
Tim medis mencoba menghentikan pendarahan yang terjadi pada Mira. Jika tidak, nyawa Mira bisa saja tidak tertolong. Karena terlalu banyak kehilangan darah. Nando terlihat panik, terlebih miliknya masih terus menegang membuat dirinya merasa tak nyaman.
"Huhft, memang gila ini si Mira. Jangan-jangan dia memasukkan obat kuat di dalam minuman gue tadi. Benar-benar gila ini cewek. Bikin susah saja. Sudah dia pendarahan, ini juga kepala pening banget. Obat perang*sang dosis tinggi sepertinya yang dia masukkan," gerutu Nando. Malam ini adalah malam yang membuat kepala atas dan bawah Nando merasa cenat cenut.
"Pasien sudah siuman dan pendarahan pun sudah berhenti, tetapi masih dalam tahap observasi. Jadi, sebaiknya pasien menginap dulu di sini. Sambil menunggu hasilnya besok," ujar Dokter yang menangani Mira. Nando menyetujuinya, dia tak ingin beresiko. Nando juga melihat kondisi Mira pun masih terlihat lemas dan pucat.
Mira kini sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Dengan teganya, Nando berniat meninggalkan dirinya seorang diri di rumah sakit. Kepalanya Nando masih terasa pusing, dan masih membutuhkan pelepasan.
"Aku pulang dulu ya, Kamu tak apakan di rumah sakit sendiri? Besok pagi aku ke sini," ujar Nando membuat Mira merasa kesal.
"Tega banget sih kamu ninggalin aku dalam kondisi seperti ini," ucap Mira.
"Kamu sendiri yang buat susah. Susah jangan ngajak-ngajak aku dong. Kamu tau tidak, akibat ulah kamu kepala aku menjadi cenat cenut. Aku bingung sama kamu, kok bisa-bisanya kamu kasih obat itu ke aku. Sekarang ngerasa kan? Ya sudah tanggung sendiri. Aku pulang dulu, tak tahan aku di sini. Aku butuh pelepasan," Cerocos Nando.
Tentu saja membuat Mira ketakutan, dia takut kalau suaminya bermain dengan seorang ja*lang. Membuat dirinya meneteskan air matanya. Tangisnya tak membuat keputusan suaminya berubah untuk pulang meninggalkan dirinya. Nando tak mempedulikan istrinya.
"Hah si*al. Ini si otong heran masih saja begini. Masa iya gue harus menyewa seorang ja*lang," gumam Nando. Dia terlihat gelisah, keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya.
"Kalau seperti ini ada Dina sih enak. Payah si Mira baru gitu saja sudah K.O," ucap Nando.
__ADS_1
Akhirnya Nando memutuskan untuk pulang, dia terpaksa menuntaskan hasratnya sendiri. Dari pada dirinya harus membayar seorang ja*lang.
Sesampainya di rumah, dia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia langsung melucuti pakaiannya. Tubuhnya terasa sangat panas, dinginnya AC tak menutupi suhu panas ditubuhnya. Nando mulai memainkan miliknya, untuk membuat Otong-nya tertidur.
Nando terlihat frustasi, karena miliknya masih saja turn on. Tangannya sudah sangat terasa pegal, hingga dirinya tak kuasa menahan rasa lelahnya. Akhirnya dia tertidur kecapean. Pagi-pagi dia bangun dan langsung histeris, karena si otong terus saja mengeluarkan racunnya. Membuat Nando merasa geli sendiri.
"Benar-benar ini si Mira, bikin gue seperti ini. Bikin malu saja. Kalau ada lawannya sih enak. Kalau tak ada, ini otong lumer terus. Terpaksa gue harus ke dokter, untuk menghentikannya," gerutu Nando. Akhirnya dirinya memilih untuk mandi dan membersihkan otong-nya.
Kini Nando sudah sampai di rumah sakit, dengan perasaan malu dia terpaksa harus berobat ke spesialis kulit dan kelamin. Setelah itu dirinya baru ke tempat sang istri untuk mengetahui penyakit yang di derita istrinya.
"Lain kali jangan menggunakan obat perang*sang dalam dosis tinggi lagi pak. Bukan hanya seperti ini saja, hal ini juga bisa membahayakan jantung Anda," ujar sang dokter. Nando dibuat malu setengah mati oleh Mira, pasalnya dokter yang menangani dirinya adalah seorang wanita. Membuat harga dirinya jatuh saja. Padahal tanpa obat, dirinya mampu. Hanya saja akhir-akhir ini dirinya memang sedang merasa malas untuk berhubungan.
"Aku kira kamu tak akan datang pagi," sindir Mira. Mira mengira kalau suaminya itu akan menyewa wanita malam untuk pelampiasan hasratnya.
"Sudah deh jangan bikin aku tambah emosi. Aku ini lagi merasa kesal sama kamu. Gara-gara kamu aku harus berobat ke dokter kelamin, otong aku lumer terus. Awas saja kalau lain kali kamu seperti ini lagi," cerocos Nando. Namun bukannya takut, Mira justru malah tertawa geli mendengarnya. Membuat Nando merasa kesal.
Dokter yang menangani Mira datang untuk memeriksa kondisi Mira saat ini. Setelah selesai, dia meminta Nando untuk menemui dirinya di ruangannya. Untuk membicarakan hasil tes Mira.
"Silakan duduk! Saya ingin menyampaikan mengenai hasil pemeriksaan pasien atas nama Mira. Di sini dijelaskan, bahwa istri Anda saat ini mengidap penyakit kanker serviks stadium 2. Penyakit ini dapat disembuhkan, tetapi kemungkinan besar untuk sembuh harapannya sangat kecil. Untuk penderita penyakit ini, memang biasa kerap terjadi meras nyeri saat berhubungan intim. Penderita juga bisa mengalami pendarahan, jika tak kuat menahan lagi. Seperti yang istri Bapak saat ini alami. Apa sebelumnya pasien tak mengetahui, kalau dirinya mengidap penyakit itu," ujar sang dokter yang menangani Mira.
__ADS_1
Nando hanya menggelengkan kepalanya, dirinya bertambah lesu. Kepalanya semakin cenat cenut. Dia tak menyangka kalau istrinya saat ini menderita penyakit yang mematikan.
"Berarti kemungkinan untuk memiliki anak sangat kecil ya, Dok?" tanya Nando memastikan. Jangankan untuk memiliki anak, bertahan untuk hidup saja membutuhkan perjuangan.
Dengan langkah gontai dia kembali ke ruangan istrinya, mau tak mau dia harus bicarakan hal ini kepada Mira. Nando langsung menyerahkan satu buah amplop putih berisi hasil pemeriksaan Mira.
"Apa ini?" tanya Mira.
"Buka saja, dan kamu lihat isinya! Nanti kamu akan tahu isinya," ujar Nando.
Jedar!
"Tidak! Tidak mungkin! Pasti hasilnya salah, aku tak mungkin sakit itu. Aku memang memiliki penyakit, tetapi bukan itu. Kemungkinan untuk hamil kata dokter sulit, tetapi aku yakin semua itu bisa di rubah dengan berusaha. Makanya aku sampai seperti itu. Memaksa kamu untuk mau berhubungan dengan aku," ungkap Mira diiringi isak tangis.
Nando bisa merasakan apa yang dirasakan Mira saat ini. Perasaannya pasti sangat hancur, tak bisa hamil adalah sebuah momok yang sangat menakutkan bagi seorang wanita. Terlebih dirinya bukan sekedar itu, nyawanya pun terancam.
"Kamu pasti senang kan aku menderita seperti ini? Membuat kamu memiliki alasan untuk meninggalkan aku dan kembali kepadanya? Aku benci Dina, mengapa dia selalu hidup bahagia mendapatkan apa yang dia inginkan. Tak seperti aku yang seperti ini. Hiks ... hiks ... hiks," ujar Mira.
Air matanya terus menetes satu persatu. Perasaannya saat itu begitu hancur. Dadanya terasa sesak. Impiannya untuk hidup bahagia, musnah sudah. Kini penderitaan yang dia rasakan.
__ADS_1