
Ternyata kehamilan sang istri kali ini, mengharuskan dirinya untuk lebih bersabar menghadapi mood istrinya yang kerap kali mudah tersinggung.
"Kamu kenapa? Mengapa wajah kamu cemberut seperti itu?" tanya Rian kepada sang istri. Padahal saat itu dirinya baru saja sampai di rumah. Tentu saja merasa lelah, karena seharian bekerja. Namun, saat melihat wajah sang istri muram. Dia menjadi tak tega. Dina hanya menggelengkan kepalanya, dia lebih memilih diam. Menyimpannya dalam hati.
Namun, Rian tetap ingin mengetahui penyebab istrinya seperti itu. Perasaan seorang wanita yang sedang hamil, memang lebih sensitif. Mood istrinya sering kali berubah-ubah.
"Katakan saja apa yang kamu inginkan? Selama aku bisa, aku akan berusaha mewujudkannya," jelas Rian, membuat Dina merasa senang mendengarnya
"Serius kamu mau mengabulkan keinginan aku?" tanya Dina yang kini menatap wajah suaminya serius.
"Iya, katakan saja! Tak baik dipendam dalam hati," sahut Rian.
Dina mengatakan kepada sang suami. Kalau dirinya menginginkan mangga. Tentu saja bukan hal yang sulit untuk dia kabulkan, karena saat ini memang sedang musim buah mangga. Di sepanjang jalan banyak yang menjual mangga. Bahkan di dekat komplek perumahannya pun ada.
"Aku tidak mau yang dari penjual," rengek Dina. P
"Kalau bukan dari penjual, lantas dari mana? Masa iya, aku kasih kamu mangga hasil mencuri sih Yang? Kamu ada-ada saja keinginannya," ujar Rian mencoba memberi pengertian kepada sang istri.
__ADS_1
Bukan itu yang Dina inginkan, tetapi Dina ingin mangga yang dari pohonnya. Dia ingin suaminya naik ke pohon mangga, mengambilkan untuknya.
"Duh, cari pohon mangga dimana. Aku belum pernah lihat, ada yang punya pohon mangga," ucap Rian.
Lagi pula, selama ini Rian belum pernah manjat pohon. Karena dirinya sudah terbiasa disediakan sang mama. Rian hidup mandiri, sejak dirinya duduk di bangku kuliah.
"Gimana kalau aku belikan saja? Sepertinya, daerah sini susah mencari pohon mangga," jelas Rian.
"Ya sudah kalau tidak mau," ucap Dina ketus. Dia langsung pergi meninggalkan suaminya ke kamar. Membuat suaminya geleng-geleng kepala. Mengapa istrinya menjadi seperti itu. Padahal dia sudah menjelaskannya. Rian mencoba menarik napas panjang. Untuk menahan perasaannya.
"Sayang, jangan marah dong! Maafkan aku, jika ucapan aku tak berkenan di hati kamu. Bukan aku tak mau mengambilkan, tetapi aku bingung harus mengambil dimana. Namun, aku akan tetap berusaha untuk mewujudkannya. Besok pagi, aku akan mencari pemilik rumah yang memiliki pohon mangga. Sudah ya, jarang marah lagi!" rayu Rian. Dia selalu saja bersikap lembut dengan istrinya. Apapun yang istrinya inginkan, Rian akan berusaha untuk mewujudkannya.
"Benar ya, jangan bohongi aku! Besok cari pohon mangga ya," ujar Dina.
"Iya, Sayang! Sudah ya jangan ngambek lagi ya! Nanti cantiknya hilang loh," goda Rian membuat wajah sang istri tersipu malu.
Dina tak lagi ngambek, dia langsung turun lagi dari tempat tidur untuk menyiapkan makanan untuk suaminya makan. Setelah makanan sudah tertata rapi, Dina mengajak sang suami makan. Rian saat itu baru saja selesai mandi. Tubuhnya terlihat segar. Membuat Dina terpanah melihatnya.
__ADS_1
"Kenapa? Ganteng ya suami kamu," goda Rian. Saat sang istri tertangkap basah sedang memperhatikan dirinya. Membuat wajah Dina tersipu malu.
Mereka kini sedang di ruang makan. Dina terlihat menemani sang suami makan. Dina selalu merasa senang, kalau melihat suaminya makan dengan lahap. Hal itu yang membuat Dina selalu menyempatkan untuk masak.
"Yang, pengen. Habis ini aku mau nengok Twins ya. Sudah lama juga tak nengok selama kamu hamil," ucap Rian. Dia akan tetap melakukan secara pelan-pelan.
Saat itu, cuaca terasa dingin. Karena diluar sana sedang terjadi hujan deras, menambah suasana romantis mereka berdua. Keduanya kini sudah sama-sama dalam keadaan polos.
"Assalamualaikum. Ayah izin menengok kamu dulu ya," ucap Rian sambil mencium perut istrinya. Seakan dirinya izin kepada kedua anak mereka yang masih di dalam kandungan sang istri.
Rian mulai melancarkan aksinya, memberikan sentuhan-sentuhan lembut suaminya. Membuat tubuh Dina berdesir hebat, merasakan sensasi yang luar biasa. Rian semakin pintar membahagiakan istrinya, terlebih saat ini Dina lebih berani dalam bermain. Nap*sunya bertambah, saat sedang hamil.
Semakin lama, keduanya semakin bergairah. Keduanya saling terpuaskan. Hingga akhirnya keduanya mendapatkan pelepasan, mengerang bersama. Rian mengecup kening istrinya, sebagai ucapan terima kasih dan rasa cintanya kepada sang istri. Rian turun dari atas tubuh istrinya dan menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestie ku😍
__ADS_1