
Sylvia, Damian dan Axel berada dalam satu mobil. Mereka berangkat terlebih dahulu ke lokasi di mana korban berada. Bara sudah mengirimkan lokasinya ke laptop yang saat ini dioperasikan oleh Axel. Dia mengotak-atik laptop tersebut untuk mencari tempat yang pas untuk kedua sniper mereka.
"Bagaimana situasi di lokasi?" tanya Sylvia pada Axel yang duduk di kursi belakang.
"Tidak ada pergerakan. sinyal ponsel korban masih tetap berada di satu titik. itu artinya dia masih bersembunyi dan pelaku masih mencarinya." terang Axel
"Apa sebelumnya ada kasus sama yang terjadi?" kali ini Damian yang mengendarai mobil, bertanya pada Axel.
"Setelah kapten Willian gagal menangkap si pelaku, untuk beberapa waktu memang tidak ada lagi kasus yang sama. Tapi dua bulan yang lalu, operator 911 menerima panggilan mencurigakan dan setelah kami telusuri, kami terlambat. Korban sudah mati mengenaskan."
Axel menekan earphone nya dan memberitahu pada Bruce dan Amel yang mengendarai mobil di belakang mereka. "Aku sudah menemukan tempat yang pas untuk kalian berdua. Akan aku kirimkan pada kalian."
"Thank, Ax." seru Amel
"You're welcome." Axel kembali mengotak-atik laptopnya dan mengirimkan lokasi ke email Amel.
"Done." seru Axel
Damian melirik sekilas Sylvia yang tiba-tiba terdiam. Biasanya jika sedang menjalankan misi, wanita itu paling bersemangat dan mengeluarkan begitu banyak pertanyaan. Tapi entah mengapa, sekarang dia menjadi pendiam.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Damian
"Tidak ada." jawab Sylvia singkat
"Kalian bisa menganggap ku tidak ada. Jadi santai saja. Berbincang lah sesuka kalian." seru Axel
__ADS_1
Sylvia berdecak pelan. Dia memilih melihat keluar jendela. Banyak hal yang ingin dia tanyakan. Tapi dia lebih memilih diam karena dia berada di lingkungan yang baru dan tim yang baru. Dia tidak tahu cara bermain mereka. Untuk itu dia akan mengikuti permainan mereka terlebih dahulu.
Diamnya Sylvia membuat Damian berdecak. Dia melihat di jari manis Sylvia melingkar sebuah cincin yang indah. Dan itu berhasil mencuri perhatian Damian.
"Kau memakainya?" tanya Damian
Sylvia menoleh dan melihat lirikan Damian yang mengarah di jarinya. "Oh ini. Kau memberiku sesuatu yang membuat ku mengambil keputusan yang besar. Untuk itu aku memakainya."
"Lalu apa kau menemukannya?" tanya Damian
"Sayangnya tidak."
"Hei.. Apa begini cara berkencan kalian? Kalian akan berbicara menggunakan kode yang hanya kalian yang tahu. Bahkan dari tadi aku tidak paham apa yang kalian bicarakan." gerutu Axel
Sylvia terkekeh. Dia menoleh kebelakang dan berkata, "Bukankah kau sendiri yang bilang untuk menganggap mu tidak ada?" ledek Sylvia
"Aku dengar kalian adalah partner yang hebat. Bahkan kalian bisa bekerjasama dengan sangat epik. Untuk itu aku orang yang paling bersemangat saat tahu kalian bergabung di tim kami." lanjut Axel
"Thanks Ax." seru Sylvia
"Tapi....
Axel memajukan tubuhnya dan kembali berkata, "Yang aku dengar kalian ini berpacaran. Apa itu benar?"
Sylvia tertawa keras. Dia menyentil kening Axel yang membuat pria itu mengaduh. "Jangan menyebarkan rumor yang tidak benar, Ax. Kau lihat ini?" Sylvia memperlihatkan cincin di jari tengahnya. "Aku sudah menikah."
__ADS_1
"Ah iya, aku lupa. Kau sudah menikah dengan mafia itu."
Sylvia kembali tertawa dan mengangguk membenarkan ucapan Axel.
Berbeda dengan Damian. Dia terlihat tidak senang saat mereka membahas tentang pernikahan Sylvia dengan mafia bernama Anthony itu. Apalagi Sylvia terus tertawa setiap membahas Anthony.
Diam-diam dia menggenggam setir mobil dengan erat Hatinya rasanya panas. Dia cemburu? Tentu saja. Sudah lama dia menaruh hati pada Sylvia tapi wanita itu justru menikah dengan pria lain dan itu adalah musuh negara.
Untuk itu, Damian menerima tawaran untuk bergabung dengan FBI. Selain ingin dekat dengan sang pujaan hati, dia ingin membalas Anthony dengan bergabung dengan FBI karena dia tahu, FBI adalah badan intelijen yang mengincar Anthony.
"Kita hampir sampai." seru Axel
Damian melirik Axel melalui kaca spion. Dia menunggu aba-aba dari Axel karena bagaimanapun, pria itu yang tahu lokasinya.
"Kita berhenti disini." ujar Axel
Damian memarkirkan mobilnya sesuai arahan Axel. Mereka memakai earphone masing-masing dan membawa senjata yang di perlukan. Sedangkan Bruce dan Amel, bersiap di tempat yang strategis untuk mengintai lokasi korban berada.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Bara yang memantau dari kantor pusat emergency call.
"Yes, kami sudah siap." seru Axel
"Kami juga sudah siap." Amel melapor
"Oke guys. Dengarkan aku!! Baru saja korban menghubungi 911 dan dia mengatakan ciri-ciri si pelaku. Dia berperawakan besar, dan berkepala botak. Dan satu yang paling penting, dia mempunyai tato di lengannya."
__ADS_1
Deg