
Seperti yang sudah direncanakan, Pagi ini Sylvia ikut ke kantor bersama Anthony. Bukan tanpa alasan kenapa dia ingin ikut. Selain karena bosan di rumah, dia juga ingin melakukan pendekatan dengan Anthony untuk mempermudah dirinya mencari informasi yang dia inginkan. Lagipula dia juga penasaran dengan perusahaan ABX Company. Dia pernah mendengar jika itu adalah perusahaan terbesar di Amerika dan tidak sembarang orang bisa masuk kesana. Untuk itu dia ingin melihat secara langsung isi dari perusahaan tersebut.
Mobil terparkir sempurna di depan Perusahaan. Daniel turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk kedua majikannya.
"Terimakasih, Niel." ucap Sylvia
"Sama-sama Nona." Daniel kembali masuk ke mobil dan meluncur ke basemen. Sedangkan Anthony dengan sigap memeluk pinggang Sylvia dan masuk ke perusahaan.
Dia terlihat tidak suka saat Sylvia tersenyum pada Daniel. Dia juga menginginkan senyuman itu. Tapi yang dia dapat hanya pukulan dan tendangan. Sungguh wanita yang hebat. Dia jadi berfikir, jika bertarung di atas ranjang, apa Sylvia juga sehebat itu?
Anthony tersenyum memikirkan hal itu. Hah... Kapan semua itu akan terjadi? Rasanya dia sudah tidak sabar. Pasti akan sangat menyenangkan bermesraan di atas ranjang dan saling memberi kenikmatan.
"Selamat pagi Tuan, Nona." sapa para karyawan.
"Pagi." Sylvia membalas sapaan karyawan Anthony dengan senyuman. Berbeda dengan Anthony yang berjalan tegap dengan wajah datar tanpa ekspresi dan tatapan yang tajam.
Mereka masuk kedalam lift khusus tapi Anthony masih belum melepaskan pelukannya. Hal itu membuat Sylvia mendengus kesal. "Jika bukan karena ingin mencari tahu tentang kematian Mommy dan Daddy, aku tidak akan sudi di peluk seperti ini." gerutunya dalam hati.
Lift terbuka, mereka keluar dari lift dan langsung di suguhkan pintu besar berwarna hitam dengan dua bodyguard di sana. Sylvia bisa menebak, pasti nuansa ruangan Anthony juga berwarna gelap.
Dan benar saja, saat mereka masuk ke ruang Presdir, Sylvia melihat ruangan dengan minim cahaya. Dia heran, apa Anthony tidak merasa pengap?
Sylvia berjalan kearah jendela dan membuka korden. "Apa kau seorang Vampir yang takut akan cahaya matahari?"
Anthony tersenyum dan memeluk Sylvia dari belakang dan menopang dagunya di bahu Sylvia. " Aku bukan vampir yang takut akan cahaya matahari. Tapi aku hanya seorang pria yang kesepian dan menanti seseorang yang akan menerangi kehidupanku."
Sylvia terdiam. Dia melepas pelukan Anthony dan memilih duduk di sofa. Bagaimana bisa Anthony merasa kesepian jika di sekitarnya saja begitu banyak bodyguard. Dan jangan lupakan Daniel yang selalu setia berada di samping pria itu.
"Aku akan mengerjakan pekerjaan ku. Jika kau merasa bosan, kau boleh berkeliling. Tapi ingat!! Jangan pergi tanpa ijin dari ku." seru Anthony
"Iya iya. Cerewet sekali." gerutu Sylvia
Anthony tersenyum dan duduk di kursi kebesarannya. Dia mulai menyalakan laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya. Sedangkan Sylvia memilih membaca surat kabar yang tersedia di meja. Dia ingin tahu ada berita apa kali ini.
Tapi belum sempat Sylvia membuka koran tersebut, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tok Tok Tok
"Masuk!!" seru Anthony
__ADS_1
Seorang wanita dengan blazer berwarna coklat yang dipadukan dengan bawahan yang minim terlihat masuk dengan melenggak-lenggok kan tubuh nya bak super model.
"Selamat pagi Tuan. Ini ada berkas yang harus anda tandatangani." Wanita yang tak lain adalah sekretaris Anthony memberikan sebuah map yang langsung di terima oleh Anthony.
Wanita itu bernama Anne. Dia terlihat melirik sinis kearah Sylvia. Dia sudah lama mengincar Anthony dan mencoba menarik perhatiannya. Tapi pria itu sama sekali tidak meliriknya dan sekarang Anthony justru menikah dengan wanita kampungan seperti Sylvia. Sangat tidak adil. Dia yakin jika Sylvia menggunakan trik licik untuk mendapatkan Anthony.
Anthony memeriksa berkas tersebut dan menandatanganinya. Dia melempar map tersebut di depan Anne tapi wanita itu justru melirik kearah lain.
Anthony menggeram kesal. Dia paling tidak suka dengan karyawan yang tidak fokus. "Apa yang kau lihat? Apa kau sudah bosan bekerja di perusahaan ini? Kau tahu, aku paling tidak suka karyawan yang tidak fokus."
"Ma_maafkan saya Tuan." Anne mengambil map tersebut dan pamit undur diri. Dia melirik sinis kearah Sylvia sebelum benar-benar keluar dari ruangan tersebut.
Sylvia menghela nafas panjang. Bukan dia tidak tahu, tapi dia tidak perduli dengan tatapan wanita jadi-jadian barusan. Dia bisa memakluminya. Mereka pasti iri padanya karena bisa menikah dengan pria yang mungkin sangat mereka kagumi. Andai dia menyukai Anthony, dia pasti akan merasa bangga karena menjadi pemenangnya. Tapi sayangnya dia tidak merasa demikian.
Sylvia menaruh kembali surat kabarnya. Dia jadi malas untuk membacanya. Dia lebih memilih melihat setiap sudut di ruangan Anthony.
Walaupun terkesan menyeramkan karena penuh dengan warna hitam, tapi dia akui ruangan itu memiliki desain interior yang elegan untuk seorang pria seperti Anthony.
Tok Tok Tok
"Masuk!!"
"Selamat pagi Tuan. Saya ingin membacakan jadwal Anda hari ini." seru Daniel
"Hm."
"Jam 9 ada meeting dengan perusahaan Tuan Max dilanjutkan dengan pengecekan barang di gudang dan pembangunan pusat perbelanjaan di St. Beulevard. Dan jam 3 sore ada meeting dengan perusahaan dari Korea." ucap Daniel.
"Minta Tuan Max untuk datang kemari. Kita akan meeting di sini saja. Dan untuk pengecekan barang di gudang, kau saja yang lakukan dan kirimkan datanya padaku. Jika sudah, kita akan berangkat meninju pembangunan pusat perbelanjaan. Dan untuk meeting dengan perusahaan Korea, minta Anne untuk mewakili ku. Aku yakin Tuan Kim lebih suka jika wanita itu yang datang."
"Baik Tuan." Daniel membungkukkan badannya dan keluar dari ruangan Anthony.
"Seperti nya kau sangat sibuk hari ini." seru Sylvia
"Aku selalu sibuk setiap harinya. Tapi karena ada kau sekarang, akan aku usahakan untuk pulang lebih awal."
Sylvia memutar kedua bola matanya malas. Lagi-lagi karena dirinya. Dia tahu jika Anthony berusaha mendapatkan hatinya. Tapi ucapan Anthony barusan terdengar sangat menggelikan baginya.
"Aku mau keluar sebentar. Aku ingin melihat-lihat perusahaanmu."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan meminta Daniel untuk mengantarmu." seru Anthony
"Aku bukan anak kecil." gerutu Sylvia. Tanpa dia sadari sekarang dia terlihat menggemaskan dengan memanyunkan bibirnya.
Anthony langsung mendekati Sylvia dan menarik pinggang wanita itu hingga menempel padanya. "Bukan begitu sayang. Aku hanya tidak ingin kau tersesat."
"Ck.. Apa kau lupa siapa aku?"
"Baiklah-baiklah. Pergilah!! Tapi segera kembali. Jika terjadi apa-apa segera hubungi aku. Apa kau mengerti?"
"Kenapa kau selalu memperlakukanku seperti anak kecil, Anthony? Dasar menyebalkan." Sylvia melepaskan pelukan Anthony dan keluar dari ruangan tersebut.
Anthony terkekeh. Dia kembali duduk di kursinya dan mengerjakan kembali pekerjaannya. Dia merasa senang karena Sylvia tidak menolak sentuhan nya. Walaupun wanita itu masih menghindari nya, tapi tidak masalah. Ini adalah kemajuan yang bagus.
Tok Tok Tok
"Ck.. Masuk!!!" seru Anthony
Pintu terbuka dan Daniel masuk dengan sedikit tergesa-gesa.
"Ada apa lagi?" tanya Anthony
"Identitas Nona tersebar di sosial media, Tuan. Bahkan banyak surat kabar yang memuat berita palsu tentang kehidupan Nona Sylvia."
"Apa? Kenapa bisa begitu?" bentak Anthony
"Maaf Tuan. Sepertinya ada yang iri dengan Nona Sylvia. Dan dia berusaha menjatuhkan nona dengan menyebarkan informasi palsu itu pada awak media." Daniel mengambil surat kabar di meja dan memberikannya pada Anthony.
"Semua tertulis di sini Tuan, tentang siapa nona dan bagaimana cara nona menjerat tuan agar mau menikah dengan nona." lanjut Daniel
"Brengsek!! Cari tahu siapa yang berani menyebarkan informasi palsu itu!!" titahnya
"Untuk hal itu, saya sudah menyelidiki nya Tuan. Ada yang mengirim informasi itu pada awak media. Tapi mereka tidak tahu siapa yang melakukannya. Dan para jurnalis mulai menelusuri informasi tersebut."
Anthony mengepalkan tangannya. Dia tidak memberitahu pada media siapa Sylvia karena memang identitas wanita itu di sembunyikan oleh negara. Tapi dia tidak menyangka ada oknum tidak bertanggungjawab menyebarkan fitnah yang begitu keji mengenai Sylvia .
"Cari tahu siapa pelaku yang sudah menyebar informasi tentang Sylvia. Bawa dia ke tempat biasa. Aku sendiri yang akan memberi mereka pelajaran." perintah Anthony
"Baik Tuan."
__ADS_1