
Di salah satu Bar terbesar di Amerika, tepatnya di ruang VIP, tengah diadakan pertemuan dua belah pihak yang sedang menjalankan transaksi jual beli obat-obatan terlarang. Salah satu dari mereka meletakkan koper di atas meja. Dia membuka koper tersebut dan terlihatlah uang ratusan dollar di dalam koper.
Pria itu menyeringai. Dia mengambil segepok uang tersebut dan memeriksanya.
"Apa kau meragukan ku, Tuan Peter? Uang itu asli. Dan aku tidak mungkin menipumu." seru pria itu
"Maaf Tuan, aku hanya memastikan." Pria yang bernama Peter meletakkan kembali uang tersebut di dalam koper. Dia mengambil kotak mainan dan memberikannya pada pria itu.
"Aku yakin putramu akan sangat menyukainya, Tuan." seru Peter
Pria itu mengambil kotak mainan tersebut dan membukanya. Ada robot mainan di sana. Tapi setelah dia melepas kepalanya robot tersebut, terdapat serbuk putih di dalamnya. Pria itu mencium serbuk tersebut dan tersenyum.
"Tempat penyimpanan yang bagus." ujar pria itu
"Karena aku masih sayang dengan nyawaku, Tuan. Aku tidak mau tertangkap." ujar Peter
Pria itu memberikan kotak mainan tersebut pada anak buahnya. Dia memperhatikan gerak gerik Peter yang terlihat senang dengan uang yang ia dapatkan.
"Kalau begitu, aku permisi dulu Tuan." pamit Peter. "Senang berbisnis dengan anda." ucapnya lagi.
Pria itu tersenyum sinis. Dia memberi kode pada anak buahnya untuk mengikuti Peter.
"Putraku? Cih, bahkan istri saja aku belum punya." pria itu menyesap sedikit demi sedikit Whiskey Sour miliknya. Dan tidak berapa lama anak buah yang dia perintahkan untuk mengikuti Peter, kembali dengan koper di tangannya.
__ADS_1
"Beginilah permainan bisnis." seringai pria itu. Dia memerintahkan anak buahnya untuk menyimpan koper berisi uang dan kotak mainan tersebut ke mobil karena dia masih harus menemui seseorang. Dan dia tidak mau orang itu mengetahui bisnis yang baru saja dia lakukan.
Walau semua orang tahu siapa dirinya dan apa pekerjaannya, tapi tetap saja dia harus waspada dengan orang baru. Apalagi orang yang akan dia temui adalah orang yang misterius. Dia takut jika orang tersebut adalah polisi yang menyamar.
Dari gesture tubuhnya, dia seperti seorang pria, tapi suaranya hampir mirip dengan wanita. Apalagi setiap orang itu datang menemuinya, dia selalu memakai baju yang tertutup dan memakai masker dan topi yang menutupi wajahnya.
Walaupun dia sangat berhati-hati pada orang tersebut, dia tidak terlalu memikirkannya. Yang terpenting adalah orang itu memberikan informasi yang dia inginkan. Dan jika benar orang itu adalah polisi yang menyamar, dia yakin jika orang itu mempunyai masalah yang sama dengannya. Bisa di bilang mereka seperti rekan bisnis. Karena bagaimanapun mereka mendapatkan keuntungan masing-masing.
"Maaf membuat anda menunggu, Tuan." orang misterius yang pria itu tunggu akhirnya datang dan langsung duduk di depannya.
"Katakan!! Informasi apa yang kau dapatkan." seru pria itu
"Tidak ada yang yang penting. Tapi orang yang kita bayar sepertinya tertangkap dan aku yakin Anthony sudah mengeksekusinya."
Pria itu terdiam. Dia tidak menyangka jika Anthony begitu hebat tapi dia berharap jika orang yang dia bayar tidak menyebut namanya.
"Lalu apa rencana mu?"
"Masih sama. Tapi kali ini kita manfaatkan orang-orang di sekitarnya." seringai orang itu.
****************
Sementara itu, Setelah selesai bermain-main dengan ketiga tikus tawanannya, Anthony memilih untuk langsung pulang.
__ADS_1
Jika sebelumnya dia akan pergi ke Bar untuk minum-minum, tapi tidak dengan sekarang karena dia berjanji pada seseorang akan segera kembali.
Sesampainya di rumah dia melihat Sylvia yang masih menonton televisi padahal hari sudah semakin larut Dan kenapa menonton di ruang santai, bukan di kamar?
"Kau belum tidur, sayang?" Anthony duduk di samping Sylvia dan menjatuhkan kepalanya di bahu wanita itu.
"Kau tidak buta kan?"
Anthony Menghela nafas panjang. Sylvia sudah kembali ke sifat semula. Acuh tak acuh dan bicara ketus. "Hah... Apa dia titisan bunglon?" batin Anthony
"Maaf. Kau sudah makan?" tanya Anthony.
"Aku sudah makan. Lalu kau?" Sylvia bertanya tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar televisi
"Belum." jawab Anthony singkat
"Tunggu sebentar." Sylvia beranjak ke dapur untuk menghangatkan makanan untuk Anthony
Anthony tersenyum senang. Dia menyusul Sylvia dan memeluk wanita itu dari belakang. "Terimakasih."
"Minggir!! Aku sedang menghangatkan makanan untukmu."
"Dan aku sedang menghangatkan mu, sayang." Anthony mencium leher Sylvia dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
__ADS_1
"Anthony..!" pekik Sylvia. Dia mematikan kompor dan menatap tajam Anthony
"O_oke.. Aku akan menunggu di meja makan." Anthony duduk di kursi meja makan dan menatap Sylvia yang kembali berkutat dengan alat masaknya. Hah.. lebih baik dia cari aman. Wanita jika sudah marah akan sangat menyeramkan. Tapi dia cukup senang karena Sylvia mulai perduli padanya. Dan dia berharap Sylvia akan terus seperti itu dan mulai membuka hati untuk nya.