Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Laki-laki Tak Tau Diri


__ADS_3

Nando memperhatikan Dina dan Rian dari jauh. Hatinya merasa panas, sejak tadi dirinya terlihat mengepalkan tangannya. Menahan rasa sesak di dadanya. Ingin rasanya dia segera menghampiri Dina dan Rian.


"Please Din, jangan buat aku tersiksa seperti ini. Aku tak kuasa menahannya lagi. Aku cemburu, aku tak suka kamu bersamanya," gumam Nando matanya terus mengarah ke arah Dina dan Rian.


Nando melihat Rian yang sedang mengelus perut Dina. Membuat dirinya merasa tak terima. Karena anak yang dikandung Dina saat ini adalah anaknya. Nando berjalan mengikuti Dina dan Rian yang kini berada di depannya.


Deg!


Jantung Dina seakan terhenti, saat melihat Nando berada dibelakangnya. Mengikuti dirinya. Dirinya terlihat tegang dan ketakutan, membuat Rian merasa aneh. Wajahnya Dina terlihat pucat, dan tangannya gemetar," Membuat Rian melepaskan genggamannya, dan matanya kini mengarah ke arah Nando yang berada dibelakangnya. Ingin rasanya Rian melayangkan bogeman di wajah Nando. Namun sayangnya saat ini mereka berada di rumah sakit.


Rian dan Dina semakin mempercepat jalan mereka untuk keluar dari rumah sakit. Menuju parkiran mobil. Rian ingin tahu apa yang diinginkan Nando. Hatinya sudah terasa panas.


"Mau apa lagi lo ngikutin kita berdua? Lebih baik lo segera pergi dari sini! Sebelum kesabaran gue habis," ujar Rian ketus.


"Lo mau tau apa tujuan gue di sini? Gue ingin merebut wanita yang gue cintai dari lo! Sadar woy, dia itu lagi hamil anak gue! Aneh lo masih saja mau sama dia," sahut Nando tak kalah ketusnya. Membuta hati Rian merasa panas.


"Asli, gue tuh lucu banget lihat lo. Kemarin lo yang buang dia dari hidup lo, sekarang lo ngemis-ngemis ingin membuat dirinya kembali lagi ke lo. Sadar woy, buka mata lo! Dina itu sudah menjadi milik gue," umpat Rian.


Tak ada yang ingin mengalah. Mereka berdua menganggap dirinya paling benar. Terlebih Nando yang seperti orang yang tak waras. Rian langsung menyuruh Dina untuk masuk ke dalam mobil.


"Dasar laki-laki tak tahu diri! Harusnya lo itu sadar, siapa lo! Bukan seperti orang gila seperti ini," Cerocos Rian. Hati Nando merasa kesal merasa karena dibilang takbtahu diri dan dianggap seperti orang gila. Padahal kenyataannya memang seperti itu. Rian pergi begitu saja, langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraanya.

__ADS_1


"Breng"sek!" umpat Nando.


"Maafin aku ya yang selalu membuat kamu susah," ujar Dina.


"Tak perlu merasa tak enak hati, kamu tak salah. Hanya saja mantan kekasih kamu adalah laki-laki tidak tahu diri. Percaya diri sekali dia, ingin kembali sama kamu, setelah apa yang dia perbuat," ungkap Rian dan Dina terlihat hanya menganggukkan kepalanya. Namun dirinya masih merasa tak bersalah.


Mereka memilih untuk makan dulu sebelum pulang. Dina menginginkan nasi padang. Tentu saja Rian akan menuruti permintaan Dina. Kebahagiaan Dina adalah kebahagiaan dirinya juga. Sedangkan Nando justru telah sampai lebih dulu. Sejak tadi dirinya terus memperhatikan kedatangan Dina dan Rian. Namun sayangnya sejak tadi Rian dan Dina belum juga sampai.


"Breng*sek! Kemana dulu dia berdua? Pasti dia mencoba menghindari aku," ujar Nando.


Hingga akhirnya Nando memilih untuk pulang, dan mencari waktu yang tepat untuk bisa bertemu dan bicara berdua dengan Dina. Dia masih harus bersabar kembali.


Dina dan Rian baru saja sampai di rumah. Pilihannya untuk makan terlebih dahulu adalah tepat. Jika tidak, Rian dan Nando pasti sudah bertengkar.


Hati Rian masih merasa panas, dia sengaja ingin menenangkan terlebih dahulu. Apapun alasannya, dia tak akan pernah memberikan Dina kepada Nando. Rasa cintanya Rian kepada Dina sangat besar, dia akan tetap memperjuangkan Dina untuk tetap bersamanya.


Sania sangat menikmati pekerjaannya. Dia terlihat begitu semangat. Semakin hari rasa trauma yang dia rasa semakin hilang. Sania berhasil melewatinya. Meskipun begitu berat. Mampu menutupi perasaannya.


"Kamu marah? Mengapa kamu cuek sama aku," Protes Dina. Wajahnya terlihat sendu.


Semenjak hamil dirinya kerap merasa sensitif, dan sering kali salah paham. Seperti saat ini yang sedang salah paham. Mengira kalau Rian tak menyayanginya.

__ADS_1


"Sayang! Kan sudah aku bilang. Aku tak mungkin bisa marah sama kamu. Lagi pula kamu itu tak salah, laki-laki itu yang tak tahu diri. Sudah tahu kamu sudah menikah, masih saja terus mengejar kamu. Dulu kemana, di saat kamu butuh dia?" ujar Rian mencoba memberi pengertian kepada istrinya agar tak salah paham lagi.


Dina terlihat lebih tenang, hanya saja perasaan bersalahnya masih singgah di hatinya. Suaminya memang benar-benar laki-laki yang sabar. Yang menerima semua kekurangan dirinya. Dina langsung menyerang Rian, memeluk tubuh Rian dengan erat. Membuat jantung Rian berdegup sangat kencang. Dia takut kalau sampai dirinya khilaf seperti saat dulu.


"Tidurlah! Aku harus bekerja dulu," ujar Rian yang mencoba memberi pengertian kepada sang istri. Rian terpaksa menemani sang istri, tidur di sebelahnya. Mengelus rambut istrinya dengan lembut, hingga akhirnya sang istri tertidur pulas.


"Mana mungkin aku melepaskan kamu untuk dia, bisa gila aku. Aku sangat mencintai kamu," ucap Rian dalam hati. Rian memberanikan mencium perut istrinya yang sudah mulai terlihat membuncit.


"Meskipun kamu bukan darah daging aku, aku akan tetap menyayangi kamu seperti anak aku sendiri. Ayah sayang kamu, seperti Ayah menyayangi Bunda kamu."


Meskipun dirinya sibuk menemani sang istri untuk periksa, di kala waktu luang di berusaha untuk menyempatkan waktu memantau pekerjaan dari rumah. Dia tetap bertanggung jawab. Hal itu yang membuat Om Andi merasa bangga. Sebenarnya kedua orang tua Rian juga memiliki perusahaan, tetapi Rian selalu menolaknya. Dia ingin bekerja keras tanpa bantuan orang tuanya.


"San, Sania, ayo bareng," ujar Pak Raihan, HRD di perusahaan tempat Sania bekerja.


"Terima kasih Pak, tak perlu repot-repot. Kosan saya letaknya tidak terlalu jauh kok dari sini. Terima kasih atas kebaikan Bapak," ucap Sania.


Nando terlihat uring-uringan tak jelas saat di rumah. Dia seperti orang yang tak waras, berteriak-teriak meluapkan perasaannya dan juga melempar barang-barang yang dia lihat. Membuat rumahnya terlihat acak-acakan tak karuan.


"Aku cinta sama kamu, Din. Please kembali sama aku! Aku tak bisa hidup tanpa kamu," ujar Nando.


Hidup Nando menjadi tak karuan, pekerjaannya menjadi berantakan. Dia menjadi tak fokus bekerja. Pihak perusahaan memutuskan untuk memberikan surat peringatan kepadanya. Karena banyak kesalahan-kesalahan yang di perbuat Nando, yang bisa membuat perusahaan mengalami kerugian besar. Bahkan pada hari ini dirinya tak bekerja.

__ADS_1


Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestie ku😍



__ADS_2