
Setelah selesai memakai baju dan memindahkan kembali barang-barangnya ke tempat semula, Sylvia mulai berkutat dengan laptopnya. Dia membaca kembali kepingan-kepingan file yang dia kumpulkan dulu.
File-file tersebut berisi hasil penyelidikan dari kasus pembantaian terhadap kedua orangtuanya. Kasus itu sudah lama di tutup karena tidak ada saksi ataupun bukti akurat yang mengarah pada seseorang yang diduga pelakunya. Bahkan polisi tidak bisa memperkirakan siapa yang mereka curigai yang melakukan kejahatan tersebut.
Sylvia membaca dengan serius. Dia membandingkan file tersebut dengan informasi yang di berikan Damian. Ya, map coklat yang Damian berikan adalah hasil penyelidikan tentang kematian kedua orangtuanya. Entah dari mana Damian mendapatkan nya, Sylvia juga tidak tahu. Tapi dia merasa sedikit aneh. Kenapa tiba-tiba Damian memberikan informasi itu padanya setelah dia menikah dengan Anthony?
"Informasi yang Damian berikan berbeda dengan yang aku dapatkan dari pihak kepolisian. Ini aneh, jadi siapa yang benar di sini? Apa polisi sengaja menutupi fakta kematian Mommy dan Daddy karena pelaku adalah orang yang berpengaruh? Jika benar berarti mereka memalsukan bukti, kan. Tapi aku sudah menyelidikinya sendiri dan hasilnya sama dengan hasil dari kepolisian. Lalu bagaimana dengan informasi dari Damian ini?" gumam Sylvia
Kasus ini semakin rumit. Kenapa dia mendapatkan bukti yang berbeda? Sepertinya setelah ini dia harus menyelidikinya ulang. Dia akan memulainya dari informasi yang diberikan Damian.
Tapi jika begitu bukankah dia harus mendekati Anthony? Ck... Dia sangat malas berurusan dengan pria itu. Tapi demi informasi yang dia butuhkan sepertinya dia harus menurunkan egonya.
Sylvia menutup kembali laptopnya. Dia menyandarkan punggungnya di headboard dan memejamkan matanya sejenak. Kematian kedua orangtuanya menyisakan kesedihan mendalam untuk nya. Dia melihat sendiri bagaimana penjahat itu membantai ibunya dengan kejam. Hatinya sakit. Dia sangat marah. Tapi polisi tidak bisa menemukan siapa pelakunya.
Dan sekarang, setelah 22 tahun berlalu, Damian datang dengan membawa informasi baru tentang kematian orangtuanya. Dan semua bukti mengarah pada suaminya sendiri, Anthony.
Ya, semua bukti yang diberikan Damian menunjukkan jika pelakunya adalah Anthony. Memang bisa saja Anthony melakukannya. Pria itu sangat kejam dan tidak mempunyai hati, bahkan dengan anak buahnya saja Anthony bisa membunuhnya dengan wajah tanpa dosa. Apalagi dengan orang yang tidak dia kenal. Tapi jika benar Anthony pelakunya, kenapa dia membunuh orangtuanya?
Sylvia membuka matanya dan menghela nafas panjang. Walaupun bukti baru ia dapatkan tapi dia tidak boleh gegabah. Dia harus mulai mencari tahu faktanya. Apalagi dia merasa aneh dengan Damian.
__ADS_1
Tok Tok Tok
"Apa aku boleh masuk, sayang?" seru Anthony di depan pintu kamar Sylvia.
Sylvia menyembunyikan laptopnya dan berpura-pura membaca buku. "Masuklah!!!" teriak Sylvia
Anthony membuka pintu dan tersenyum melihat istrinya sedang membaca buku. Dia mendekat dan ikut duduk di tempat tidur dan bersandar Headboard di samping Sylvia.
"Apa yang kau baca?" tanya Anthony
"Hanya buku cerita biasa." jawab Sylvia singkat
Sebenarnya Sylvia merasa risih. Tapi biarlah. Anggap saja ini awal yang baik untuk mendekati Anthony dan mencari tahu tentang peristiwa 22 tahun yang lalu. Apakah dia pernah membunuh sepasang suami istri atau tidak?
"Aku menunggumu, sayang. Aku sudah sangat lapar." lanjut Anthony
"Jika kau lapar, makan saja dulu. Kenapa menunggu ku?" gerutu Sylvia
"Aku hanya ingin makan bersama mu, sayang. Besok aku sudah harus ke kantor. Jadi aku mungkin tidak bisa makan dengan mu."
__ADS_1
Sylvia menghela nafas dan menutup buku di tangannya. "Apa kau pernah membaca buku tentang Sherlock Holmes? Dia pernah berkata di kasus batu Mazarin. 'Otakku akan lebih tajam jika perutku kosong karena bagian terpenting dari tubuhku adalah otak dan bagian lain hanya pelengkap'. Aku sudah biasa bekerja dengan perut kosong. Dan hal itu tidak menghambat diriku dalam menjalankan tugas. Menjadi abdi negara itu sangat keras, Anthony. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan ku. Aku tidak akan mati kelaparan." Sylvia beranjak dan mengembalikan buku nya.
Anthony menghela nafas panjang. Kenapa sangat susah mengambil hati seorang Wanita? Tidak! Dia merasa jika Sylvia berbeda. Jika saat ini yang ada di depan nya adalah wanita lain, pasti tanpa bujuk pun mereka akan datang sendiri.
"Baiklah kalau begitu. Aku keluar dulu." seru Anthony
"Apa besok aku boleh ikut?"
Anthony menghentikan langkahnya. Dia memutar tubuhnya dan menatap Sylvia. "Kau mau ikut ke kantor?"
"Jika kau mengijinkan." ucapnya singkat.
"Tentu saja boleh sayang." Anthony mendekat dan menakup wajah Sylvia. "Justru aku senang kau mau ikut denganku. Jika perlu, aku akan mengajakmu ke markas ku yang lain. Aku mempunyai banyak koleksi senjata. Dan aku yakin kau pasti akan menyukainya." lanjut Anthony
"Baiklah. Aku pegang ucapanmu. Sekarang, kau boleh keluar. Aku mau tidur siang."
Anthony tersenyum dan mengangguk. Dia mengecup singkat bibir Sylvia dan buru-buru keluar sebelum wanita itu menghajarnya.
"ANTHONY!!!" teriak Sylvia
__ADS_1