
Setelah peristiwa itu, Sylvia mendapatkan perawatan intensif. Lukanya cukup serius. Tapi wanita itu tidak menunjukkan rasa kesakitan. Mungkin dia sudah merasa lega karena bisa membalaskan kematian kedua orangtuanya.
Begitu juga dengan Anthony. Walaupun pria itu terlihat biasa saja dan sudah memulai aktivitas seperti biasa, tapi ada kelegaan di hatinya.
Dia bekerjasama dengan pihak kepolisian dan juga FBI untuk membereskan kekacauan yang terjadi di markas Tuan D.
Dan dari sana di ketahui jika Tuan D adalah penjahat yang kapten William cari. Dia sangat sulit di tangkap karena suka berganti-ganti penampilan di tambah dengan kekuasaannya, membuat polisi tidak bisa menangkapnya.
Sedangkan Kehl yang merupakan mafia, dia juga menjadi target penegak hukum. Di duga jika pria itu melakukan transaksi terlarang dan melakukan penipuan dan juga pembunuhan. Tapi karena kurangnya bukti membuat Kehl tidak bisa di tangkap.
Tapi sekarang semua kebusukan mereka telah terbongkar. Dengan kematian mereka, polisi menemukan orang-orang yang terlibat kejahatan mereka. satu persatu dari mereka berhasil di tangkap dan mendapatkan hukuman setimpal.
Dan untuk apa yang telah terjadi, polisi dan FBI sepakat memberitahu pada masyarakat jika mereka bekerjasama untuk menangkap para penjahat itu. Tapi terjadi perlawanan yang membuat mereka harus menggunakan senjata.
Mereka yang sudah mati akan di kuburkan dengan layak dan untuk yang masih hidup akan menjalani proses hukum sesuai kejahatan mereka.
Polisi dan FBI juga memberikan bukti atas keterlibatan petinggi FBI. Dan saat ini, John yang merupakan ketua petinggi FBI tengah menjalani proses sidang.
Banyak masyarakat yang menyuarakan untuk menghukum mati John. Mereka ingin menyaksikan secara langsung proses eksekusi John.
"Hari ini tertanggal 28 April 2023 dengan berbagai timbangan atas kejahatan pelaku, kami sudah putuskan untuk menjatuhkan hukuman mati untuk saudara John Anderson yang akan di laksanakan besok tanggal 29 April 2023." seru sang hakim
Semua orang yang menyaksikan proses sidang bersorak. Dan memaki John saat pria itu di bawa kembali ke sel nya. Mereka tidak sabar menunggu esok karena mereka ingin menyaksikan eksekusi John Anderson.
Sementara itu, Sylvia yang menyaksikan sidang dari televisi merasa sangat puas karena John mendapatkan hukuman setimpal.
Besok dia juga akan datang saat proses eksekusi di laksanakan. Dia juga ingin pergi ke suatu tempat.
"Apa kau puas, hm?" Anthony duduk di samping Sylvia dan ikut menyaksikan siaran langsung proses sidang John.
"Yeah. Aku sangat puas. Akhirnya aku bisa membalaskan kematian Mommy dan Daddy." Sylvia menatap Anthony dan kembali berkata, "semua tidak akan berhasil jika kau tidak membantu. Terimakasih Thon." ucapnya
"Aku melakukan itu juga karena ingin membalas kematian kedua orangtuaku. Jadi jangan berterimakasih padaku."
Sylvia tersenyum dan mengangguk. "Ya, kau benar. Kita sama-sama lega sekarang." ucap Sylvia
"Tidak!!"
Sylvia mengerutkan keningnya menatap Anthony. "Tidak?" tanyanya bingung.
"Ya, aku belum lega karena ada sesuatu yang belum bisa aku lakukan sampai sekarang." seru Anthony
"Apa itu?" tanya Sylvia
__ADS_1
"Kau ingin tahu?" tanya Anthony yang di jawab anggukan oleh Sylvia. "Siapa tahu aku bisa membantumu." seru Sylvia
"Apa kau yakin?" tanya Anthony memastikan.
Sylvia mengangguk. Melihat hal itu, Anthony mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Sylvia.
"Aku ingin mempunyai anak denganmu." bisik Anthony
Sylvia melebarkan kedua matanya. Dia mendorong Anthony dan berdiri. "Dasar gila." umpat Sylvia. Dia pergi meninggalkan Anthony.
"Hei.. Kau bilang ingin membantu." teriak Anthony. Tapi Sylvia justru mengacungkan jari tengah nya tanpa menoleh sedikitpun.
Anthony tertawa keras.Dia menyusul Sylvia yang masuk ke kamar. Dia takut jika singa betina nya itu marah padanya.
Tapi saat dia masuk, dia mendapati Sylvia yang duduk di tepi tempat tidur dengan menggunakan lingerie.
Glek
Anthony menelan ludahnya susah payah. Dia mendekati Sylvia yang terlihat menunduk malu.
"K_kau...
"Aku ingin memberimu kejutan nanti malam. Tapi kau sepertinya sudah tidak sabar. Jadi aku....
"Andai kau tahu aku sangat menanti hari ini tiba. Tidak perduli pagi ataupun malam. Jika kau memang sudah siap, maka aku akan melakukannya." Seru Anthony
"A_aku sudah siap." sahut Sylvia
"Apa kau yakin, hm? Aku tidak mau kau terpaksa sayang."
Sylvia mengusap wajah Anthony dan berkata, "aku sangat yakin. Dendamku sudah terbalas. Aku bisa hidup tenang sekarang. Dan aku juga ingin menjalani hidup normal seperti orang pada umumnya dengan mempunyai keluarga yang utuh."
"Apa itu artinya kau....
Sylvia mengecup bibir Anthony sekilas. "Ya, aku mencintaimu."
Bibir Anthony mengembang. Dia memeluk Sylvia dan mengucapkan terimakasih karena telah mencintai.
"Aku sangat bahagia. Aku sangat bahagia." Anthony mencium bibir Sylvia berkali-kali. "Jadi apa sekarang aku boleh melakukannya?" tanyanya lagi
"Lakukan sayang!!! I'm yours." bisik Sylvia
Mendengar itu, Anthony segera menegakkan tubuhnya dan melepas kain yang melekat di tubuhnya. Dia kembali mengukung Sylvia dan memberikan sentuhan lembut dengan lidah dan kedua tangannya.
__ADS_1
Sylvia mengerang saat Anthony bermain di area sensitifnya. Dia meremas rambut pria itu dan membusungkan dadanya karena rasa nikmat yang dia rasakan.
Walaupun tidak mempunyai pengalaman, tapi dengan naluri keduanya berhasil menyatu mencari kenikmatan surga dunia bersama-sama.
Mereka mengerang saat titik kenikmatan mereka saling bersentuhan. Gerakan yang berirama membuat mereka saling bertautan mencapai puncak kenikmatan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
KEESOKAN HARINYA
Anthony dan Sylvia berdiri tidak jauh dari tempat eksekusi. Mereka ingin menyaksikan secara langsung proses eksekusi John Anderson.
"Kau yakin tidak ingin melihat lebih dekat? Mungkin dengan melihat mu berdiri di barisan paling depan akan membuat John takut." seru Anthony
"Tidak. Dari sini saja sudah cukup." ucap Sylvia
Tidak berapa lama John di bawa ke tempat eksekusi dengan tangan diikat kebelakang dan kepala yang di tutup menggunakan kain.
Algojo membuka kain tersebut dan John bisa melihat orang-orang yang berdiri di depannya. Orang-orang yang ingin menyaksikan kematiannya.
Algojo mendorong John pada alat guillotine. Dia tengkurap dan algojo memposisikan kepalanya di tengah papan. Dan dalam hitungan detik, sang algojo melepaskan pisau besar yang terjun ke bawah dan....
Crash...
Pisau itu memenggal kepala John hingga terpisah dari tubuhnya.
Sylvia melihat dengan tatapan dingin. Dan setelahnya dia pergi dari tempat tersebut karena masih ada tempat yang ingin dia kunjungi.
Sylvia pergi ketempat itu sendiri dan meminta Anthony untuk menunggunya di mobil karena dia tidak akan lama.
Dia hanya ingin mengunjungi tempat peristirahatan terakhir sahabatnya, Damian.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Sylvia dan yang lain sepakat untuk memberitahu masyarakat jika Damian adalah korban. Hingga Damian mendapatkan gelar pahlawan karena gugur saat bertarung dengan musuh.
Bukan tanpa alasan kenapa mereka melakukan hal itu, selain karena Damian sangat berprestasi dan sudah lama mengabdi pada negara, Damian hanya terhasut oleh iming-iming yang di berikan John dan tuan D. Apalagi dia belum sempat melakukan kejahatan besar.
Tapi walaupun begitu bagi tim Alva, Damian adalah seorang pengkhianat.
"Beristirahatlah dengan tenang, Dam." Sylvia melempar sebuah bunga mawar putih dan pergi begitu saja.
Sampai kapanpun, kebenaran akan terungkap. Walau sedalam apapun kau menyembunyikannya. Bau busuk kejahatan yang kau lakukan akan tercium juga.
...~The End~...
__ADS_1