
Sylvia terlihat gelisah dalam tidurnya. Terlihat keringat menetes dari pelipisnya dan tidak berapa lama, dia terbangun dengan nafas yang terengah-engah.
"Sudah pagi." gumamnya. Dia mengusap wajahnya kasar karena lagi-lagi dia mendapatkan mimpi yang sama. Dia beranjak dan langsung ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.
Dia sudah biasa di bangunkan dengan mimpi yang sama, mimpi dimana kedua orangtuanya di bantai dengan keji di depan matanya. Entah sampai kapan mimpi ini akan terus menghantuinya.
Jika sudah seperti ini, dia akan bangun dan melakukan aktifitas pagi yang biasa dia lakukan. Dia selalu olahraga pagi, menyiapkan keperluannya sendiri, dan membersihkan rumah dinas yang di tempati sebelumnya.
Tapi sekarang dia tidak perlu melakukan itu semua karena sudah ada maid yang menyiapkan keperluan nya. Bahkan jika dia mau, dia tidak perlu bekerja lagi karena dia mempunyai suami yang kaya. Heh... Haruskah dia senang? Ya, harusnya dia senang. Tapi sayangnya dia tidak merasa demikian. Semua wanita menginginkan posisi Sylvia, tapi wanita itu justru merasa terkekang dan merasa hidup di neraka.
Tinggal di tengah hutan dan setiap hari hanya di suguhi senjata dan darah. Siapa yang akan betah tinggal di sini?
Setiap ada yang melakukan kesalahan sekecil apapun itu, Anthony akan langsung menembak mati orang tersebut. Benar-benar mengerikan. Sepertinya dia harus membiasakan diri dengan kebiasaan suaminya.
Setelah selesai bersiap, Sylvia membuat kopi untuk dirinya sendiri. Dia berencana untuk menjenguk ayah dan ibunya hari ini. Untuk itu dia sudah terlihat rapi. Tapi sepertinya dia harus meminta ijin dulu pada Anthony karena gerbang utama tidak akan terbuka untuk nya jika Pria itu tidak mengijinkan nya pergi. Benar-benar seperti dalam penjara.
Tapi dia merasa lega karena Anthony tidak melarangnya untuk tetap mengabdi pada negara.
Sylvia menyesap sedikit demi sedikit kopi buatan nya sambil membaca surat kabar hari ini. Dan lihatlah!! Fotonya terpampang di Halaman utama. Bahkan semua hampir memberitakan tentang pernikahannya.
"Hah... Apa tidak ada berita lain yang bisa ku baca? Kenapa mereka memuat berita pernikahan ku di mana-mana?" gerutu Sylvia. Dia yakin jika dia mengaktifkan ponselnya, pasti puluhan pesan dan panggilan tidak terjawab akan memenuhi layar ponselnya.
Sylvia memang menonaktifkan ponselnya sejak kemarin. Dan dia belum mengaktifkan nya kembali. Dia terlalu malas menjawab pertanyaan mereka yang sangat ingin tahu kenapa dia menikah dengan pria mengerikan itu. Tapi jika dia tidak mengaktifkan ponsel nya bagaimana dia akan menghubungi ayahnya?
Sylvia mengambil ponsel yang dia letakkan di sampingnya. Dengan perasaan ragu, dia mengaktifkan ponselnya dan benar saja, teman-teman dari tempat kerjanya menghubunginya beberapa kali. Tidak hanya satu orang, tapi ada puluhan orang menghubungi dan mengirim pesan padanya.
Sylvia menghela nafas panjang. Dia menghapus semua pesan dan juga panggilan tidak terjawab tanpa melihatnya terlebih dahulu. Dia sangat yakin jika pertanyaan mereka sama saja.
__ADS_1
"Menggelikan." gerutu Sylvia. Setelah semua terhapus, tiba-tiba ponselnya berdering. Tertera nama seseorang yang sangat dia kenal.
Dengan sedikit pertimbangan, akhirnya Sylvia menggeser ke atas tombol berwarna hijau dan menempelkan ponsel tersebut di telinganya.
"Ada apa?" tanya Sylvia
"Jam 10 di Black Blue Barista." Tanpa menunggu jawaban Sylvia, orang yang menelpon wanita itu menutup begitu saja sambungan teleponnya.
Sylvia menggenggam erat ponselnya. dia terdiam beberapa saat dan tersadar saat seseorang menyapanya.
"Selamat pagi, sayang." sapa Anthony . Dia duduk berseberangan dengan Sylvia dan tidak berapa lama maid datang dan meletakkan kopi di depan pria itu.
"Siapa yang menelpon mu barusan?" tanya Anthony
"Bukan urusanmu." jawab Sylvia ketus
Sylvia memutar kedua bola matanya jengah. Kenapa pria itu selalu mengatakan hal yang sama terus menerus? seolah dia bangga bisa menikah dengannya.
"Aku ingin menjenguk Daddy." seru Sylvia
"Baiklah, kita akan pergi bersama."
"Aku bisa pergi sendiri." sahut Sylvia. Dia berdiri dan kembali ke kamar nya untuk mengambil tasnya. Dia tidak mau pergi ke rumah sakit bersama dengan Anthony karena dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Dan yang pasti dia tidak akan bebas jika pergi dengan pria itu. Lagipula dia ingin menemui seseorang nantinya.
Sylvia memasukan ponsel dan dompet kedalam tasnya. Dia keluar dan melewati Anthony begitu saja.
"Jika kau tidak ingin pergi bersamaku, pergilah dengan Daniel." seru Anthony
__ADS_1
"Aku bukan anak kecil." sahut Sylvia.
"Aku tidak menerima penolakan."
Langkah Sylvia terhenti. Dia menatap Anthony yang menyesap kopinya. "Tidak bisakah kau memberiku ruang untuk bernafas? Aku bosan di rumah terus. Setiap hari aku harus melihat mu bermain darah. Kau membunuh anak buah mu sendiri hanya karena kesalahan kecil. Dimana rasa kemanusiaan mu?"
"Mereka pantas mendapatkan nya, sayang." Anthony mendekati Sylvia dan berdiri di depannya. "Mereka melakukan kesalahan dan aku hanya memberi mereka hukuman."
"Hukuman? Kau membunuh mereka, Anthony. Bukan menghukum mereka. Kesalahan kecil yang mereka lakukan, dan kau langsung menembak mereka. Jika seperti itu kau sebut hukuman, lalu hukuman apa yang pantas untuk penjahat seperti mu?"
Anthony terdiam. Dia dapat melihat kebencian di mata Sylvia yang begitu besar. Tapi inilah dirinya. Dan Sylvia harus menerima nya.
"Nona, Anda tidak seharusnya.....
Anthony mengangkat tangan nya memberi isyarat Daniel untuk diam.
"Inilah aku yang sebenarnya dan kau harus menerima diriku yang seperti ini." seru Anthony.
"Jika begitu, kau juga harus menerima diriku yang akan terus membenci mu. Karena aku paling tidak suka dengan pria seperti mu." Sylvia melipat kedua tangannya di depan dada dan kembali berkata, "Kau bilang, kau akan membuat ku jatuh cinta padamu, kan? Aku sarankan untuk tidak melakukan hal yang sia-sia. Kau dan aku tidak akan pernah bisa bersatu. Aku membenci kejahatan dan kau selalu melakukan kejahatan. Aku bertugas menangkap penjahat, dan kau salah satu orang yang akan aku tangkap." Sylvia pergi begitu saja. Tapi langkah nya kembali terhenti karena Anthony mencekal tangan Sylvia.
"Apalagi?" tanya Sylvia ketus.
"Jika aku merubah diriku menjadi lebih baik, apa kau akan belajar mencintaiku?" tanya Anthony
Sylvia terdiam. Dia melepas pelan tangan Anthony. "Sampai kapanpun, kau tidak akan bisa menjadi lebih baik. Karena sifat buruk mu sudah mendarah daging. Dan jika kau benar-benar tulus mencintai ku, buktikan!! Mungkin aku bisa mempertimbangkan nya." Setelah berkata seperti itu, Sylvia pergi meninggalkan Anthony yang masih mematung mencerna ucapan nya
Memang sulit untuk menghilangkan kebiasaan buruk Anthony yang selalu haus akan darah. Tapi dia akan mencoba. Dia akan membuktikan pada Sylvia jika dia pantas untuk dicintai oleh wanita itu.
__ADS_1
"Aku akan membuktikan jika aku bisa menjadi lebih baik seperti yang kau inginkan, sayang." batin Anthony