Terpaksa Menikah Dengan Mafia

Terpaksa Menikah Dengan Mafia
Pelaku


__ADS_3

Tim Alfa Sampai di lokasi kejadian. Di sana dia sudah di sambut oleh Kapten William dan tim dari kepolisian.


"Selamat siang kapten William." sapa Bruce


"Selamat siang Bruce. Maaf merepotkan mu. Keluarga korban ingin tim FBI mengusut kasus yang menimpa keluarganya." seru Kapten William


Bruce tersenyum sinis. Dia mendekat dan berkata, "Tidak masalah, Kapten. FBI sudah terbiasa menggantikan tugas polisi yang terbengkalai." seru Bruce


Sylvia mengepalkan tangannya. Ingin rasanya dia melayangkan bogem mentah nya ke muka bengis Bruce. Tapi dia melihat tangan kapten William yang memberinya kode untuk tetap diam. Sylvia hanya bisa mendengus kesal.


"Untuk itu lah aku mewakili tim ku meminta maaf pada tim mu, Bruce." sahut Kapten William.


Lagi-lagi Bruce tersenyum sinis dan meminta tim Kapten William untuk menjelaskan pada mereka tentang kasus kali ini.


Sylvia mendekati kapten William dan tersenyum. Walaupun pria itu sudah memecatnya, tapi dia sangat berjasa dalam hidupnya. Untuk itu dia tidak mungkin bisa marah ataupun membenci pria itu. Dan dia yakin jika Kapten William mempunyai tujuan tertentu kenapa dia memecatnya.


"Bagaimana kabarmu, Sylvia?" tanya kapten William


"Seperti yang anda lihat, aku baik-baik saja kapten."


"Syukurlah kalau begitu. Aku yakin kau bisa menemukan apa yang kau inginkan di sana." setelah mengatakan hal itu, kapten William bergabung dengan tim nya yang tengah menjelaskan peristiwa yang terjadi pada Bruce dan lainnya.


Sudah Sylvia duga, inilah tujuan kapten William memecatnya. "Kau benar kapten. Aku menemukan apa yang aku inginkan. Dan aku harap ada petunjuk dari apa yang telah aku temukan itu." batin Sylvia. Dia ikut bergabung dengan yang lain dan mendengar penjelasan dari tim kepolisian.


"Oke, hanya itu yang kami dapatkan dan semua sudah kami jelaskan. Kami berharap kalian bisa segera menemukan pelakunya." seru Kapten William


"Itu sudah pasti kapten. Kau cukup duduk manis dan mendengar kabar baik dari kami." sahut Bruce.


"Cih.. Dasar sombong." gumam salah satu tim kapten William yang masih terdengar mereka yang ada di sana.


"Apa kau bilang?" sentak Bruce


"Memangnya apa yang kau dengar?"


"Kau mengatakan aku sombong, hah?"

__ADS_1


"Syukurlah jika telinga mu masih berfungsi dengan baik."


"Kau...


Hampir saja terjadi perkelahian jika saja kapten William dan Bara tidak menghalanginya. Kapten William meminta maaf dan menarik tim nya untuk meninggalkan lokasi tersebut.


"Apa yang kau lakukan, hah? Kau ingin mencoreng nama baik FBI?" sentak Bara


"Siapa yang mencoreng nama baik FBI? Aku hanya ingin memberi pelajaran pada anak ingusan itu." terima Bruce


Amel dan Axel hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sudah terbiasa dengan sikap sombong ketuanya itu. Tapi ini pertama kalinya Bruce mencari masalah dengan orang lain dan secara terang-terangan menghina tim lain.


"Sorry Sylvia, Damian. Kalian harus melihat ini. Aku mewakili Bruce meminta maaf pada kalian. Bagaimanapun kalian dulu bagian dari tim kapten William." seru Axel


"It's oke Ax. Orang yang sombong akan di jatuhkan oleh kesombongannya sendiri." ucap Damian


"Yeah.. Tapi sayangnya aku belum pernah melihat hal itu terjadi pada Bruce." seru Amel ikut menimpali


Sylvia terdiam sesaat dan tidak berapa lama terlihat seringai di wajahnya. Dia akan membuat orang sombong itu tidak berkutik di depan tim nya. Dia ingin lihat, apa yang akan pria itu lakukan.


Bruce dan yang lainnya mulai melakukan olah TKP. Mereka mencari bukti-bukti lain tentang pembunuhan yang terjadi di rumah itu. Mereka bahkan mengundang semua penghuni rumah untuk di mintai keterangan lebih lanjut.


"Saya sedang mengobrol dengan teman sesama pembantu di halaman samping, Tuan. Kami mengobrol Sampai larut malam. Dan setelah itu kami pergi tidur." jawab si pembantu


"Apa kau mendengar atau merasa ada sesuatu yang mencurigakan?"


Si pembantu terdiam sejenak mengingat-ingat saat kejadian. "Saya rasa tidak ada yang aneh, Tuan. Hanya saja Tuan besar meminta kami untuk mengantarnya ke kamar lebih awal. Beliau bilang sangat lelah dan ingin beristirahat."


"Siapa yang mengantar Tuan besar ke kamar?" tanya Sylvia


"Hei.. Ini bagian ku. Kenapa kau ikut campur?" sentak Bruce


"Aku rasa siapapun boleh bertanya pada saksi." balas Sylvia


"Bisakah kalian diam!!! Kalian selalu saja bertengkar. Jika begini terus, kita tidak akan bisa memecahkan kasus ini." teriak Bara

__ADS_1


Bruce mendengus kesal. Dia melirik sinis Sylvia dan bertanya kembali pada saksi, "Apa ada penghuni lain selain kalian berempat?"


Si pembantu menggelengkan kepalanya. Dan setelah itu, mereka meminta pembantu yang lain dan si tukang kebun untuk di minta keterangan. Dan jawaban mereka sama seperti apa yang ada di laporan dari tim kepolisian.


Dan kini, giliran si pemilik rumah yang di mintai keterangan. Dia adalah Billy Maximilian.


"Selamat siang Tuan Max. Sesuai permintaan anda, kami datang untuk mengusut tuntas kasus yang menewaskan istri anda." seru Bruce


"Terimakasih Tuan. Aku sangat putus asa karena pelaku tidak juga di temukan. Untuk itu aku meminta bantuan kalian. Tolong temukan pelakunya. hiks hiks... kasihan istriku. Dia pasti tidak akan tenang di alam sana." Isak Tuan Billy


Sylvia menatap intens pria yang duduk di kursi roda itu. Dia yakin jika pria itu adalah pelaku sebenarnya. Tapi dia belum menemukan trik bagaimana Billy bisa membunuh istrinya yang seorang model dengan tinggi badan -+180 cm. Sedangkan Billy memiliki tinggi kurang dari istrinya. Di tambah sekarang pria itu duduk di kursi roda.


"Ax, bisa ikut aku sebentar?" ajak Sylvia


"Kemana?"


"Ke TKP." Sylvia berjalan terlebih dahulu diikuti Axel di belakangnya. Mereka kembali ke kamar korban yang berada di lantai dua.


"Ada apa Sylvia?" tanya Axel


"Aku curiga jika Tuan Billy adalah pelakunya. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya dia bisa menembak kepala korban sedangkan dia duduk di kursi roda."


"Hei.. Jangan bicara sembarangan Sylvia. Jika Bruce sampai mendengarnya, maka dia akan menghina mu habis-habisan."


"Cih.. Atas dasar apa dia menghinaku." Sylvia mendekat dan kembali berkata, "Akan aku buktikan jika insting ku ini benar. Maka dari itu, aku membutuhkan bantuanmu."


Sylvia mulai meneliti kembali kamar korban. Dia melihat kenop pintu di balkon tidak ada tanda-tanda di buka secara paksa. Itu artinya korban sendiri yang membuka pintu tersebut dan mencari udara segar di balkon.


Sylvia jongkok di balkon di mana korban tewas. Tidak ada bekas peluru di manapun. Padahal dia mengira mungkin suaminya meminta istrinya untuk mengambil sesuatu dan menembak kepala istrinya dari belakang. Tapi jika benar seperti itu, seharusnya ada bekas peluru tertancap di sana karena luka tembak itu menembus kepala korban.


"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Axel


Sylvia berdiri dan menggelengkan kepalanya. Dia menatap Axel dan bertanya, "Jika pelaku orang dalam itu artinya saat menembak korban, terdapat bubuk mesiu di tubuh korban kan?"


"Tentu saja. Tapi saat di periksa, tidak ada satupun dari mereka yang tubuhnya terdapat bubuk mesiu."

__ADS_1


"Kau salah, bubuk mesiu akan hilang jika terkena air." Sylvia terdiam sejenak. Tapi tiba-tiba dia mendapatkan ide untuk membuat si pelaku mengakui sendiri kesalahannya.


"Aku ingin kau melakukan sesuatu untuk ku, Ax..Dengan begitu kita akan tahu siapa pelaku di antara dari keempat penghuni rumah ini." seringai Sylvia


__ADS_2