Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Kejutan dari Rian


__ADS_3

"Sebelumnya Saya ingin meminta maaf, jika kedatangan Saya sudah mengganggu Bapak dan Pak Rian. Saya ingin menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan Saya ke sini. Saya ingin mengundurkan diri Pak. Maaf jika sebelumnya, Saya tidak masuk kerja dan tak memberi kabar kepada Bapak," ungkap Dina.


"Saya tahu, kalau kamu sedang persiapan pernikahan kan? Kenapa tidak bilang langsung ke Saya? Kalau kamu akan menjadi saudara ipar Saya," ujar Pak Andi.


Ucapan Pak Andi sekaligus om dari Rian, membuat Dina terharu dan malu. Menutup wajahnya dengan tangannya. Wajahnya sudah terlihat memerah.


"Surprise. Maaf ya Sayang, kalau tadi aku sempat buat kamu tegang. Jujur ini rencana Om Andi, bukan aku. Jadi, kamu jangan marah sama aku ya," ujar Rian mesra.


"Selamat ya Din. Bapak senang banget dengarnya. Saya benar-benar tidak menyangka, kalau akhirnya kita jadi besan. Semoga semuanya berjalan lancar ya, sampai hari H. Kamu kenapa harus berhenti sih. Untuk kamu sama Rian, tak masalah kok kerja satu kantor. Bapak terus terang sudah senang sama kamu. Nanti bingung cari penggantinya lagi," ujar Om Andi.


Om Andi tak mengetahui kasus yang terjadi sama Dina. Raut wajah Dina berubah kaku. Entah mengapa ucapan Om Andi, begitu menusuk ke hati Dina. Dirinya merasa tak enak hati, jika keluarga Rian mengetahuinya.


"Cantik kan Om calon istri aku? Makanya aku sudah tidak sabar ingin nikah. Masa aku mau jadi bujang lapuk, kalau nyatanya menikah lebih indah. Aku ingin Dina fokus mengurus aku di rumah, makanya aku ingin dia berhenti bekerja," ujar Rian.


Dina benar-benar terharu. Rian begitu menutupi aibnya. Membuat Dina semakin tak enak hati. Dian rela jika Rian mencari kebahagiaan lain, berpikir kembali menikah dengannya.


"Om sangat senang mendengarnya. Semoga semuanya berjalan lancar, dan pernikahan kalian bisa langgeng sampai maut yang memisahkan," doa terbaik yang Om Andi ucapkan untuk Dina dan Rian.

__ADS_1


Dina mengucapkan terima kasih kepada Om Andi, karena sudah memberikan kesempatan kepada Dina untuk bekerja di perusahaannya. Setelah perbincangan dengan Pak Andi selesai. Rian dan Dina keluar dari ruangan Om Andi. Dina merasa kikuk harus berdampingan dengan Rian, mantan atasannya.


"Perhatian semuanya! Ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada kalian," ucap Rian membuka omongan. Rian mengumpulkan semua karyawan staf di perusahaan itu. Kini mereka sudah berdiri berhadapan dengan dirinya dan Dina. Dina berdiri di sebelah Rian.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu. Pertama-tama Saya ucapkan terima kasih, karena kalian semua sudah menyempatkan waktunya untuk berkumpul di sini. Tujuan Saya di sini, Saya ingin menyampaikan bahwa teman kita, anggota team Saya, partner kerja Saya. Per hari ini ingin mengajukan pengunduran diri sebagai staf keuangan di perusahaan ini, karena status Dina akan berubah menjadi istri Saya. Kami akan menikah. Dina bukan lagi partner Saya di perusahaan ini, tetapi sebentar dia akan menjadi partner Saya di rumah," ungkap Rian membuat semuanya terkejut mendengarnya, merasa tak percaya.


"Kenapa? Kalian tidak percaya. Apa yang Saya ucapkan bukan sekedar omong kosong. Mungkin kalian bingung. Kok bisa ya? Bukannya Dina sama si A? Pacarannya kapan emang? Pasti itu dong pertanyaan kalian dalam hati. Inilah yang dikatakan jodoh. Sekuat apapun kita menjaga, kalau orang itu bukan jodoh kita pasti dia akan terlepas dari kita. Lamanya suatu hubungan tak menjadi tolak ukur, orang itu akan menjadi jodoh kita. Kita akan menikah dengan orang itu. Jika Allah sudah berkehendak, Allah pasti akan mendekatkan dan mempermudah semuanya. Saya rasa cukup pembicaraan kita. Kami meminta doa yang terbaik dari kalian. Semoga niat baik kami di ridhoi Allah. Mohon maaf, dikarenakan kami akan menikah di kampung halaman Dina. Kami tidak bisa mengundang kalian. Lagi pula pernikahan kami tidak mewah, hanya cukup sebuah kata sah," ungkap Rian.


Membuat para karyawatinya merasa patah hati. Karena pada akhirnya, Rian sudah menemukan pelabuhan hatinya. Yaitu Dina. Banyak perkataan yang mengungkap, beruntungnya Dina bisa mendapatkan Pak Rian.


Rian tersenyum. Karena dia maupun Dina sama-sama merasa beruntung saling memiliki. Mereka saling melengkapi satu sama lain.


"San, enak banget teman lo. Beruntung banget si Dina bisa nikah sama Pak Rian," sindir Vita karyawati bagian administrasi.


"Yaelah syirik aja lo. Kan tadi Pak Rian sudah bilang. Itu namanya jodoh. Kenapa jadi lo yang ribut sih. Usil banget mulut lo," cerocos Sania. Sania merasa kesal karena sikap Vita yang usil.


Rian memilih duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Dina duduk di sofa. Rian tetap menjaga jarak. Rian tak bosan-bosannya memandang wajah ayu istrinya.

__ADS_1


"Tadi aku tuh sempat merasa kesal sama kamu Mas, saat Pak Andi bertanya seperti itu kepada Saya. Aku kesal, karena sebelumnya kamu pernah bilang kalau Om Andi sudah mengetahui pernikahan kita," ujar Dina.


"Aku kan mau kasih kejutan untuk kamu. Biar kamu kesal dulu sama aku," goda Rian membuat Dina merasa malu.


"Ngeselin banget si kamu," ujar Dina ketus.


"Ngeselin, tapi suka kan?" Goda Rian lagi membuat Dina tersipu malu.


Calon suaminya itu memang paling pintar membuat hati Dina merasa bahagia. Selalu membuat dirinya tersenyum, menghilangkan sejenak perasaan sedihnya.


"Kamu pulang duluan saja ya! Maaf aku tidak bisa mengantarkan kamu pulang. Karena setelah pulang kerja, aku ingin menemui kedua orang tua aku, untuk membahas tentang pernikahan kita. Agar bisa segera dilaksanakan," ujar Rian dan Dina mengerti.


Dina berpamitan pulang kepada semua teman-teman di perusahaan itu. Sudah hampir dua tahun lamanya, Dina bekerja di perusahaan itu. Berat rasanya bagi Dina, menerima kenyataan ini.


"Maafkan kesalahan aku ya teman-teman, jika selama ini ada kata-kata atau perbuatan aku yang menyakitkan hati kalian. Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Terus semangat untuk kalian semua. Semoga persaudaraan kita terus terjalin, meskipun aku sudah tidak bekerja lagi di sini. Kalian teman-teman aku yang luar biasa, di tempat ini aku menemukan keluarga baru. Aku juga mau mengucapkan mohon maaf kepada Pak Rian, jika selama ini pekerjaan aku masih banyak kekurangan. Bapak atasan terbaik yang pernah aku temui," ungkap Dina dan Rian membalasnya dengan senyuman.


"Sukses untuk kamu ya, Din. Mungkin kita akan berpisah disini, tetapi selanjutnya kita akan setiap hari bertemu di rumah," ujar Rian.

__ADS_1


"Ya ampun Pak Rian so sweet banget sih. Aku tidak menyangka di balik sikap dinginnya terhadap wanita, ternyata dia menyimpan sifat romantis terhadap wanita.


__ADS_2