Terpaksa Menikah Dengan Mafia

Terpaksa Menikah Dengan Mafia
Rest In Peace, Axe


__ADS_3

"Axel!!"


Deg


Axel menoleh dan melihat orang yang sangat dia kenal. "Aku tidak menyangka jika di FBI ada sekelompok serigala. Dan kau adalah bagian dari mereka." sentak Axel


"Kau benar, Axe. Aku adalah bagian dari mereka. Aku ikut bergabung karena aku sangat ingin membunuh Anthony." seru pria itu


"Lalu bagaimana dengan Sylvia? Bukankah dia adalah teman kita?" teriak Axel


Pria itu tertawa lantang, "apa kau bilang? Teman? Dia adalah istri Anthony. Itu artinya dia juga musuh. Dan maafkan aku, Axe. Kita harus mengakhirinya di sini." pria itu memberi kode pada anggota FBI untuk menghabisi Axel.


Tapi dengan kemampuan yang di milikinya, Axel berhasil mengalahkan mereka. Dan dia berusaha untuk lari walaupun tubuhnya juga terluka.


Axel berhasil keluar dari markas FBI. Dia terus berlari dari kejaran FBI. Dia harus selamat untuk menyampaikan hal penting ini pada Sylvia. Tapi sayangnya lagi-lagi FBI berhasil mengejarnya. Axel kembali bertarung dengan mereka dengan sisa tenaga yang dia punya.


"Aku harus bertahan." batin Axel. Dia merebut senjata FBI dan menembaki mereka.


"Aku harus segera pergi dari sini." Axel kembali berlari. Tapi tenaganya sudah terkuras habis untuk bertarung. Alhasil dia bersembunyi dan mulai menghubungi Sylvia.


"Halo Axe, ada apa?" seru Sylvia di seberang sana


"To_tolong.....


Dor

__ADS_1


Belum sempat Axel berbicara, sebuah tembakan mendarat di bahunya. "Akh..." teriak Axel.


"Axe!! Halo.. Axel!!!" teriak Sylvia


"Maafkan aku, Sylvia." batin Axel. Dia mematikan sambungan telepon dan kembali berlari.


Sesekali dia menoleh untuk memastikan mereka tidak lagi mengejar. "Aku sudah tidak kuat lagi. Apa aku akan mati sekarang?" Axel melihat ada bunga tulip putih kesukaan ibunya. Dia menangis karena gagal menjadi anggota penegak hukum seperti yang diinginkan mendiang ibunya.


"Maaf Mom. Aku gagal." isak Axel. Tapi sedetik kemudian dia menghapus air matanya. "Tidak!! Aku tidak boleh menyerah. Jika aku mati sekalipun, aku tidak ingin mati sia-sia." Axel membuka ponselnya dan mengeluarkan memory card dari ponsel. Dia menyembunyikan memory card tersebut di tengah-tengah bunga tulip putih. Kemudian dia menghapus history panggilan Sylvia dan menghubungi orang lain secara acak.


Dor


"Akh..." Lagi-lagi Axel tertembak. Dia terjatuh di tanah dan tersenyum menatap bunga tulip putih di sana. "Sebentar lagi kita akan bertemu Mom." batin Axel.


Tap


Tap


Tap


Dor


Dor


Dor

__ADS_1


Axel meneteskan air matanya karena berakhir di tangan temannya sendiri.


Pria itu menendang Axel hingga terbalik dan setelah memastikan Axel sudah tidak bernyawa lagi, pria itu menghancurkan ponsel Axel.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah ruangan yang menjadi saksi bisu tempat peristirahatan terakhir sosok pahlawan yang kini terbaring dengan damai, kini di penuhi oleh pelayat.


Mereka ingin melihat sekaligus mengantar teman, sahabat serta rekan mereka, Axel Ellard.


Satu persatu dari mereka maju untuk melihat Axel yang tertidur damai dengan senyuman di bibirnya. Mereka mengucapkan kata terakhir dan meletakkan bunga mawar putih di depan peti.


"Axe, aku tidak menyangka jika kau pergi begitu cepat. Kau adalah orang yang paling baik di tim Alfa. Kau menjadi penengah saat kita berseteru. Tapi sekarang kau memilih pergi. Bagaimana kami tanpa mu, axe?" Barra tidak bisa menahan tangisnya. Dia memilih mundur dan memberi ruang untuk yang lain mengucapkan kata perpisahan dengan Axel.


Sylvia yang juga hadir merasa bersalah karena tidak bisa membantu Axel saat pria itu dalam bahaya.


Menurut penyelidikan, Axel di tembak oleh preman yang menjadi buronan selama sepekan ini. Tapi insting nya mengatakan jika semua ini tidak sesederhana itu. Axel orang yang hebat, jadi tidak mungkin dia dengan mudah di kalahkan preman. Apalagi luka yang di dapatkan Axel terasa tidak wajar.


"Axe, kau adalah pahlawan ku. Kau selalu mengatakan jika kau akan melindungi ku. Tapi sekarang kau sudah pergi. Siapa nanti yang akan melindungi ku?" Amel terisak. Dia berusaha untuk kuat dengan kepergian Axel yang tiba-tiba.


"Aku membawakan bunga kesukaan mu, Bunga tulip putih. Kau bilang bunga ini adalah kesukaan mendiang ibumu, bukan? Dan sekarang aku membawakannya untuk mu." Amel meletakkan bunga tersebut dan kembali berkata, "Semoga kau tenang di sana, Axe."


Sekarang giliran Sylvia yang mendekat. Dia meletakan bunga mawar putih tanpa mengucapkan apapun. Tapi dalam hatinya dia menangis. "Aku berjanji akan menemukan orang yang sudah membuat mu seperti ini, Axe. Dan aku pastikan dia akan mendapatkan balasan yang setimpal." batin Sylvia.


Setelah semua mengucapkan perpisahan dengan Axel, kini tiba waktunya Axel di makamkan secara militer.

__ADS_1


Semua orang yang datang menundukkan kepalanya saat peti di turunkan. Dan setelah semua selesai, satu persatu dari mereka meninggalkan area pemakaman. Begitu juga dengan Sylvia.


"Rest in peace, Axe." Sylvia melempar setangkai bunga di atas tanah dan pergi begitu saja.


__ADS_2