
Anthony bergegas ke lokasi di mana Sylvia dan tim nya berada. Dia akan memantau nya sendiri setelah mendengar jika lawan Sylvia adalah pria yang mempunyai tato di lengannya.
Dia juga penasaran, apakah yang mereka maksud tato yang sama dengan bekas luka di perut nya atau tidak. Jika iya, maka dia tidak akan membiarkan tim Sylvia mendapatkan pria itu.
Dia akan mengadili sendiri pria itu dan mengorek informasi tentang bos pria itu. Dia yakin jika pria itu hanya bawahan saja. Sama seperti pria yang berprofesi sebagai wartawan yang pernah dia tangkap.
Wartawan bernama Fred, sengaja Anthony lepaskan setelah dia melihat tato di lengan Fred. Dia memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti Fred. Tapi sayangnya, pria itu tewas mengenaskan karena kecelakaan. Sepertinya kecelakaan itu di sengaja. Mungkin dia di habisi karena takut membocorkan rahasia seseorang.
Dan kali ini, Anthony tidak ingin kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya. Dia akan menangkap pria itu jika benar dia memiliki tato Nail snake.
"Apa bodyguard sudah sampai di sana?" tanya Anthony pada Daniel. Saat ini mereka berada dalam perjalanan ke lokasi pelaku pembunuh berantai itu berada.
"Sudah tuan. Mereka mengintai di tempat yang tidak terlihat oleh sniper FBI."
"Good. Minta mereka untuk berhati-hati. Jangan sampai terpergok oleh anggota Alvin. Aku malas berurusan dengan pak tua itu."
"Baik Tuan." Daniel menelepon anak buahnya dan menyampaikan perintah Anthony pada mereka.
Sementara itu, Sylvia, Damian dan juga Axel, mereka berpencar untuk mencari korban dan juga pelaku. Mereka memakai earphone untuk saling berkomunikasi.
Tapi Sylvia memiliki caranya sendiri. Dia memilih menyamar menjadi penduduk setempat dan seolah sedang berkunjung ke rumah korban.
Dia melepaskan seragamnya dan menyisakan kaos oblong yang ditutupi dengan jaket dan mengganti celananya dengan celana jeans pendek. Dia tidak membawa senjata api tapi hanya pisau lipat saja.
"Hei, apa yang di lakukan Sylvia? Apa kalian merencanakan semua ini?" tanya Bruce yang melihat Sylvia melalui teropongnya. Sylvia terlihat berjalan ke rumah korban dengan penampilan berbeda.
"Tidak. Kami tidak ada kesepakatan untuk melakukan hal ini." seru Axel
"Apa dia bermaksud menjadi pahlawan?" seru Amel
"Cih.. Dia pasti ingin terlihat hebat di mata kapten Alvin."
__ADS_1
Axel hanya terdiam. Sebenarnya dia juga menyayangkan cara Sylvia yang bergerak sendiri. Mereka adalah tim. Harusnya mereka berdiskusi terlebih dahulu. Bahkan wanita itu juga melepas earphone nya. Hingga dia tidak bisa menghubungi nya.
"Pasti Sylvia mempunyai alasan sendiri. Kalau begitu aku akan melindungi nya. Terserah kalian mau membantu atau tidak." Axel dan Damian mulai maju dan mencari tempat persembunyian yang tidak di ketahui pelaku
"Sudah aku duga, kau akan melakukan ini Sylvia " batin Damian
Sylvia berdiri di depan pintu rumah korban. Sebelumnya dia sudah melihat data di korban. Jadi dia akan menyamar menjadi teman korban. Dan semoga si pelaku tidak curiga.
Sylvia mengetuk pintu rumah korban dan memanggil nama korban. Hal itu membuat pria yang berada di dalam rumah mulai waspada. Dia menyembunyikan senjata tajamnya di punggungnya dan melihat dari jendela siapa yang datang.
Pria itu menyeringai melihat Sylvia. Wanita yang kelihatan masih muda. Tapi dia harus berhati-hati. Siapa tahu wanita itu adalah keluarga wanita yang saat ini bersembunyi dari nya.
Tok Tok Tok
"Serena!!! Apa kau ada di dalam? Aku datang sesuai janjiku." seru Sylvia
Tidak ada jawaban. Tapi hal itu tidak membuat Sylvia tinggal diam. Dia mencoba membuka pintu rumah tersebut dan terbuka.
"Astaga Serena. Kenapa rumah mu berantakan sekali? Apa kau tidak pernah membersihkannya? Jangan-jangan kau memintaku kemari untuk membantumu bersih-bersih." gerutu Sylvia. Dia berakting seolah-olah dia adalah orang terdekat korban agar pelaku mau keluar dan menangkapnya.
Dia ingin tahu apakah tato di lengan pria itu adalah tato yang sama dengan pembunuh orangtuanya atau tidak. Jangan sampai rekannya yang lain mendahuluinya. Karena dia ingin mengintrogasi pria itu terlebih dahulu sebelum menyerahkannya pada yang lain.
"Sebenarnya kau di mana Serena?" teriak Sylvia
Pelaku melihat gerak gerik Sylvia. Dia bersiap dengan senjata tajam nya untuk menikam wanita itu.
"Sayang sekali kau sedang tidak beruntung, sayang. Karena kau akan mati di tangan ku." pelaku mengendap-endap di belakang Sylvia dan kemudian mengarahkan pisau nya ke tubuh Sylvia.
Bugh
Klontang
__ADS_1
Sylvia yang menyadari pergerakan pelaku, segera menghindar saat pelaku mengarahkan senjatanya padanya. Dia memukul tangan pelaku yang menyebabkan senjata tersebut terjatuh.
Sylvia menarik tangan pelaku dan menendang kepalanya hingga tersungkur. Dia menindih tubuh pelaku dan memborgol kedua tangan pelaku kebelakang.
"Sialan kau!! Lepaskan aku!!" teriak pelaku
"Tidak akan, sebelum kau mengatakan siapa kau sebenarnya?" Sylvia memeriksa lengan pria itu dan sialnya, dia tidak menemukan tato di kedua lengan pria itu.
"Apa yang kau lakukan, sayang?"
Deg
Tubuh Sylvia menegang. Dia melirik ke samping, terlihat moncong senjata mengarah di pelipisnya. Dia berdiri dan mengangkat kedua tangannya.
"Usaha yang bagus. Kau menyamar untuk menangkap ku, bukan?" seru seorang pria yang Sylvia duga adalah pelaku yang sebenarnya.
Perlahan Sylvia memutar tubuhnya menghadap pada pria itu. Sial!! Tidak hanya satu, tapi ada tiga orang di sana. Sebenarnya siapa mereka? dan kenapa mereka mengincar wanita pemilik rumah ini?
"Anak buah ku sudah mengurus teman-teman mu. Sekarang mereka berada di tanganku."
Deg
"Sayang sekali kau juga harus berakhir di tanganku." pria itu tertawa keras
Sylvia mencari cara agar bisa lolos. Tapi sepertinya ini akan sulit karena mereka bersenjata. Sedangkan dia hanya bermodalkan belati.
"Tenang Sylvia, bukankah kau sudah biasa menghadapi situasi seperti ini?" batin Sylvia. Ekor matanya menangkap tato di salah satu lengan pelaku.
Deg
"Tato itu.....
__ADS_1