
Kapten Alvin membubarkan anggotanya. Dia meminta mereka untuk pulang dan menenangkan pikiran mereka. Dia tahu jika mereka sedang berkabung saat ini. Untuk itu, dia memberi waktu untuk timnya menenangkan diri dan mengikhlaskan kepergian Rekan sekaligus sahabat mereka, Axel.
Tapi saat mereka sampai di depan markas, Barra mengajak timnya untuk menyelidiki sendiri kasus Axel. Dia merasa jika terlalu cepat menentukan pelaku.
Jika memang pelakunya adalah perampok yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat, mereka bisa menangkapnya terlebih dahulu untuk membalas atas kematian Axel.
"Kita tidak bisa diam saja. Kita harus bertindak untuk menangkap sendiri orang yang sudah membuat Axel pergi." seru Barra
"Aku setuju. Aku tidak terima jika kasus ini di berikan pada tim lain. Ini tanggungjawab kita, bukti kesetiaan kita pada Axel." Amel ikut menimpali. Dia juga ingin menangkap pelaku dengan tangannya sendiri
"Baiklah kalau begitu, kita pergi ke TKP dan mulai penyelidikan. Seperti yang di katakan Barra, mereka terlalu cepat menetapkan pelaku. Untuk itu kita akan melakukan penyelidikan terlebih dahulu." seru Bruce
"aku setuju." Damian ikut membenarkan ucapan rekan-rekan nya.
"Baiklah kalau begitu kita ke TKP sekarang. Ingat!! Jangan melakukan hal yang mencurigakan atau kita akan ketahuan oleh kapten Alvin ataupun yang lain."
__ADS_1
"Siap!!" seru mereka serempak
Mereka mulai mengendarai mobil mereka masing-masing ke TKP yang tidak jauh dari markas FBI.
Dan saat mereka sampai di TKP, mereka mulai melakukan penyelidikan. Mereka mencari sesuatu yang bisa di jadikan petunjuk yang mungkin tertinggal di sana.
"Apa kalian tahu, Kenapa Axel bisa sampai disini?" tanya Sylvia
"Aku dengar jika Axel lari dari kejaran pelaku. Tapi pelaku berhasil menembak Axel. Dan di sinilah TKP nya. Tempat terakhir Axel menghembuskan nafas terakhirnya." Amel menyampaikan informasi yang dia dapat dengan mata yang berembun. Dia mengusap kasar air matanya dan mencoba untuk tegar
"Ayo kita cari petunjuk !!" ajak Amel.
Dia yakin jika Axel menyembunyikan sesuatu yang sangat penting sampai-sampai di saat yang genting, Axel justru menghapus historis panggilannya.
"Apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Damian
__ADS_1
Mereka menggelengkan kepalanya termasuk Sylvia. Dia tidak bisa menemukan petunjuk yang di tinggalkan Axel. Atau dia salah menduga?
Sylvia melihat kesana kemari hingga tatapannya tertuju pada bunga tulip putih. Dia menyipitkan matanya karena terdapat noda darah di bunga tersebut walaupun hanya sedikit.
Sylvia membungkuk dan mencari di tengah-tengah bunga tersebut dan mendapatkan sebuah memory card.
Bibirnya tersenyum. Dia buru-buru menyembunyikan memori card tersebut di saku bajunya.
"Apa kau menemukan sesuatu, Sylvia?" tanya Damian yang melihat Sylvia tengah membungkuk seperti mencari sesuatu.
"Tidak, aku tidak menemukan apapun. Melihat bunga tulip putih ini, aku jadi teringat dengan ucapan Amel saat mengucapkan salam perpisahan dengan Axel."
"Amel bilang jika Axel sangat menyukai bunga tulip putih." Sylvia mulai terisak. Dia memetik bunga tulip Putih yang terdapat noda darah Axel. Dia mencium bunga tersebut dan kemudian membuangnya di danau yang tidak jauh dari sana.
Dia melakukan hal itu untuk menghilangkan jejak Axel. Jika salah satu dari mereka menemukan bunga dengan noda darah tersebut maka mereka akan tahu jika Axel menyembunyikan sesuatu di sana.
__ADS_1
Jujur dia tidak mempercayai teman-temannya. Dia curiga jika di antara mereka ada yang berkhianat.
"Terimakasih Axe. Aku berjanji akan membalaskan kematian mu. Akan aku pastikan dia mendapatkan balasan yang setimpal." batin Sylvia