
"Turunlah!!! Aku masih harus pergi." ucap Anthony setelah mereka sampai di depan rumah.
"Kau mau kemana?" tanya Sylvia
"Aku akan pergi sebentar. Aku berjanji tidak akan lama."
"Ck.. Mau sebentar atau tidak itu bukan urusan ku." Sylvia turun dari mobil dan langsung masuk ke rumah.
Anthony hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat perubahan Sylvia. Tadi saat di kantor Sylvia terus menempel padanya dan sekarang dia kembali acuh tak acuh padanya. Hah... Wanita memang sulit untuk dimengerti.
"Jalan!!" perintahnya pada Daniel
"Baik." Daniel menginjak pedal gas meninggalkan pekarangan rumah mewah tersebut.
Sementara itu, Sylvia bergegas masuk ke kamar dan mengunci pintu. Dia ingin segera mandi karena seharian dia harus menempel pada Anthony hanya untuk membuktikan pada semua karyawan jika dia adalah wanita kesayangan pria itu.
"Ck.. Bisa-bisanya aku melakukan hal bodoh seperti itu. Tahu begini, aku tidak akan ikut ke perusahaan." gerutu Sylvia. Dia mulai masuk ke bathtub dan berendam sejenak. Walaupun dia tidak melakukan apapun tapi dia merasa sangat lelah.
Sylvia memejamkan matanya. Dia sedang memikirkan cara untuk mencari tahu tentang kejadian 22 tahun. Apakah benar, Anthony terlibat dalam kasus pembunuhan kedua orang tuanya atau tidak.
Tapi itu sangat sulit, Jika dia meminta Anthony untuk menceritakan sepak terjangnya di dunia hitam, belum tentu dia mau menceritakan siapa saja yang menjadi korbannya. Lagipula dia tidak yakin jika Anthony masih mengingatnya.
Pembunuh cenderung melupakan siapa saja yang sudah menjadi korbannya. Yang dia rasakan hanyalah kepuasan saat berhasil membunuh seseorang atau merasa unggul dari orang lain. Kecuali, jika memang ada dendam di antara keduanya.
Sylvia membuka matanya. Iya, dendam. Haruskah dia mencari tahu siapa saja musuh yang kira-kira menyimpan dendam pada ayahnya?
Mungkin dia bisa memulainya dari Anthony. Siapa tahu, ayahnya pernah menggagalkan transaksi terlarang yang dilakukan Anthony yang membuatnya rugi dan akhirnya menyimpan dendam pada ayahnya. Tapi , apa hanya karena itu, Anthony akan membunuh? Dia pria yang kejam, kesalahan sekecil apapun akan mendapatkan hukuman mati. Jadi tidak ada salahnya mengambil kesimpulan seperti Itu.
Tapi tetap saja, ini sangat rumit. Informasi dari Damian menunjukkan jika Anthony adalah pelaku nya karena saat itu dia berada di sekitar TKP. Menurut Damian, Anthony mempunyai tatto bergambar Nail Snake . Dan itu adalah satu-satunya petunjuk penting yang Sylvia punya.
Saat kejadian , Sylvia melihat dengan jelas tato bergambar Nail Snake di lengan si pembunuh. Dan hal itu hanya di ketahui oleh Sylvia dan rekan nya yang sudah meninggal. Jadi agak aneh jika tiba-tiba Damian membahas tentang tato tersebut. Karena dia hanya menceritakan pada Damian tentang pembunuhan kedua orang tuanya saja. Tentang siapa kedua orangtuanya pun, Damian tidak tahu.
__ADS_1
Tapi, jika benar Anthony mempunyai tatto tersebut, di mana dia membuatnya? dia tidak melihat tatto Nail Snake di lengan Anthony . Apa Anthony membuat tato di tempat yang tertutup? Haish... Apa dia harus menelanjangi Anthony untuk mencari tato itu?
Tapi tunggu dulu!!! Apa hal itu tidak terlihat aneh? Peristiwa itu terjadi sekitar 22 tahun yang lalu. Dan saat itu dia berusia 3 tahun. Itu artinya Anthony berusia 13 tahun. Apa mungkin di usia semuda itu, Anthony sudah membunuh orang lain?
Sylvia menghela nafas panjang dan mulai menyelesaikan ritual mandinya. Sekarang dia benar-benar harus mendekati Anthony jika ingin tahu semuanya.
Sylvia keluar dari kamar mandi dan memakai bajunya. Dia mengambil laptopnya dan duduk di tepi tempat tidur. Dia akan menggabungkan bukti yang dia dapatkan dengan informasi dari Damian. Siapa tahu dengan begitu akan terbentuk satu skenario terbunuhnya kedua orangtuanya.
Tapi saat Sylvia sedang serius menatap layar laptopnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia melihat nama kontak seseorang yang dia kenal. Sylvia tersenyum dan mengangkat sambungan telepon tersebut.
"Dengan wanita cantik disini, ada yang bisa ku bantu?" seru Sylvia terkikik pelan menjawab telepon seseorang
"Aku sedang tidak ingin bercanda, Sylvia. Ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu. Karena hanya kau yang bisa menolong ku saat ini." jawab Barbara teman sekaligus tetangga Sylvia
"Ok baiklah, maafkan aku. Katakan! Ada apa sebenarnya? Kenapa kau terdengar ketakutan?" ujar Sylvia
"Bagaimana aku tidak takut jika wartawan terus saja mengejar ku dan juga Emily."
"Apa yang kau katakan, Barbara? Kenapa kau bisa di kejar wartawan?" tanya Sylvia
"Apa di sana tidak ada televisi? Astaga Sylvia. Apa setelah menikah kau begitu sibuk bercinta sampai-sampai tidak melihat berita besar."
"Hei.. Jaga mulutmu!! Siapa yang bercinta? Dasar menyebalkan." gerutu Sylvia. Dia mengambil remote dan menyalakan televisi dan melihat berita tentang dirinya. Pantas karyawan Anthony menyebutkan kampungan. Ternyata hanya karena dia berasal dari kalangan bawah.
"Wow, kau masuk televisi, Barbara. Kau terkenal sekarang." canda Sylvia
"Ck.. Jangan mengejek ku, Sylvia. Aku di kejar wartawan juga karena mu. Mereka ingin mencari informasi tentang dirimu dari kami. Untuk itu, kami ingin minta tolong padamu. Minta suami mu untuk menghentikan semua ini. Kami merasa terganggu."
"Kenapa harus Anthony?" tanya Sylvia bingung. Mereka tinggal menjawab apa yang mereka ketahui tentang dirinya dan semua selesai. Tidak perlu melibatkan Anthony untuk hal sepele seperti itu kan? pikir Sylvia
"Karena hanya suamimu yang bisa menghentikan mereka. Ya sudah. Aku hanya ingin mengatakan itu saja. Walaupun terlambat, tapi aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Bye." Barbara menutup teleponnya secara sepihak sebelum Sylvia berbicara lebih lanjut. Tapi Sylvia tidak ambil pusing. Dia justru fokus ke layar televisi.
__ADS_1
Hampir satu Minggu dia menikah dengan Anthony dan wartawan baru sekarang menemukan identitasnya? Apa begitu sulit mendapatkan informasi tentang dirinya?
Sylvia tak berkedip melihat berita tentang dirinya. Dia mengepalkan tangannya saat mereka seenaknya menyebarkan berita palsu mengenai dirinya.
Mereka dengan mudahnya mengatakan jika dirinya menggoda Anthony untuk bisa menikah dengan pria itu. Bahkan mereka dengan keji menyebar rumor jika dia adalah seorang jalan9 hanya karena ada yang melihat dia bertemu dengan pria di cafe Black Blue Barista. Sungguh berita yang besar.
Entah mengapa dia jadi teringat dengan Damian. Waktu bertemu dengannya, Sylvia menyamar dengan menggunakan masker dan kacamata hitam. Jadi dari mana mereka tahu begitu detail jika dia bertemu dengan seorang pria di cafe tersebut. Bahkan hari dan jam nya begitu tepat. Apa mungkin Damian yang menyebarkan berita itu? Tapi untuk apa Damian melakukan hal itu?
Ponselnya kembali berdering dan kali ini yang menelponnya adalah Damian. "Kebetulan sekali." Sylvia menggeser keatas tombol berwarna hijau dan menempelkan ponsel di telinganya
"Ada yang ingin kau jelaskan, Damian?"
"Sylvia, dengarkan aku!! Aku tahu kau pasti mencurigai ku. Tapi aku berani bersumpah, bukan aku yang melakukannya." seru Damian bersungguh-sungguh
"Apa dengan bersumpah, aku akan percaya begitu saja?"
"Aku tahu, tapi aku benar-benar tidak melakukannya. Coba pikirkan, apa keuntungan yang aku dapatkan dengan menyebarkan berita itu? Jika mereka tahu jika aku adalah pria yang kau temui, bukankah aku akan menjadi bulan-bulanan mereka ? Apa kau pikir aku mau, hah?''
Sylvia terdiam. Memang benar tidak ada untungnya Damian melakukan hal itu. Lalu jika bukan Damian, lalu siapa yang melakukannya?
"Oke, aku akan mencoba percaya padamu. Tapi aku ingin bertanya, Ini mengenai map yang kau berikan padaku. Dari mana kau mendapatkan bukti-bukti itu?" tanya Sylvia
"Aku mempunyai teman. Dia seorang detektif swasta. Dan aku memintanya untuk menyelidiki kasus orangtuamu." ujar Damian.
Sylvia tidak membalas ucapan Damian. Matanya fokus pada televisi. Dia menekan tombol pause dan mendekat. Ada gambar Nail Snake dari salah satu wartawan yang berebut mewawancarai Barbara dan Emily.
"Sylvia!! kau mendengar ku?"
"Nanti aku telepon." Sylvia mematikan sambungan telepon secara sepihak. Dia mengambil foto pria bertato Nail Snake, menggunakan kamera ponselnya.
Dia men-zoom foto tersebut untuk Melihat lebih jelas pria yang menjadi wartawan tersebut. Tapi sayang, wajahnya tidak terlihat begitu jelas. Tapi Sylvia ingat dengan jelas, tato itu mirip sekali dengan tatto orang yang membunuh ibunya.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus mencari pria ini. Dengan begitu, Aku akan tahu, siapa dalang yang sebenarnya."