaknya. Menambah semangat untuk dirinya bekerja.
"Iya Mas, aku juga sudah kepingin banget punya baby lagi. Syukur-syukur cewek, jadi bisa sepasang sang Al," ujar Dina.
"Mas sih apa saja, tergantung rezekinya dari Allah. Yanga penting sehat, dan tak memiliki kekurangan. Kamu-nya juga sehat," sahut Rian.
Sabtu ini mereka sepakat untuk mengunjungi dokter kandungan saat hamil Al. Mereka berniat berkonsultasi untuk program anak. Selama ini Dina menggunakan KB IUD, dia sudah yakin untuk tidak menggunakan lagi.
Hari yang di nanti telah tiba, kebetulan saat ini Dina sedang kedatangan bulan. Memudahkan untuk membukanya. Setelah selesai, barulah mereka program memiliki anak.
Kini mereka sudah berada di dokter kandungan, dokter mencoba melakukan pemeriksaan kondisi rahim Dina dan hasilnya tak ada masalah. Dina sudah bisa mengandung kembali.
"Setelah menstruasi selesai, Bapak dan Ibu sudah bisa melakukan hubungan suami istri. InsyaAllah tak ada kendala, Ibu Dina bisa segera mengandung kembali," ujar sang dokter, Rian dan Dina mengiyakan.
Rian dan Dina tampak bahagia menunggu saatnya tiba. Bagaimana pun Rian sangat menginginkan memiliki anak kandung, darah dagingnya sendiri.
"Al ingin punya adik tidak?" tanya Rian dan Dina. Bagaimana pun mereka tetap memperhatikan perasaan Al.
"Iya Al justru kepingin banget. Agar Al tak merasa kesepian, Al jadi punya teman untuk bermain," ungkap Al.
Tak ada halangan lagi untuk mereka melakukan program untuk memiliki anak kembali. Terlebih Dina yang sudah kepingin membahagiakan suami dan mertuanya, yang sudah sangat baik kepada dirinya dan juga Al.
"Yang, sudah selesai belum? Sudah kepingin aku," ucap Rian malu-malu.
"Belum, di suruh sabar dulu," ujar Dina, membuat Rian lesu.
__ADS_1
Hari yang di nanti telah tiba, Dina berniat ingin memberi kejutan kepada suaminya. Dengan perasaan malu, dia meminta bantuan kepada sang ibu mertua untuk menitipkan Al di rumah mertuanya.
"Maaf ya Ma, aku sudah merepotkan Mama. Hari ini Dina ingin memberi kejutan, saat Mas Rian pulang," ujar Dina.
"Iya Din, tak apa-apa. Justru Mama senang banget mendengarnya, semoga doa kita semua terwujud ya. Kamu bisa segera hamil," ucap sang mertua.
"Al, malam ini Al sama Nenek dan Kakek dulu ya! Al mau adik bayi kan?" tanya Dina dan Al tampak menganggukkan kepalanya.
Dina pamit kepada ibu mertuanya dan juga Al, dia harus segera pulang untuk menyiapkan kejutan saat suaminya pulang. Dina juga menyuruh ART-nya di rumah untuk ikut menginap bersama Al di rumah mertuanya.
"Semoga Mas Rian suka sama kejutan aku," gumam Dina.
Dina sudah menggunakan lingerie berwarna merah yang menyala, dia juga memakai lipstik dengan warna merah menyala, dan memilih untuk menggerai rambutnya.
Dirinya menatap wajah dan tubuhnya di cermin. Tubuh Dina masih terlihat kencang dan langsing. Wajahnya pun semakin bersinar, karena perasaan bahagia yang dia rasakan.
Saat mendengar suara pagar di buka dan mesin mobil suaminya terdengar, Dina langsung mematikan lampu kamarnya untuk bersiap-siap menyerang suaminya secara tiba-tiba.
Rian melangkahkan kakinya memasuki rumah. Dirinya merasa bingung, karena keadaan rumah sangat sepi. Tak ada dan anaknya yang biasa menyambut dirinya. Bahkan ART-nya pun tak ada.
"Sebenarnya ini pada kemana? Kalau pergi, mengapa pintu rumah tidak dikunci?" Rian bermonolog dengan hatinya sendiri.
Rian memutuskan untuk naik ke atas menuju kamarnya. Membuka pintu kamarnya dengan pelan, dirinya terkejut saat melihat lampu kamarnya mati.
"Tak biasanya lampu kamar mati seperti ini. Sebenarnya pada kemana ya?" Rian semakin bertanya-tanya.
Rian tersentak kaget, saat ada tangan yang melingkar dari belakang. Saat dirinya menekan tombol untuk menyalakan lampu. Dia menghirup wangi yang begitu memabukkan dirinya, membuat naluri kelelakiannya bergejolak.
__ADS_1
"Sayang ...?"
Rian terpana melihat kecantikan dan keseksian tubuh istrinya. Sampai-sampai dirinya tak mampu berkata-kata lagi. Justru hanya bengong. Dia tak percaya kalau wanita di hadapannya adalah istrinya.
Dina langsung memeluk tubuh suaminya. Tanpa sadar, Rian mengikuti sang istri yang mendorongnya hingga sampai di ranjang. Dina langsung membuka kancing kemeja yang di kenakan suaminya satu persatu. Membuat Rian dibuat panas dingin.
Rian dibuat tak berdaya, hanya rasa nikmat yang dia rasakan.
"Sayang, aku belum mandi. Aku mandi dulu ya," ujar Rian dengan suara yang terdengar berat.
Meskipun nap*sunya sudah membara. Namun, Rian tetap ingin melakukan dalam keadaan bersih. Sesuai syari'at islam. Setelah mandi, Rian mengajak istrinya untuk sholat dulu dan membaca doa malam pengantin.
Dina membuka dasternya kembali, dan kini hanya menggunakan lingerie saja.
"Kok tumben banget kamu pakai lingerie?" tanya Rian dengan polosnya membuat Dina merasa kesal.
"Sengaja, aku begini karena ingin main bola," sahut Dina ketus. Membuat Rian tertawa terbahak-bahak.
"Kamu itu, kalau lagi ngambek wajah kamu menggemaskan. Makanya aku paling suka menggoda kamu," goda Rian membuat wajah Dina memerah menahan perasaan malunya.
"Jangan marah dong, aku 'kan hanya ingin menggoda kamu. Iya, aku tahu kok maksud dan tujuan kamu. Aku senang banget kejutannya. Makasih ya! Membuat aku semakin cinta sama kamu," ucap Rian sambil memeluk tubuh istrinya. Dina menyenderkan kepalanya di dada bidang milik suaminya.
"Are You Ready?" ujar Rian dan Dina menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.
Skip😍😚😄
Mau bikin yang hot, nanti kena riview.😁
__ADS_1
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestie ku😍