Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Ku mohon jangan pernah tinggalkan aku!


__ADS_3

"Kamu kenapa? Mengapa wajah kamu terlihat tegang seperti itu? Aku perhatikan sejak kita keluar tadi dari restoran," ujar Sania saat masih dalam perjalanan menuju hotel. Namun, Reza tak menjawab. Dia memilih untuk diam. Membuat Sania mengerutkan kening, merasa bingung dengan sikap aneh suaminya.


Kini mereka sudah berada di hotel. Reza masih memilih memendamnya. Meskipun dirinya sempat bicara kepada sang istri tentang masa lalunya, tetap saja ada kekhawatiran yang di rasa Reza. Dia takut kalau Sania nantinya akan pergi meninggalkan dirinya, karena tak sudi memiliki suami yang kerap celap celup banyak wanita.


Sania memeluk tubuh suaminya, hal itu membuat Reza semakin tak karuan. Merasa bersalah. Mata Reza terlihat sendu, menatap wajah istrinya.


"Ada apa? Katakan saja, meskipun pahit! Bukankah suami istri jangan ada rahasia? Apa pun itu, aku siap mendengarnya," ucap Sania.


Reza sempat terdiam. Berpikir sejenak apa yang harus dia lakukan. Bisa saja dirinya menyimpan hal ini sendiri, dan mengajak Sania pergi dari hotel ini sekarang juga. Tapi sampai kapan? Sampai kapan dirinya menutupi rahasia ini.


"Tadi aku bertemu Sella, mantan teman ranjang aku. Sepertinya dia tak terima, karena akhirnya aku memilih kamu sebagai istri aku. Jujur, aku takut banget. Kalau sampai Sella bertemu kamu, dan membuat kamu merasa ilfeel dengan aku. Ku mohon jangan pernah tinggalkan aku! Semua itu masa lalu aku, aku janji tak akan pernah melakukannya lagi. Bahkan tadi Sella sempat memberikan alamat tempat dia tinggal dalam secarik kertas, langsung aku robek di depan matanya. Aku juga sempat menampar wajah dia, karena dia berani menghina kamu," ungkap Reza.


Sania justru tersenyum, kala mendengar kejujuran suaminya. Sejak dirinya memutuskan menerima lamaran Reza, mulai detik itu dia menerima Reza apa adanya. Karena dia pun bukan orang yang sempurna. Mereka sama-sama memiliki kekurangan, untuk saling melengkapi.


"Ya ampun, aku kira kenapa? Aku kira orang tua kamu menyuruh berpisah dengan aku, dan kamu masih ingin pertahankan aku. Alhasil kamu menjadi stres," ucap Sania.


"Kamu tahu tidak, apa yang membuat aku jatuh cinta sama kamu?" tanya Reza kepada sang istri.


"Apa?" tanya Sania balik kepada sang suami.


"Wajah kamu yang menggemaskan, dan senyum kamu yang meneduhkan hati aku. Entah mengapa aku langsung yakin saat itu, aku langsung jatuh cinta sama kamu. Kamu itu lugu, sederhana, apa adanya. Mungkin karena aku sudah merasa jenuh dengan model wanita yang berpakaian seksi, dan dandanannya tebal. Sedangkan kamu, saat pertama kali bertemu aku tak dandan sama sekali dan hanya menggunakan kemeja dan celana panjang, sudah terlihat cantik bahkan mempesona," ungkap Reza. Membuat hati Sania meleleh.

__ADS_1


"Bisa saja, merayunya! Dasar gombal! Playboy mah beda, rayuannya bikin wanita klepek-klepek," sahut Sania.


"Ih, beneran! Aku serius, Beb. Lagi pula memang kenapa sih? Orang aku juga merayu istri sendiri, kalau aku merayu wanita lain, baru tuh," cerocos Reza.


Tujuan Reza saat ini hanya ingin membahagiakan istrinya, menjadi suami yang setia dan selalu menyayangi istrinya. Dia juga ingin menjadi Bapak yang baik untuk anak-anaknya kelak. Reza menginginkan anak yang banyak, agar sang anaknya nantinya tak merasa kesepian.


Reza kini sudah mulai tersenyum. Dirinya sudah tak merasa ketakutan lagi. Hatinya sudah terasa tenang. Meskipun nantinya Sella atau wanita lainnya akan bertemu Sania. Cinta yang menguatkan pernikahan mereka.


"Ya sudah tidur yuk, aku merasa lelah. Kamu juga pasti merasa lelah. Besok kita jalan-jalan ya," ujar Reza.


"Akhirnya aku bisa bernapas lega. Aku kira, aku tak akan di kasih kesempatan untuk tidur dan di kurung di kamar terus," sindir Sania.


"Tentu tidak dong, Beb! Kamu itu kan istri aku, bukan ja*lang yang aku bayar untuk memuaskan aku setiap saat. Aku cinta sama kamu," sahut Reza membuat Sania tersenyum.


Malam ini mereka hanya tidur berpelukan, tak butuh waktu lama akhirnya mereka terlelap. Berpelukan, memberi rasa nyaman terhadap pasangan.


Bunyi alarm di ponsel Sania telah berdering, pertanda bahwa mereka sudah waktunya untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Sania berusaha untuk membimbing suaminya, mengajak Reza untuk sholat. Sejak kecil dia tak mengenal sholat ataupun ajaran lainnya, meskipun dirinya seorang muslim. Karena orang tua dan sang Kakek tak pernah mengajarkannya. Sejak dulu dirinya selalu sekolah di sekolah umum.


"Aku masih belum bisa," ujar Reza.


"Ayo semangat! Aku akan membantu kamu untuk belajar! Kalau bukan dari sekarang, kapan kamu akan belajar? Katanya kamu ingin menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita nanti? Berarti kamu harus bisa mengajarkan agama kepada anak-anak kita nanti," ungkap Sania dan Reza menganggukkan kepalanya. Mulai hari itu, Reza berjanji akan giat belajar untuk sholat dan mengenal agama Islam.

__ADS_1


Ternyata tak seperti yang Sania pikirkan, suaminya benar-benar mengajak dirinya berlibur. Mengenalkan banyak hal. Mereka juga kerap mengabadikan momen kebersamaan mereka. Reza juga banyak memotret sang istri dengan berbagai gaya.


"Mas, malu ih. Turunin aku," rengek Sania.


"Sudah diam dulu! Aku ingin ada foto sedang menggendong kamu," sahut Reza. Wajah Sania memerah seperti tomat. Karena kini mereka menjadi pusat perhatian, mereka memuji keromantisan mereka berdua.


"Tuh, kan? Aku malu Mas, turunin aku! Kamu kuat banget sih, aku berat," protes Sania.


Selain mereka berlibur ke tempat-tempat wisata di negara itu, Reza juga memanjakan sang istri dengan berbelanja barang-barang kesukaannya. Sania benar-benar berbeda, tak seperti para ja*lang Reza dulu. Mereka kerap menghabiskan uang Reza untuk berbelanja, jika mereka di ajak berlibur.


"Pilihan aku memang tak salah, alias tepat. Kamu itu wanita yang aku cari-cari sejak dulu, sayangnya kita baru ketemu," ucap Reza


"Maksudnya?" tanya Sania.


"Kamu itu berbeda banget, tak seperti mereka yang hanya menginginkan uang aku saja. Cintanya padaku tak tulus. Tak seperti kamu," ungkap Reza.


"Kata siapa? Aku matre kok, kamu belum tau saja. Aku juga tak setia, kamu belum merasa saja," goda Sania.


Oh, gitu? Lihat saja, kalau sampai hal itu terjadi! Aku akan kurung kamu, agar hal itu tak pernah terjadi," ancam Reza.


Sepanjang jalan, mereka terus bergandeng tangan. Menunjukkan kemesraan. Sania mengajak Reza untuk makan di kedai yang berada di pinggir jalan. Akhirnya mau tak mau Reza menurutinya.

__ADS_1


"Kamu itu lucu ya? Di mana-mana wanita itu senang di ajak makan di restoran mewah. Kamu lucu, justru mengajak makan yang di kedai pinggir jalan," ujar Reza.


__ADS_2