
"Pak, ayo siap-siap! Ibu sudah tak sabar ingin melihat cucu kita," ujar Mama-nya Nando.
"Giliran sudah lahir sibuk banget ingin melihat, dulu pas masih dalam kandungan tidak peduli," gerutu bapaknya Nando.
Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Dina melahirkan. Mamanya Nando tampak bersemangat untuk segera menemui cucunya.
Deg!
Jantung Dina berdegup kencang saat melihat mantan ibu kekasihnya datang. Rian langsung menggenggam tangan Dina untuk memberikan kekuatan, memberi kode tak perlu takut. Ada dia yang akan melindunginya. Rian tahu kalau istrinya merasa tegang, wajahnya sangat tegang.
__ADS_1
"Maaf, mau apa ya kalian datang? Kami tak mengharapkan kedatangan kalian," ujar Rian ketus.
"Kedatangan kami kesini, ingin melihat cucu kami yang telah lahir," sahut mamanya Nando dengan tak tahu malu.
Rian tersenyum kecut, saat mendengar mamanya Nando mengucap kata cucu. Sungguh lucu di dengar. Saat sekarang baru mengakui kalau bayi yang baru dilahirkan Dina adalah cucunya.
"Cucu? Apa kami tak salah dengar? Bukankah dulu ibu tak menyukai anak Anda menghamilinya, memiliki cucu dari wanita miskin. Lantas mengapa Anda bicara seperti itu? Apa Anda tak malu dengan pernyataan Anda dulu," sindir Rian membuat mamanya Nando sempat terdiam. Merasa tertampar dengan ucapan Rian.
"Kami ingin merawat anak Nando, sebagai gantinya kalau Bapaknya tak panjang umur. Atau enggak memberi Nando untuk semangat," ujar Mamanya Nando dengan tak tahu malunya membuat Rian tertawa.
__ADS_1
"Apa ibu tak salah dengar dengan ucapan ibu? Ibu pikir anak itu mainan, yang ibu buang jika ibu tak suka, dan sekarang ibu rebut karena berubah pikiran karena ingin memilikinya. Ibu harus hargai dong bagaimana perasaan wanita yang telah berjuang mempertahankan bayi itu di saat anak Anda tak mengakui kalau bayi itu anaknya. Tentu saja sangatlah tak mudah melewati semua itu. Harus merasakan hamil tanpa suami, Laki-laki yang menanamkan benih di rahimnya. Dia harus berjuang merasakan ngidam, hamil sembilan bulan, merasakan sakitnya melahirkan, dan menyusui. Sekarang dengan enaknya ibu ingin mengambilnya dari dia dengan alasan macam-macam. Dimana perasaan ibu sebagai sesama wanita?" cerocos Rian. Hatinya merasa geram, melihat sikap mamanya Nando yang dengan seenaknya ingin mengambil anak itu dari Dina.
"Cucu anak telah mati! Anak ini murni anak Dina. Karena saat dia memberikan dulu, anak Anda tak pernah merasa membuatnya. Mulai detik itu, mati sudah cucu Anda. Lebih baik sekarang Anda pergi dari sini, karena sudah tak ada lagi yang perlu dibicarakan lagi. Urusan Anda telah selesai, bahkan saat anak Anda resmi memutuskan hubungan dengan Dina dan tak mengakui anak yang dikandung Dina saat itu," ujar Rian membuat bapaknya Nando merasa malu dengan tingkah istri dan anaknya.
Sedangkan mamanya tetap saja merasa tak terima, dia tetap berjuang demi anaknya. Dia ingin merebut anak itu dari Dina.
"Tunggu! Kalian tak bisa melarang kami, apapun alasannya, kalian harus sadar dan tak bisa punya pungkiri. Anak itu tetap darah daging Nando. Meskipun dulu dia sempat membuat kesalahan tak mengakuinya, tetapi anak itu tetap saja darah dagingnya Kalian tak bisa melarang seorang Bapak yang ingin bertemu anaknya. Terlebih bapaknya itu, sangat membutuhkan anak itu. Bukannya bagus untuk kalian? Kalian bisa hidup tenang, tanpa ada bayi itu. Kalian masih sama-sama muda, kalian masih bisa membuat anak kandung kalian," ungkap mamanya Nando membela diri.
Pertemuan kali ini terasa alot, mamanya Nando masih saja bersikeras ingin merebut anak itu dari Dina. Meskipun Dina bisa saja membuat anak dengan Rian, tak mudah baginya untuk memberikan begitu saja anak yang baru dilahirkan olehnya. Padahal bapaknya Nando sudah memberi pengertian kepada sang istri, karena Nando berada di posisi yang salah. Keputusan semuanya ada di tangan Dina.
__ADS_1
"Nando membutuhkan anak itu. Dia kritis. Hiks ... hiks ... hiks," ungkap mamanya Nando. Akhirnya pertahanan mamanya Nando hancur juga. Semua dia lakukan demi anaknya, dia berharap anaknya bisa sehat kembali karena bertemu anaknya.
Rian sempat berbicara dengan Dina. Solusi yang akan di capai. Di satu sisi Dina masih mengingat jelas perlakuan mamanya Nando dan Nando dulu. Namun, dia juga merasa kasihan dengan ibunya Nando.