Terpaksa Menikah Dengan Mafia

Terpaksa Menikah Dengan Mafia
Cemburu


__ADS_3

"Nona berhasil menjalankan misi nya dan saat ini nona sedang makan malam dengan rekannya, Tuan." lapor anak buah Anthony. Walaupun pria itu lepas tangan, tapi dia tetap meminta anak buahnya untuk mengawasi Sylvia. Dia yakin jika Sylvia bisa menghadapi para pecundang itu dengan cepat. Dan terbukti, wanita itu berhasil.


"Di mana mereka makan malam?" tanya Anthony


"Tidak jauh dari perusahaan, Tuan."


Anthony mengambil jasnya dan bergegas pergi menyusul istrinya. Dia paling tidak suka ada orang yang mencoba mendekati miliknya. Dan dia sangat yakin jika pria yang saat ini bersama Sylvia mempunyai maksud tersembunyi.


Anthony mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia pergi seorang diri tanpa Daniel atau anak buahnya. Dan tidak butuh waktu lama, dia sampai di restoran tempat dimana mereka makan malam.


Anthony memarkirkan mobilnya asal dan segera masuk kedalam restoran. Dia menatap tajam pria yang duduk di depan istrinya. Di tambah lagi, Sylvia tersenyum pada pria itu. Dia menghampiri mereka dengan tangan yang mengepal.


"Sepertinya kalian menikmati makan malam kalian."


Deg


Sylvia mendongakkan kepalanya menatap Anthony yang datang dengan raut wajah yang berbeda dari biasanya. Gawat!! sepertinya suasana hati Anthony sedang tidak baik saat ini.


"Anthony!! A_apa yang kau lakukan Disini?" tanya Sylvia


"Harusnya aku yang bertanya padamu, sayang. Aku menunggumu tapi kau justru asyik makan dengan pria lain." Tatapan Anthony tidak lepas dari Damian yang juga menatapnya.


"Kami hanya makan malam biasa. Kami berhasil menyelesaikan misi kami dan kami merayakannya bersama." terang Sylvia


"Hanya berdua? Kemana anggota kalian yang lain?"


Sylvia terdiam. Dia yakin Anthony sedang cemburu saat ini karena dia makan malam berdua dengan Damian. Padahal mereka tidak ada hubungan apa-apa. Tapi sepertinya pria itu salah paham. Tidak ada pilihan lain selain mengajak Anthony untuk pulang. Dia tidak mau terjadi adu kekuatan di sini.


"Ayo kita pulang!!!" ajak Sylvia


"Kenapa? Bukankah kalian sedang makan malam. Apa kedatangan ku mengganggu acara kalian?"


"Anthony, please!! Jangan mulai!!"

__ADS_1


"Bukankah kalian berdua yang memulainya?"


Damian mulai jengah dengan ocehan Anthony. Dia berdiri dan berkata, "Kau ini berisik sekali ya. Memangnya Kenapa jika kami makan malam berdua, hah? Kami ini rekan kerja. Dan kami baru saja berhasil menyelesaikan misi kami. Jadi tidak ada salahnya kami merayakannya." seru Damian


"Oh.. Jadi kau menantangku!! Jangan kau kira dengan bergabung dengan FBI membuat ku takut padamu."


"Stop!!! Jangan bertingkah seperti anak kecil!! Apa kalian tidak malu menjadi pusat perhatian?" teriak Sylvia


Anthony menatap Sylvia dan menembak orang yang sedari tadi memperhatikan mereka tanpa menoleh sedikitpun.


Tapi sayang sekali tembakan nya meleset dan mengenai gelas yang di pegang orang itu dan menembus kaca jendela di sampingnya.


Semua orang mulai berteriak dan berhamburan keluar dari restoran. Suasana restoran menjadi kacau.


Sylvia menatap tajam Anthony. Berbeda dengan Damian yang tertegun. Dia tidak menyangka jika Anthony begitu ahli menggunakan senjata api.


Pria itu bisa menembak tanpa melihat targetnya. Walaupun Anthony bisa saja membunuh langsung orang tersebut, tapi sepertinya dia tidak mau menunjukkan nya di depan Sylvia.


"Kita pulang!!" Sylvia menarik tangan Anthony keluar dari restoran.


Sylvia pulang dengan mobil yang di bawa Anthony. Tidak ada pembicaraan antara keduanya. Mereka diam membisu seolah enggan untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu.


Bahkan saat sampai di rumah, mereka masih diam. Tapi saat Anthony menarik Sylvia masuk ke kamarnya, wanita itu berteriak dan memberontak. "Lepaskan aku!!"


Anthony tidak merespon. Dia menghempaskan tubuh Sylvia di tempat tidur begitu saja.


"Apa mau mu sebenarnya?" teriak Sylvia


Anthony mengambil sesuatu di laci dan membawanya di tempat tidur. "Buka bajumu!!"


"A_apa? Jangan macam-macam!!" Sylvia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Anthony terkekeh. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan Sylvia. Dia hanya ingin mengobati luka di perut Sylvia. Tapi respon wanita itu sungguh di luar dugaan.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengobati perut mu. Memangnya apa yang kau pikirkan, hm?"


"O_oh.." Sylvia merasa malu karena berfikir terlalu jauh. Dia menaikan bajunya dan memperlihatkan perut nya yang lebam.


Dengan hati-hati, Anthony mengoleskan salep di perut Sylvia. Dalam hati dia begitu geram karena ada yang berani melukai wanita nya. Jika nanti ada kesempatan, dia akan membalas orang itu.


Bruce, nama itu sudah ada di daftar target nya. Hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk mengeksekusinya. Jangan harap untuk bisa selamat karena sudah melukai wanita nya.


"Dari mana kau tahu jika perutku terluka?" tanya Sylvia


"Mataku ada di mana-mana jika kau lupa." jawab Anthony Sekena nya.


Sylvia berdecak. Dia yakin Anthony masih mengirim pengawal bayangan untuknya. Tapi kenapa saat dia dalam bahaya, mereka tidak keluar untuk menolongnya.


"Aku sudah bilang kan, walaupun kita suami istri, kita harus profesional." ucap Anthony yang seolah tahu apa yang dipikirkan istrinya.


Anthony menyimpan kembali obat tersebut dan menurunkan baju Sylvia. Dia berbaring di samping Sylvia dan memeluknya. "Aku percaya kau bisa mengalahkan mereka tanpa bantuan ku. Apalagi mereka hanya segerombolan pecundang." seru Anthony


"Sepertinya disini kau yang tidak profesional."


Anthony menunduk menatap Sylvia yang juga menatapnya. "Apa maksudmu?"


"Diam-diam kau mencari tahu informasi tentang pelaku. Itu artinya kau perduli padaku yang adalah istri mu, kan?"


Anthony tersenyum tipis dan memejamkan matanya. "Tebakan mu salah sayang. Aku mendapat informasi jika lawanmu mempunyai tato di lengannya. Untuk itu aku mencari tahu dan mengawasi mu. Awalnya, jika memang benar dia mempunyai tato nail snake, aku akan mengambil alih tugas kalian. Aku membutuhkan informasi dari orang itu." terang Anthony


"Sepertinya kita mempunyai tujuan yang sama."


Anthony membuka matanya dan kembali menatap Sylvia.


"Aku juga mempunyai rencana seperti itu. Dan kebetulan Kapten Alvin memintaku untuk menyamar. Jadi aku bisa lebih dulu melihat tato pria itu. Tapi sayang, dia bukan orang yang aku cari."


"Bersabarlah!! Cepat atau lambat kita pasti bisa menemukan petunjuk pelaku pembunuh orang tua kita."

__ADS_1


"Semoga." Sylvia membalas pelukan Anthony dan mulai memejamkan matanya. Hari yang melelahkan. Dan berada di pelukan Anthony membuat nya merasa nyaman. Dan tidak membutuhkan waktu lama, mereka terlelap dalam tidur mereka.


__ADS_2