
Damian tersungkur dengan luka tembak di kakinya. Dia memegang kakinya kesakitan dan melihat orang yang sudah menembaknya.
deg
"Anthony!!" lirih Sylvia.
"Kau sangat ceroboh sayang. Apa kau ingin mati Konyol, hm?" Anthony melepas ikatan di tangan Sylvia.
"Ba_bagaimana kau bisa...
"Aku tidak bodoh seperti mu. Kau mungkin lupa siapa aku. Tapi asal kau tahu, aku sangat peka terhadap bau obat-obatan. Jadi Aku tahu jika kau menyembunyikan chloroform di kamar kita." Anthony membantu Sylvia berdiri dan kembali berkata, "dari awal aku curiga kenapa tiba-tiba temanmu datang. Dan aku yakin kau pasti merencanakan sesuatu."
Sylvia hanya terdiam. Dia tidak menyangka jika suaminya sudah tahu semuanya. Tapi untungnya dia datang tepat waktu. Jika tidak mungkin sekarang dia sudah mati.
Ya, dia akui jika dia ceroboh. Dia mengira bisa mengalahkan Damian tapi ternyata dia salah.
"Terimakasih Thon." seru Sylvia
"Semua itu tidak gratis sayang." seringai Anthony
"Cih.. Aku sudah menduganya."
__ADS_1
Dor
Sylvia tersentak. Dia bergegas masuk kedalam pabrik setelah mendengar suara tembakan dari dalam sana. Tapi ternyata saat dia masuk, anak buah Damian sudah tergeletak tidak bernyawa karena di habisi Daniel dan anak buahnya.
Sylvia menghela nafas lega. Dia segera menghampiri kedua orangtuanya dan membantu melepas ikatannya.
"Mom, dad!! Kalian tidak apa-apa?" tanya Sylvia.
"Kami baik-baik saja sayang. Terimakasih sudah menyelamatkan kami." seru Issac
Sylvia mengangguk dan kembali memeluk keduanya. Sedangkan di luar, Anthony berdiri di depan Damian yang kesakitan.
"Apa itu sakit?" tanya Anthony tapi tidak mendapat respon dari Damian. Hal itu membuat Anthony menginjak luka di kaki Damian dan membuat pria itu berteriak keras. "Aarrggh....!!"
"Kau melakukan kesalahan besar karena mengincar nyawa kami." seru Anthony. Dia jongkok di depan Damian dan kembali berkata, "dari awal sudah tahu jika ada yang salah dengan dirimu. Kau menemui Sylvia setelah kami menikah dan anehnya sebagian rekaman cctv hilang. Dan itu membuat ku curiga."
Deg
"Sejujurnya selama ini kau berada di bawah pengawasan ku. Bahkan aku sudah tahu siapa yang memerintahkan mu melakukan semua itu."
"Dan apa kau tahu, Sylvia tahu jika kau adalah pelaku yang membunuh Axel."
__ADS_1
Deg
"A_apa?" pekik Damian
Anthony tertawa keras dan memberitahu Damian bagaimana mereka bisa tahu. "Rekanmu itu sangat cerdik. Dia merekam pertemuan kalian dan menyembunyikan memory card nya di tempat yang tidak bisa kau temukan."
"Dan kau yang waspada dan takut ketahuan, mengusulkan untuk mencari petunjuk kematian Axel. Itu hanya alasanmu saja untuk memastikan jika Axel memang tidak meninggalkan jejak."
"Tapi sayangnya Sylvia menyadari sesuatu. Dia menemukan memory card tersebut di tengah-tengah bunga tulip putih."
Deg
Sekilas ingatan Damian kembali di mana waktu itu, Sylvia memetik bunga tulip putih. Jadi kemungkinan waktu itu Sylvia menemukan sesuatu dan menghilangkan jejak darah di bunga tersebut dengan memetiknya.
"Kau sangat bodoh. Aku tidak tahu kenapa kau bisa menjadi rekan istri ku." Anthony mengambil ponsel Damian dan memeriksanya. Dia tersenyum sinis dan menekan kontak seseorang.
"Katakan padanya jika kau sudah membereskan semuanya. Dan akan segera datang membawa Sylvia pada mereka." perinta Anthony
"Aku tidak akan melakukannya." tolak Damian
"O ya?" Anthony mengarahkan moncong senjata api tepat di pelipis Damian. "Masih tidak mau melakukannya, hm?"
__ADS_1
Glek