
Sementara itu di tempat yang lain, Sylvia dan Bruce tengah berhadapan dengan John. Mereka kewalahan melawan John karena bagaimanapun juga pria paruh baya itu adalah mantan polisi yang cukup kuat. Apalagi sekarang dia menjabat sebagai petinggi di FBI.
Bahkan Daniel juga ikut membantu melawan John, tapi mereka terlihat seimbang.
"Apa hanya segitu kemampuan kalian?" ejek John
"Jangan meremehkan kami, John. Aku pastikan kau akan mendapatkan hukuman yang setimpal." seru Bruce. Dia kembali melawan Pria itu di bantu oleh Sylvia. Tapi karena Sylvia terluka cukup parah, wanita itu berhasil terkena pukulan dari John.
"Cih.." John berdecih keras. Dia menatap remeh Sylvia yang terlihat lemah di matanya.
"Jaga pandanganmu, Tuan!!" Daniel maju melayangkan pukulan tapi berhasil di tangkis oleh John. Tapi di sisi lain, Amel yang baru saja datang langsung menendang punggung John hingga tersungkur.
"Kau...
"Maaf jika aku tidak sopan padamu, Tuan John." seru Amel
John mendengus kesal. Dia berdiri dan melawan Amel dan Daniel secara bersamaan. Tapi mereka berdua berhasil memberi hadiah bogem mentah di wajah dan perut John yang membuatnya memekik kesakitan.
"Kolaborasi yang bagus. Aku tidak menyangka kalian bisa bekerjasama dengan mafia sialan itu." teriak John
"Setidaknya mereka bukan pengkhianat sepertimu, tuan." balas Amel. Dia kembali melawan John tapi John sangat pintar mengelak dan membalas serangan Amel yang membuatnya terpental kebelakang. Untungnya ada Daniel yang menangkap tubuh mungil wanita itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Daniel
"Ya. Aku tidak apa-apa." jawab Amel.
Kini Sylvia, Daniel, Bruce dan Amel berdiri di depan John. Mereka memasang kuda-kuda dan bersiap menyerang John secara bersamaan.
"Majulah kalian semua!!" tantang John
Mereka berempat saling pandang dan maju serempak melawan John. John yang awalnya unggul, perlahan mulai kewalahan. Dia di serang bertubi-tubi oleh keempat orang itu hingga tersungkur.
Bruce mengangkat John untuk berdiri dan melayangkan pukulan di perutnya. Sylvia pun tak tinggal diam. Dia memutar lengan John dan memukul bawah ketiak pria itu dan memutarnya lagi hingga terdengar suara tulang patah.
"Argh..!!" John berteriak keras. Tapi Sylvia seolah kesetanan. Dia melampiaskan amarahnya dengan terus memukul John hingga babak belur.
__ADS_1
"Stop Sylvia!!" Bruce menahan tubuh Sylvia dan membawanya menjauh. "Lepaskan aku, Bruce !! Biar aku hajar bajingan itu." teriak Sylvia.
"Berhenti Sylvia!!" diluar dugaan, Bruce justru memeluk wanita itu untuk menenangkannya.
Nafas Sylvia terdengar memburu. Dia menghela nafas panjang dan perlahan dia mulai tenang.
"Ekhm!!"
Semua orang menoleh melihat seseorang yang baru saja datang. Tatapan orang itu sangat tajam dan membuat Sylvia dan Bruce langsung melepaskan pelukannya.
"A_anthony!!" lirih Sylvia
Anthony menarik Sylvia dan memeluknya erat. Dia menatap tajam Bruce yang berani memeluk miliknya. "Apa kau begitu menikmatinya?" tanya Anthony
"Apa yang kau katakan?" sangkal Sylvia.
"Aku akan menghukum mu setelah ini." bisik Anthony. Sylvia melebarkan kedua matanya. Dia ingin protes tapi melihat Anthony yang terus menatap Bruce dengan tajam membuatnya mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin masalah itu menjadi besar. "Apa dia cemburu?" batin Sylvia
Bara yang baru saja datang, melihat John yang terkapar di lantai. "Tenang saja, dia masih hidup." seru Bruce
Bara mengangguk dan memborgol kedua tangan John. Dia juga memerintahkan anggotanya untuk membawa John.
"Sebenarnya beberapa hari yang lalu suamimu datang menemui kapten Alvin. Dia mengatakan semuanya mengenai kebusukan John dan Felix." seru Bruce
"Dia juga memberikan bukti keterlibatan Damian. Dari situ kami tahu jika yang membunuh Axel adalah Damian." Bruce menatap jasad Damian yang berada tidak jauh dari mereka. "Axel adalah sahabat kami dan melihat bukti yang ditinggalkan oleh Axel membuat kami ingin menghabisi Damian. Tapi kapten Alvin masih belum percaya jika John dan Felix adalah pengkhianat."
"Untuk itu kami menemui Kapten William dan dari beliau kami tahu jika kau adalah putri dari Kapten Abraham."
"Dari situ Kapten Alvin memerintahkan kami untuk membantu kalian." lanjutnya
Sylvia menatap Anthony dan berkata, "Aku tidak menyangka jika kau akan meminta bantuan FBI." ejek Sylvia
"Jangan salah sayang. Aku melakukan hal itu bukan karena aku takut kalah. Tapi itu karena dirimu." ucapnya yang membuat Sylvia bingung.
"Aku sudah lama mencari mereka. Tapi saat aku tahu kau juga mengalami hal yang sama, kita sepakat untuk mencari tahu pembunuh orangtua kita. Tapi saat aku tahu FBI terlibat, aku memintamu untuk resign karena itu akan memberatkan mu jika kau membunuh mereka."
__ADS_1
"Tapi setelah aku pikir-pikir, mereka adalah orang penting. Jika hanya kita yang tahu kebenarannya, aku takut kau akan menjadi incaran FBi. Makanya aku mengatakannya pada kapten Alvin. Karena bagaimanapun juga mereka harus tahu kebusukan pemimpin mereka." seru Anthony
Sylvia terdiam. Dia tidak menyangka Anthony memikirkan hal itu. Dia mengira jika Anthony hanya ingin membalaskan dendam kematian orangtua mereka saja. Tapi pria itu juga memikirkan keselamatannya.
"Terimakasih." ucapnya pada Anthony. Di menatap satu persatu rekannya dan berkata, "Aku juga mengucapkan terimakasih pada kalian. Berkat kalian aku bisa membalas kematian kedua orangtuaku." seru Sylvia
"Tidak Sylvia. Ini semua sudah menjadi tugas kami. Berkat kau juga kami bisa tahu siapa pelaku sebenarnya yang membunuh Axel. Di tambah lagi kami tahu kebusukan petinggi FBI." sahut Bara
"Ya ya ya.. Akhirnya semua berakhir. Rasanya sudah lama kita tidak terlibat kasus besar. Dan ini sangat menyenangkan. Tapi bisakah kita pulang sekarang? Aku mau mandi. Tubuhku rasanya lengket sekali." keluh Amel. Dia meregangkan otot-otot tubuhnya di depan Daniel yang sedari tadi menatapnya.
"Ya, kau benar. Ayo kita pulang!!" ajak Bara.
"Sampai jumpa Via." seru Amel dan Bara
Sylvia tersenyum dan melambaikan tangannya pada keduanya. "Hati-hati !!" ucapnya
Daniel terus menatap Amel sampai menghilang dari pandangannya dan hal itu sukses membuat Anthony menahan tawa.
"Sylvia!!" Bruce mendekati Sylvia yang berdiri di samping Anthony
"Ada apa Bruce?" tanyanya
Bruce melihat tangan Anthony yang melingkar di pinggang Sylvia. Dan entah mengapa dia tidak suka melihat hal itu.
"Bruce!!" panggil Sylvia
"Aku hanya ingin minta maaf padamu. Selama ini aku bersikap tidak baik padamu. Bahkan aku sempat berfikir ingin menyingkirkanmu. Apalagi saat kau resign di saat kita sepakat untuk mencari pembunuh Axel. Aku semakin membencimu."
"Tapi sekarang, aku sadar. Kau adalah teman yang setia. Kau membunuh sahabat mu sendiri demi Rekanmu." seru Bruce
"Damian memang sahabat ku, tapi dia sudah melakukan kesalahan besar. Jika aku tidak membunuhnya, aku takut dia akan melukai yang lainnya." sahut Sylvia
"Ya, kau benar. Kalau begitu aku pergi dulu. Soal John, kau tenang saja. Aku pastikan dia akan mendapatkan kematian yang mengerikan." seru Bruce
"Thanks."
__ADS_1
Bruce mengangguk pelan dan menatap Sylvia dan Anthony bergantian. "Aku pergi dulu."
"Hati-hati!!"