
Sylvia memilih menenangkan diri di kamar yang sebelumnya pernah dia gunakan sebelum menikah dengan Anthony. Dia membutuhkan waktu sendiri untuk memikirkan apakah dia akan menerima tawaran kapten Alvin atau tidak.
Tapi, bukankah Anthony mendukungnya? Itu artinya tidak masalah jika dia bergabung dengan tim kapten Alvin. Tapi permasalahannya, dia di tugaskan untuk mencari bukti kejahatan Anthony, suaminya sendiri.
"Astaga, ada apa dengan ku? Kenapa aku jadi bimbang? Ini perkara mudah untukku. Aku tinggal menerima tawaran kapten Alvin dan semua beres. Tapi kenapa hati ku berkata lain?" gumam Sylvia bermonolog
"Apa yang membuatmu bimbang, honey?"
Sylvia tersentak, dia menoleh dan melihat Anthony sudah berdiri di belakangnya.
"Kenapa? Kau terkejut?" Anthony duduk di samping Sylvia dan kembali berkata, "Sepertinya kemampuanmu mulai berkurang. Kau bahkan tidak menyadari jika aku masuk ke kamarmu."
"Kau mengejekku?"
"Aku bicara yang sebenarnya, sayang." Anthony menggenggam tangan Sylvia, "Kau tidak perlu bimbang. Jika kau tertarik dengan tawaran Pak tua itu, kau terima saja. Tapi tetap saja, jika mereka meminta mu untuk memata-matai ku, kau harus profesional."
"Apa maksud mu?" tanya Sylvia
"Jika kau memang ingin menangkap ku, kau harus berusaha mencari bukti sendiri. Jangan memanfaatkan cintaku untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan."
Deg
"Kau tahu, sayang. Aku bisa saja mengatakan semuanya padamu dan menunjukkan apa yang aku miliki sekarang. Tapi, karena kau bergabung dengan musuh bebuyutan ku, maka aku tidak bisa melakukannya. Kau boleh mengatakan apapun mengenai diriku tapi jangan pernah ragukan cintaku."
Sylvia terdiam menatap kedua mata Anthony. Dia tidak melihat kebohongan di sana dan hal itu semakin membuatnya ragu. Sial!! Ada apa dengannya? Apa dia sudah mulai menyukai Anthony?
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Sylvia
__ADS_1
"Tentu saja."
"Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku? Kita hanya bertemu sekali dan kau langsung memanfaatkan Daddy agar aku mau menikah denganmu." seru Sylvia
"Apa ada alasan untuk mencintai seseorang?" tanya Anthony
"Ya, kau bisa menganggap ku konyol, tapi memang benar aku mencintaimu pada pandangan pertama." Anthony menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya sejenak.
"Aku orang yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya kasih sayang, Sylvia. Kedua orangtuaku di bunuh saat aku masih balita."
Deg
"A_apa?" tanya Sylvia terbata
Anthony membuka matanya dan tersenyum. "Ya, kita memiliki kisah yang sama, sayang. Bedanya, Aku hampir saja kehilangan nyawaku. Tapi untung nya pelayanku bertindak cepat. Dia membawaku ke rumah sakit setelah para pembunuh itu pergi."
Anthony menaikan kemejanya dan memperlihatkan otot perutnya.
"Hei!!! Apa yang kau lakukan?" pekik Sylvia
Anthony terkekeh. Dia menuntun tangan Sylvia untuk memegang bekas luka di perutnya. Walaupun samar tapi bekas itu terlihat cukup jelas jika di lihat dengan seksama.
Deg
"I_ini....
"Ini tanda yang di tinggalkan pembunuh itu. Dan ini menjadi satu-satunya petunjuk yang aku miliki. Tapi sayangnya sampai sekarang aku tidak tahu siapa mereka." seru Anthony
__ADS_1
"Oh my God, kenapa mereka begitu kejam?" Sylvia menyentuh bekas luka tersebut. Terukir goresan berbentuk Ular yang tertancap paku mirip dengan tato milik pembunuh kedua orang tuanya. Luka itu terlihat kecil di perut Anthony karena dia mendapatkan luka itu saat dia masih kecil.
Tanpa Sylvia sadari , tiba-tiba air mata Sylvia menetes. Ini benar-benar perbuatan yang biadab. Mereka bahkan tega melakukan hal itu pada seorang balita. Dia tidak bisa membayangkan jika berada di posisi Anthony.
"Hei, kenapa kau menangis?" Anthony membingkai wajah Sylvia dan menghapus air mata wanita itu.
"A_aku... Aku...
Anthony menarik Sylvia kedalam pelukannya. "Apa kau menangis karena apa yang terjadi padaku?" tanya Anthony yang di jawab anggukan oleh Sylvia.
"Kau tidak perlu menangisi ku, peristiwa itu sudah terjadi sejak lama dan aku juga lupa bagaimana rasanya? Yah, memangnya apa yang bisa di rasakan seorang balita."
Hug
Tanpa berpikir panjang, Sylvia membalas pelukan Anthony dengan erat. Dia terisak membayangkan jika dia berada di posisi Anthony. Kedua orangtuanya di bunuh dan dia yang saat itu masih balita harus merasakan kesakitan yang luar biasa.
Tapi ada untungnya bagi Anthony, dia tidak perlu menyaksikan kematian kedua orangtuanya yang akan menjadi mimpi buruk untuknya.
"Untuk itu, saat kau bertanya tentang tato itu padaku, aku sangat terkejut. Tapi setelah mendengar cerita dari kapten William, baru aku tahu, kita memiliki masa lalu yang sama."
Sylvia mengurai pelukannya dan menghapus air matanya. "Maafkan aku."
"Tidak masalah sayang." Anthony menakup wajah Sylvia dan berkata, "Aku tidak melarang mu untuk bergabung dengan mereka karena aku tahu tujuan mu sebenarnya. Aku akan membantumu sebisa ku saat kau dalam kesulitan tapi jika menyangkut tentang diriku, kau harus profesional. Bertindaklah selayaknya seorang penegak hukum, bukan seorang istri. Apa kau mengerti?"
Sylvia mengangguk paham. Kini dia tahu apa yang harus dia lakukan. Mendengar masa lalu Anthony membuatnya ingin segera menemukan pembunuh kedua orang tuanya. Dia akan menerima tawaran Kapten Alvin tapi bukan untuk memata-matai Anthony, melainkan untuk mencari petunjuk tentang pelaku pembunuh kedua orang tuanya.
"Aku pernah tidak sengaja mendengar pembicaraan para petinggi, mereka membicarakan tentang kematian kapten Abraham. Dan sepertinya kematian kapten di rencana oleh mereka. Tapi sayangnya aku tidak tahu, siapa saja mereka. Aku hanya memberikan informasi pada Sylvia jika pelaku bisa dari pelaku kejahatan yang menaruh dendam pada ayahnya, atau mungkin dari rekannya yang merasa iri pada ayahnya. Aku takut jika aku menceritakan yang sebenarnya, Sylvia akan kehilangan akal dan mengincar para petinggi penegak hukum. Dan itu bisa berbahaya untuknya."
__ADS_1
Anthony terdiam saat teringat ucapan kapten William sebelum di bawa anak buahnya ke rumah sakit. "Maafkan Aku sayang, aku tidak ingin kau dalam bahaya. Tapi aku akan selalu melindungi mu dan membantumu mengawasi para petinggi itu." batin Anthony