Terpaksa Menikah Dengan Mafia

Terpaksa Menikah Dengan Mafia
Rival Abadi


__ADS_3

Di sebuah rumah mewah, beberapa orang penting tengah berkumpul di sana. Mereka merayakan keberhasilan mereka mendapatkan salah satu mangsa yang akan mereka gunakan untuk berburu.


Mereka adalah Tuan D, Kehl, John, dan Felix.


Mendapat kabar Jika Damian berhasil menangkap putri Abraham Louis, membuat mereka senang. Mereka bersulang untuk pencapaian mereka. Dan akan menjalankan rencana berikutnya untuk memancing Anthony keluar dan menghabisinya.


"Tinggal selangkah lagi, tujuan kita akan tercapai. Tidak akan ada lagi keturunan Louis dan Xavier." seru Tuan D


"Anda benar tuan. Dengan begitu kita bisa hidup dengan tenang tanpa bayang-bayang mereka." sahut Kehl . Mereka semua tertawa dan kembali bersulang.


BRAKH


Pintu terbuka dengan keras membuat semua orang tersentak dan menatap kearah sumber suara. Di sana, di depan pintu, berdiri seorang pria yang sangat mereka kenal.


"Damian, apa yang kau lakukan, hah? Kenapa kau membuka pintu begitu keras?" teriak John


Tapi Damian hanya diam saja dan hal itu membuat semua orang merasa bingung. Sampai Damian menunduk melihat bagian perut nya yang tiba-tiba mengeluarkan darah. Damian seketika merasa kesakitan dan tersungkur tidak bernyawa.


Deg


"A_apa yang terjadi?"


Tap


Tap


Tap


Seorang pria keluar dari tempat persembunyiannya. Dia berdiri di dekat Damian yang sudah mati dan menatap satu persatu orang-orang di dalam sana dengan tatapan sinis.


"Sepertinya kalian sedang bersenang-senang." ucap pria itu


"A_anthony??" gumam mereka bersamaan

__ADS_1


Anthony tertawa. Dia masuk dan mengambil gelas milik tuan D. Dia menuangkan minuman kedalam gelas tersebut dan meminumnya sedikit demi sedikit.


"Kalian jahat sekali. Berpesta tanpa diriku." seru Anthony


"Ba_bagaimana kau bisa....


Ucapan tuan Kehl terhenti saat Anthony menatapnya dengan tajam. Tentu saja hal ini sangat mudah untuknya.


Setelah dia meminta Damian untuk menghubungi Tuan D dan memaksanya untuk mengatakan sesuai dengan apa yang dia perintahkan, Anthony, Sylvia dan yang lain langsung bergegas ke tempat mereka berada.


Mereka berhenti di tempat yang tidak jauh dari rumah Tuan D dan mulai mempersiapkan senjata masing-masing.


Daniel yang di percaya memimpin anak buahnya, meminta mereka semua untuk memasang peredam di senjata mereka. Dan saat mereka berhasil masuk, mereka mulai menembaki satu persatu penjaga tanpa menimbulkan kegaduhan.


Dan saat Damian membuka pintu rumah mereka, Sylvia langsung menembaknya hingga tewas.


"Sorry, Dam." batin Sylvia. Dia dan Daniel segera berpencar mengepung tempat tersebut dan menghabisi anak buah Tuan D yang tersisa.


"Aku tak menyangka kau mempunyai nyali untuk datang kemari." seru Tuan D


"Aku sedikit penasaran. Kenapa kalian membantai keluarga ku dan juga keluarga Sylvia?" Anthony menatap satu persatu dari mereka dan kembali berkata, "apa kalian mencoba untuk berkuasa?"


Tuan D tertawa. Sepertinya mereka sudah ketahuan, jadi tidak ada gunanya lagi untuk menyembunyikan semuanya. "Maaf membuatmu kecewa. Tapi dari dulu ayah mu adalah rival abadiku. Dia selalu merebut apa yang aku miliki termasuk ibumu."


Deg


"Aku dan ibu mu saling mencintai. Tapi Xavier merebutnya dari ku dengan menodainya. Walaupun Ibumu sudah memaafkan Ayahmu dan menerimanya, tapi hati ku tidak. Untuk itu aku membunuh semua yang berhubungan dengan Xavier. Sayangnya, kau lolos dari maut." terang Tuan D


Anthony terlihat tenang. Tapi dalam hati dia menggeram kesal. Dia mengepalkan tangannya erat yang siap melayang ke wajah Tuan D. Tapi dia menahannya.


"Dan untuk keluarga Louis, kau bisa bertanya langsung pada John. Dia adalah rekan Abraham." ucap Tuan D lagi


"Untuk apa aku menjelaskan pada orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini?" ejek John

__ADS_1


Ckrek Krek


Terdengar Revolver yang ditarik kebelakang dengan ibu jari dan siap melepas tembakan.


John yang awalnya begitu sombong seketika terdiam. Dia melirik ke samping dan melihat Sylvia menodongkan pistol di kepalanya.


"Sekarang kau mempunyai alasan untuk mengatakannya, bukan?" seru Sylvia


Entah bagaimana caranya wanita itu datang tanpa menimbulkan suara. Bahkan semua yang ada di sana tidak menyadari kedatangan wanita itu.


"Masih tidak mau mengatakannya?" Jari Sylvia siap menarik pelatuk pistol nya. Tapi John segera mengatakan pada Sylvia.


"Sama seperti tuan D dan Xavier, Abraham adalah rival ku. Kami bersaing untuk mendapatkan posisi di kepolisian. Tapi Abraham selalu lebih unggul dan hal itu membuatku muak."


"Tuan D datang dan memberi tawaran yang sangat menggiurkan dengan posisi sebagai petinggi di FBI dengan syarat aku harus menghabisi Abraham dan keluarganya. Tentu saja aku bersedia. Aku mendapatkan jabatan dan musuhku mati." terang John tanpa rasa bersalah.


"Kau....


John mengambil kesempatan saat Sylvia lengah. Dia memutar cepat tubuhnya dan merebut pistol milik Sylvia dan mengarahkan pada wanita itu.


"Sayang sekali kau tidak sehebat yang aku kira, Sylvia." seru John


Suasana menjadi tegang. Tapi baik Anthony maupun Sylvia terlihat tenang. Bahkan Wanita itu tersenyum sinis dan memperlihatkan peluru yang ada di tangannya.


"Apa kau pikir bisa membunuh ku dengan pistol kosong?"


John melebarkan kedua matanya. Dia segera memeriksa peluru tapi ternyata peluru terisi penuh. Dia menatap Sylvia tapi dengan cepat Wanita itu menendang tangan John yang membuat pistol tersebut terlempar jauh.


Melihat hal itu, Anthony, Tuan D, Kehl dan juga Felix mengeluarkan senjata mereka masing-masing dan saling menodong satu sama lain.


"Apa kau pikir kau bisa menang melawan kami, hm?" tanya Tuan D meremehkan. Di berbagai sudut ruangan, anak buah Tuan D keluar dan menodongkan senjata ke arah mereka berdua.


"Kita tidak akan tahu jika kita tidak mencobanya." Anthony terlihat tenang. Dan tidak berapa lama, Daniel dan anak buahnya muncul dan juga menodongkan senjata kearah Tuan D dan yang lain.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kau begitu berani." Tuan D melepas tembakan ke arah Anthony. Tapi dengan gesit pria itu bisa mengelak dan membalas tembakan Tuan D.


Begitu juga dengan yang lain. Mereka saling melepas tembakan kearah musuh. Tidak sedikit dari mereka yang tewas karena belum sempat menghindar. Dan dalam seketika, tempat itu menjadi arena pertempuran antara mereka.


__ADS_2