
Sylvia merasa gelisah. Dia terus memikirkan cara agar bisa mengelabui Anthony dan juga anak buah nya untuk keluar dari rumah tersebut tanpa siapapun tahu.
Tapi sepertinya itu akan sangat sulit karena bodyguard yang berjaga sangat banyak. Di tambah jarak untuk sampai ke jalan utama juga sangat jauh. Jika dia tidak membuat mereka tertidur, Sylvia yakin tidak akan bisa keluar dari rumah itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Ayo pikirkan sesuatu Sylvia!" Sylvia berjalan kesana kemari. Dia harus bisa keluar malam ini. Atau jika tidak dia akan kehilangan orang yang dia sayangi untuk kesekian kalian.
Tidak!! Itu tidak boleh terjadi. Dia harus bisa keluar malam ini juga bagaimanapun caranya.
Sylvia memejamkan matanya mencoba berkonsentrasi mencari cara jitu agar bisa keluar. Dan dalam sekejap dia membuka matanya kembali dan tersenyum evil. "Aku punya ide." seringai Sylvia
Sylvia keluar dari kamar dan pergi ke dapur. Dia melihat para pelayan tengah menyiapkan makan siang. Dan dia menawarkan diri untuk membantu.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Sylvia
"No_no Sylvia, apa ada yang bisa saya bantu?" bukannya menjawab, kepalanya pelayan justru bertanya pada Sylvia. Tidak biasanya istri dari tuannya itu datang ke dapur menjelang makan siang. Jadi mereka harus memastikan jika keinginan majikan mereka terpenuhi.
"Hei.. Kenapa kau menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan?" gerutu Sylvia
Kepala pelayan menundukkan kepala dan berkata, "Karena sudah tugas kami melayani anda, Nona. Jadi kami hanya memastikan jika kebutuhan anda bisa terpenuhi."
__ADS_1
Sylvia berdecak kesal. Sepertinya akan sulit bergabung dengan para pelayan. Padahal dia berencana membuat banyak makanan dan membaginya pada semua orang. Dan pastinya dia akan mencampurkan obat tidur dalam makanan tersebut agar mereka semua tidak sadarkan diri dan dia bisa bebas keluar dari sini.
Tapi ternyata semua tidak semudah itu. Kepala pelayan melarangnya untuk berada di dapur dan memintanya mengatakan apa yang dia butuhkan. Benar-benar sial. Dia harus memutar otak untuk mencari cara lain.
Sylvia memilih kembali ke kamar dan memikirkan cara lain. Dan setelah beberapa saat berfikir, akhirnya dia mempunyai cara dan dia yakin kali ini dia akan berhasil.
Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Walaupun awalnya dia ragu. Tapi dia mencoba percaya pada orang itu. Dan dia berharap orang itu bisa di ajak kerjasama.
"Halo, apa kau sedang sibuk?" tanya Sylvia
"Tidak. Selama pelaku pembunuh Axel belum tertangkap, tim kita di larang hadir walau hanya sekedar berkunjung saja. Mereka takut kami akan kehilangan kendali jika bertemu pelaku. Jadi kami hanya meneruskan rencana pencarian bukti lain." seru seseorang di seberang sana
"Tentu saja. Kenapa memangnya?"
Sylvia terdiam sejenak. Dia mulai ragu untuk mengatakan tujuannya. Tapi waktu terus berjalan dan dia tidak punya banyak waktu lagi.
"Amel, apa mereka tahu jika aku yang menghubungimu?"
Amel tidak langsung menjawab. Entah apa yang.dia lakukan, dia harus berhati-hati saat berbicara agar yang lain tidak curiga terutama si pengkhianat.
__ADS_1
"Halo Mel!!" panggil Sylvia
"Halo Sylvia. Maaf, tadi aku meminta ijin pada yang lain untuk pergi ke toilet. Dan sekarang aku ada di toilet mini market." seru Amel
"Ada apa sebenarnya? Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu yang penting?" lanjut Amel
Sylvia menghela nafas lega. "Syukurlah !! Tapi aku mau tanya sekali lagi, apakah yang lain tahu jika aku menghubungimu?" tanya Sylvia
"Sepertinya mereka tidak tahu. Karena aku tidak menyebutkan namamu tadi. Tapi bisa saja mereka tahu karena mereka mendengar aku berbicara mengenai pelaku pembunuhan Axel."
"Baiklah, itu sudah tidak penting lagi. Yang penting sekarang tidak ada yang mengikuti mu ke toilet kan?"
"Tidak ada. Sebenarnya ada apa? Kau membuatku penasaran, Sylvia?"
"Begini. Aku ingin meminta tolong padamu." ucap Sylvia.
"Minta tolong apa?"
"Tidak berat. Dan aku yakin kau pasti bisa melakukannya." seringai Sylvia
__ADS_1