
"Jadi wanita itu selamat?" seorang pria paruh baya memainkan gelas berisi wine di tangannya dan sesekali menyesapnya. Dia adalah Tuan D.
"Iya tuan."
"Aku tidak menyangka jika wanita itu lumayan juga. Sepertinya aku sudah meremehkannya." seru tuan D
"Sepertinya ini sudah saatnya anda menampakkan diri, tuan. Selama ini kau selalu bermain di belakang layar." ucap Kehl
"Kau melakukan pembunuhan dengan mengontrol orang lain agar kau tidak di curigai. Tapi kejadian di kapal pesiar pasti sudah sampai ke telinga Anthony. Jadi, kau tidak bisa menghindar lagi." lanjutnya
Tuan D tersenyum sinis. Memang benar selama ini dia bermain di balik layar. Semua kasus pembunuhan yang terjadi adalah ulahnya. Dia mengontrol orang lain agar menyingkirkan orang yang ingin dia bunuh tanpa mengotori kedua tangannya.
Seperti kematian wartawan yang merupakan anak buahnya.
Karena ceroboh, wartawan itu tertangkap oleh Anthony. Dan dia terpaksa membunuh wartawan itu dengan membuatnya seolah kecelakaan.
Begitu juga dengan kasus-kasus yang Sylvia tangani selama ini. Itu semua adalah perbuatannya.
Tapi sepertinya dia sudah kecolongan karena Sylvia sudah menargetkan dirinya. Berkat pengakuan Billy, sebelum terbunuh, dia mengatakan hal yang penting dan menyebut nama tuan D. Di tambah lagi Sylvia mendapatkan bukti dari video yang tersimpan di memori card milik Axel. Dan Tuan D dan komplotannya belum mengetahui semua itu.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir, aku punya rencana untuk membuatnya bertekuk lutut pada kita."
Tuan D dan juga Kehl menoleh menatap seseorang yang baru saja datang. Mereka tersenyum senang mendengar rencana yang orang itu katakan pada mereka. Dan dengan cepat, Tuan D memerintahkan anak buahnya untuk menjalankan rencana mereka.
Dengan begini, Sylvia tidak akan berani melawan. Dan saat mereka menangkap Sylvia, mereka akan menggunakan nya untuk menghancurkan Anthony dan merebut kekuasaan mafia milik Anthony. Rencana yang sempurna.
Sementara itu, di rumah megah milik Anthony. Sylvia tengah melakukan perawatan pada luka nya.
Kakinya terkilir dan terdapat luka lebam yang dia dapat saat terjatuh dari motor. Untungnya lukanya tidak terlalu parah.
"Bagaimana? Apa sudah mendingan?" tanya Anthony. Dia masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi makanan.
Anthony terdiam. Dia menekan kaki Sylvia yang terkilir yang membuat wanita itu menjerit kesakitan.
"Akh...!! Apa yang kau lakukan, hah?" teriak Sylvia
"Ternyata sakit." Anthoni tersenyum tanpa merasa bersalah. Dia mengambil makanan untuk Sylvia dan menyuapinya.
''Bukankah harusnya kau meminta maaf?" gerutu Sylvia.
__ADS_1
"Aku hanya memastikan jika kau baik-baik saja. Kenapa aku harus minta maaf?"
Sylvia mengumpat dalam hati. Jika dia sedang tidak terluka, dia pasti sudah membalas Anthony dengan bogem mentahnya. Tapi sayangnya kakinya terkilir hingga dia tidak bisa berdiri tegak.
"Kau harus cepat sembuh karena mereka sudah mulai bergerak." seru Anthony
"Darimana kau tahu?"
"Kau baru saja mengundurkan diri, tapi mereka sudah mulai menyerang. Itu artinya ada yang memberitahu mereka dan mereka mengambil kesempatan itu untuk menghabisi mu. Karena sekarang kau bukan anggota FBI lagi."
"Jadi dengan kata lain, kau adalah target empuk untuk mereka. Tapi kau juga bisa menyerang mereka kapanpun tanpa menunggu perintah dari atasanmu." lanjut Anthony
"Yeah. Itu memang benar." Sylvia menunduk sedih. Belum lama dia kehilangan rekannya, tapi sekarang dia harus di hadapkan kenyataan bahwa salah satu rekan setimnya mengkhianati mereka.
Awalnya dia merasa bingung karena mereka adalah temannya. Tapi saat ini keadilan adalah yang paling utama. Dia bertekad untuk menangkap orang itu dan bertanya padanya kenapa dia tega mengkhianatinya?
Kenapa dia bekerjasama dengan musuh dan menargetkan dirinya?
Apa karena dia adalah putri Abraham Louis? Tapi apa hubungannya dengannya?
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir. Kita pasti bisa melawan mereka dan membalaskan dendam orang tua kita." Anthony mengangkat dagu Sylvia dan mengecup mesra bibir Sylvia. "Aku berjanji akan membalas setiap kesakitan yang kau rasakan selama ini."