Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Penyesalan


__ADS_3

"Pak, Nando kok lama banget di operasinya? Mama khawatir banget," ujar Mama-nya Nando. Nando adalah anak kesayangan sang Mama.


"Doakan saja, semoga operasinya berjalan lancar! Nando segera pulih, dan bisa menjalankan aktivitas seperti biasa," sahut sang Papa, sang Mama hanya bisa menganggukkan kepalanya lesu.


Mama-nya Nando merasa cemas, dia takut kehilangan sang anak. Sejak tadi dirinya terus mendoakan sang anak, agar operasi sang anak berjalan lancar. Sejak tadi dirinya mondar-mandir di depan ruangan operasi.


"Bagaimana Dok, kondisi anak saya," ujar sang Mama, saat melihat sang dokter keluar dari ruangan operasi.


Sang Dokter meminta kedua orang tua Nando ke ruangannya, untuk mendapatkan informasi tentang kondisi sang anak. Suasana terasa sangat tegang. Kekhawatiran sang Mama terhadap kondisi sang anak.


"Jadi begini Bu, Pak. Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien. Kami sudah berusaha menghentikan pendarahan di area kepalanya. Namun, ada hal yang Bapak dan Ibu perlu tahu. Saat tersadar nanti, pasien akan mengalami cacat fisik di sekujur tubuh dan kedua kakinya. Tolong Bapak dan Ibu beri motivasi kepada pasien. Sungguh sangatlah tak mudah bagi dirinya dalam menerima kondisi seperti ini," ungkap sang dokter, membuat sang mama tak mampu membendung perasaannya. Dadanya terasa sesak, hatinya terasa sakit, melihat kondisi sang anak yang terbaring lemah tak berdaya.


"Apa tak ada tindakan untuk menyembuhkan anak saya, Dok?" Tanya sang Mama.


Sang dokter menjelaskan, kalau Nando mengalami cacat fisik seumur hidup. Hanya keajaiban yang bisa menyembuhkan Nando. Karena tulang di area bokong, punggung, dan kaki Nando bermasalah. Jika sembuh pun, akan membutuhkan waktu yang lama.


Sang Mama menatap wajah sang anak dari balik jendela, yang sedang terbaring lemah tak berdaya. Air matanya tak henti-hentinya meneteskan air mata.

__ADS_1


"Nan, bangun! Ayo semangat untuk hidup! Jangan tinggalkan Mama, Mama sayang banget sama kamu. Kamu nakal sih, selalu saja tak pernah dengar omongan mama. Kalau sudah seperti ini, Mama yakin jangankan untuk kembali sama kamu, melihat kamu saja Dina pasti tak akan sudi hidup bersama kamu. Bodoh memang kamu ini, demi wanita itu, kamu rela seperti ini," Cerocos sang Mama.


Nando perlahan membuka matanya, kepalanya merasa sangat sakit. Wajah sang mama yang pertama kali dia lihat. Lidahnya masih terasa kelu, tak bisa bicara. Tubuhnya masih terasa lemas. Sang mama tampak bahasa, melihat sang anak sudah sadar kembali. Dia tak ingin menunjukkan perasaan sedihnya, melihat kondisi sang anak saat ini.


"Ma, kenapa tubuh dan kaki Nando tak bisa di gerakan? Ada apa dengan Nando, Ma?" Tanya Nando kepada sang mama. Suaranya masih terdengar lemas. Kini giliran sang mama yang tak bisa berkata-kata. Dirinya tak sanggup mengatakan apa yang terjadi pada sang anak.


"Mungkin karena tubuh kamu masih merasa kaku," ucap sang mama berbohong.


Hari terus berganti Nando masih belum ada perubahan, membuat dirinya merasa tanda tanya dengan apa yang terjadi dengannya.


"Ma, sebenarnya aku kenapa? Nando harap Mama bisa berkata jujur?" Tanya Nando.


"Ma, Nando jenuh harus terus menerus di ranjang. Nando lumpuh, Ma? Nando tak sanggup terus menerus seperti ini terus. Lebih baik Nando mati saja dari pada hidup seperti ini. Jika kondisi Nando seperti ini, semakin sulit saja Nando untuk mendapatkan Dina," ujar Nando. Dia terlihat frustasi.


"Nando sudah menjadi orang yang tak berguna, tak ada gunanya Nando hidup di sini, Ma," teriak Nando histeris.


"Harusnya kamu bersyukur, karena Allah masih memberikan kesempatan kepada kamu untuk hidup. Mungkin selama ini, kamu memiliki kesalahan. Sehingga membuat Allah murka kepada kamu. Harusnya kamu gunakan kesempatan untuk bertobat, bukan seperti ini. Kamu pikir, kalau kamu mengakhiri hidup kamu, urusan kamu bisa selesai? Urusan dunia memang selesai, tetapi di akhirat kamu akan menderita," ucap sang Papa. Selama ini dirinya diam, tetapi akhirnya dia pun angkat bicara. Dia merasa kesal dengan sikap anaknya yang tak bersyukur. Sang istri selama ini terlalu memanjakan sang anak.

__ADS_1


Nando terdiam, dirinya teringat akan kesalahan yang dia perbuat sama Dina dulu. Penyesalan hanyalah tinggal penyesalan. Tak akan pernah kembali lagi seperti semula. Seperti sebuah gelas yang pecah, meskipun sudah di perbaiki, tetap saja tak akan sempurna seperti awal.


"Nando menyesal, bahkan sangat menyesal. Dengan teganya Nando merusak Dina. Menyakiti hati Dina. Padahal Nando tahu, kalau pada akhirnya Nando akan menikahi Mira untuk menuruti keinginan Mama. Dengan teganya, Nando menaruh benih di rahim Dina. Di saat Dina hamil, Nando justru menjadi seorang pecundang yang tak mau mengakui perbuatan Nando. Dengan teganya Nando justru menuduh Dina bermain dengan laki-laki lain," ucap Nando mengakui semua kesalahan yang dia perbuat kepada Dina. Air matanya terus mengalir deras. Dirinya merasa bersalah.


Sang Mama tak mampu lagi berkata-kata. Dirinya merasa malu dengan ucapan dirinya sendiri. Dirinya terlalu saja bersikap sombong dan merendahkan Dina. Menutup mata dan hatinya.


"Kamu harus ambil anak kamu dari Dina. Dina kan masih bisa buat anak lagi, sedangkan kamu tak bisa lagi memiliki keturunan. Mama harus cari Dina, kamu tau rumah Dina? Lagipula bukannya bagus, dia kan bisa hidup bahagia sama suaminya," Cerocos sang mama. Nando hanya bisa pasrah, dia sudah tak bisa melakukan apapun lagi. Dia sudah terbaring lemah.


"Saran Papa, lebih baik kita bicarakan dulu baik-baik dengan Dina. Sekalian kamu sama Nando minta maaf, atas kesalahan yang kalian perbuat kepada Dina. Jujur Papa merasa kecewa dengan kamu, Papa malu memiliki anak seorang pecundang seperti kamu. Yang mau berbuat, tetapi tak mau bertanggung jawab. Kamu berada di posisi yang salah, semua hanya Dina yang bisa memutuskannya," ucap sang Papa.


"Tapi kan Nando sudah berusaha minta maaf dan sudah ngomong langsung ke Dina, kalau Nando ingin bertanggung jawa dengan menikahi dirinya. Dina saja yang menolaknya," ujar Nando, membela diri.


Yang dilakukan Nando kepada Dina sudah terlambat. Dina terlanjur merasakan sakit hati atas ucapan dan penolakan Nando kepadanya. Sungguh tak mudah bagi Dina untuk melupakannya. Di saat dirinya sudah menikah dengan laki-laki lain, Nando justru tersadar untuk bertanggung jawab. Berusaha merebut Dina dari Rian.


"Sudah! Lebih baik kamu lupakan Dina, dia kini sudah bahagia bersama laki-laki lain yang tulus mencintai dirinya. Lebih baik kamu ikhlaskan saja dirinya, untuk hidup bahagia dengan laki-laki lain.


Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestieku 😍

__ADS_1



__ADS_2