
"Assalamualaikum. Om, hari ini aku izin tidak kerja ya. Hari ini aku mau ajak Dina belanja perlengkapan seserahan. Sabtu ini kami akan menikah," ujar Rian di panggilan telepon.
"Walaikumsallam. Serius kamu Ri? Kamu nikah seperti di kejar setan saja. Jangan bilang Dina sedang hamil anak kamu ya," ujar Om Andi.
"Dina bukan hamil anak aku, tetapi hamil anak Nando. Laki-laki breng*sek yang tidak tahu diri," ucap Rian dalam hati. Tentu saja Rian tak berani mengungkap fakta yang sebenarnya. Rian bertanggung jawab menikahi wanita yang bukan karena kesalahannya.
"Ya sudah urus saja pernikahan kamu," sahut Om Andi dan Rian mengucapkan terima kasih. Meskipun dirinya bekerja dengan Om-nya, tak menjadi alasan dirinya bersikap seenaknya.
"Makasih ya Om. Om memang paling the best," puji Rian kepada Om Andi.
Rian bersiap-siap untuk menjemput Dina. Semenjak bersama Dina, Rian lebih sering menggunakan mobilnya. Karena dia sangat khawatir dengan kehamilan Dina yang masih sangat muda. Kini dirinya sudah sampai di depan kamar kos Dina.
"Assalamualaikum," ucap Rian. Rian mengucap salam sambil mengetuk pintu kamar kosan Dina.
Dina terkejut saat mendengar suara Rian yang sudah berada di depan pintu kamarnya. Pasalnya, Rian tak memberitahu akan menjemput Dina sepagi ini. Bahkan saat itu Dina belum mandi dan hanya menggunakan celana hot pants dan tanktop. Menunjukkan paha, pundak, dan punggung putih mulusnya. Dina terlihat sangat seksi, dengan bukit kembar yang menyembul begitu menantang.
"Nanti, kalau kita sudah menikah. Aku tidak mau lihat kamu berpakaian seperti ini ya! Kamu hanya boleh terlihat seksi di depan mata aku. Rasanya aku tak rela jika milik aku di lihat oleh orang banyak. Kamu tahu tidak? Pakaian seperti ini bisa membuat orang yang tak berniat jahat menjadi jahat. Karena salah kamu yang memancing," cerocos Rian membuat Dina merasa malu. Dia berjanji tak akan seperti ini lagi.
__ADS_1
"Mas, aku mandi dulu ya. Kamu mau kesini pagi-pagi sih. Aku kan jadi malu, belum mandi," ujar Dina.
Jantung Dina berdegup kencang, tubuhnya terasa tegang seketika, wajahnya terlihat pucat saat Rian memegang kedua pipinya dan mendekati wajahnya. Dina terlihat gugup. Dia mengira kalau Rian ingin menciumnya.
"Kamu tegang banget sih? Kamu kira emang aku mau ngapain? Salah ya aku ingin memegang kedua pipi kamu? Orang aku cuma mau bilang. Kamu itu sudah cantik. Tidak mandi pun aku sudah cinta. Aku suka kamu apa adanya. Yang penting kamu cinta sama aku, setia sama aku, dan nantinya menghargai aku sebagai suami kamu. Ingatkan aku, jika aku lalai menjalankan tugas aku sebagai seorang suami. Terima kekurangan aku. Aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu. Hanya pintaku, jaga ******** kamu untuk aku, bernap*su hanya kepada aku, dan jaga kehormatan kamu sebagai seorang istri! Jangan mudah tergoda, dengan rayuan laki-laki breng*sek seperti Nando," ujar Rian membuat wajah Dina memerah.
"Ya sudah, mandi dulu sana! Katanya mau mandi. Kamu sudah sarapan belum?" tanya Rian.
Dina menggelengkan kepalanya, dirinya belum sarapan. Dina mengatakan kalau dirinya baru bangun tidur. Rian terkekeh mendengarnya, membuat Dina semakin malu. Calon suaminya begitu sempurna, sedangkan dia? Wanita yang banyak memiliki kekurangan.
Dina sudah selesai mandi lebih dulu, dan dia kini sudah terlihat rapi dan segar. Dengan rambut tergerai. Dina memiliki rambut yang indah dan panjang. Mungkin jika ada pemilihan duta shampo, dia bisa jadi modelnya. Wangi tubuh Dina begitu menggoda, tetapi Rian selalu berusaha menahan nap*sunya.
"Aku jadinya beli nasi uduk. Yang dekat dari rumah saja," ujar Rian.
Dirinya sudah sampai di kosan Dina, dengan membawa dua bungkus nasi uduk lengkap dengan balado telor dan gorengan. Dina menyiapkan dua buah piring untuk mereka makan. Rian memang sengaja tak makan dulu di rumah, karena dia sudah berniat makan bersama Dina. Di rumah, Rian sudah sarapan satu lembar roti dan teh manis hangat.
"Yang, kita langsung nikah saja ya Sabtu ini. Tidak perlu ada lamaran. Aku sudah merasa kesepian di rumah sendiri. Nanti kalau sudah menikah, kita cari ART yang menetap di rumah saja. Yang bisa menemani kamu di rumah, kalau aku belum pulang," ujar Rian, hampir saja membuat Dina tersedak mendengar penuturan Rian.
__ADS_1
"Ka-kamu serius, Mas? Nikah seperti main-mainan saja. Orang tua kamu memang sudah setuju? Aku saja baru mau ngomong, kalau Sabtu ini keluarga kamu akan datang melamar aku ke Yogya. Sekarang berubah langsung nikah. Surat-suratnya gimana? Kamu pikir memang semudah itu ngurus surat-surat nikah," cerocos Dina.
Rian menyuruh Dina untuk menyelesaikan makannya dulu. Setelah ini mereka baru akan membahasnya. Rencananya Rian yang akan menghubungi orang tua Dina, untuk menjelaskan semuanya.
Setelah selesai makan, melalui ponsel Dina, Rian menghubungi Ibu dari Dina terlebih dahulu. Rian yang akan bicara langsung. Karena Dina takut kalau sang Ibu akan marah-marah, saat mendengar Rian dan Dina akan langsung menikah bukan melakukan acara lamaran.
"Assalamualaikum. Ini Rian. Apa kabar ibu?," ujar Rian membuka pembicaraan dirinya dengan Ibunya Dina.
"Walaikumsallam. Nak Rian sedang bersama Dina? Kabar Ibu Alhamdulillah baik, sehat walafiat," sahut Rian.
Rian langsung to the point, tak terlalu banyak waktu untuk basa basi. Dia langsung mengungkapkan rencana pernikahan dirinya dengan Dina, yang ingin diadakan Sabtu ini. Tentu saja hal ini membuat Ibunya Dina merasa kaget.
"Kamu serius Nak, Rian? Masalahnya semuanya kan harus di urus. Meskipun akad nikah saja. Namun, setelah selesai ijab kabul pasti kan langsung acara makan-makan. Semua butuh persiapan. untuk surat-surat juga harus diurus. Ibu coba bicarakan dulu sama Bapak ya. Semoga semuanya di permudah, sehingga acaranya bisa segera dilaksanakan," ujar Ibunya Dina dan diaminkan oleh Dina dan Rian.
Sambil menunggu informasi dari kedua orang tua Dina, Rian dan Dina akan mengisi waktu dengan berbelanja segala keperluan untuk barang-barang seserahan. Rian memberikan kesempatan kepada Dina, untuk memilih apapun yang Dina sukai. Kelak, barang-barang itu akan menjadi milik Dina.
Dina dan Rian kini sudah dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan. Sesekali Dina melirik ke arah Rian yang saat itu sedang fokus menyetir. Dirinya merasa sangat kagum dengan sosok laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
__ADS_1