
Sylvia dan Axel kembali bergabung dengan yang lain yang sedang melakukan adegan reka ulang sebelum mereka menemukan korban tewas di kamarnya. Tidak ada yang mencurigakan, itu sebabnya polisi tidak bisa menentukan siapa pelakunya.
"Apa sudah selesai?" Tanya Axel
"Hampir. Memangnya kau kemana saja, hm?" Tanya Amel
"Aku dan Sylvia mengecek kamar korban. Dan apa kalian tahu, aku menemukan rambut di dekat korban."
"Benarkah?" Tanya Bara
"Yes. Dan kita akan segera tahu siapa pelakunya jika kita mengidentifikasi rambut tersebut."
Sylvia menatap satu persatu penghuni rumah tersebut. Mereka terlihat tenang, kecuali satu orang. Dan Sylvia yakin jika orang itu lah pelakunya.
"Aku juga baru saja mendapatkan laporan tambahan dari kepolisian, jika di senjata yang di gunakan pelaku meninggalkan sidik jari. Dan sekarang mereka sedang menelitinya." Lanjut Axel
Deg
Lagi-lagi Sylvia melihat perubahan dari orang itu. Keringat terlihat menetes di pelipisnya. Dia yakin jika orang itu panik sekarang.
Sementara Damian menatap curiga Sylvia dan juga Axel. Tapi melihat tatapan Sylvia yang tidak beralih sama sekali pada seseorang membuatnya tahu trik mereka. Mereka pasti membuat drama itu untuk menggertak si pelaku. Sepertinya akan menyenang jika dia mengambil bagian.
Damian mendekati orang itu dan berdiri di belakangnya. "Rileks tuan." Ucap Damian
Billy Maximilian hanya tersenyum kikuk. Bola matanya bergerak kesana mencoba mengingat-ingat apa dia melupakan sesuatu.
Axel terus memprovokasi seolah-olah pelaku akan segera tertangkap dengan berbagai bukti yang mereka baru saja temukan dan hal itu membuat Billy semakin gugup. Hal itu semakin membuat Sylvia yakin jika dialah pelakunya.
"Ah... Di sini panas sekali. Apa jika malam hari juga sepanas ini? " Tanya Axel
"Hei Ax, apa maksudmu berkata seperti itu? Panas dari mana hah?" Seru Bruce
Axel berdecak pelan. Tapi dia terus berakting seolah-olah dia kepanasan. " Apa kalian jika malam hari suka mandi?"
"Hei... Kau sudah keterlaluan, Ax."
"CK.. aku hanya bertanya pada mereka, Bruce."
"Tapi pertanyaan mu itu tidak ada hubungannya dengan kasus yang kita tangani. Pertanyaan mu itu justru terkesan melecehkan." Sentak Bruce
"Melecehkan bagaimana? Bagian mana dari pertanyaan ku yang melecehkan mereka? Aku hanya tanya apa mereka mandi di malam hari? Apalagi cuaca sepanas ini."
__ADS_1
"Kalau aku tidak pernah mandi, tuan. Karena kalau malam aku merasa dingin dan bukannya panas." Seru si pembantu
"Aku juga sama." Sahut pembantu yang lain
"Tidak ada yang mau mandi di malam hari di cuaca sedingin ini tuan." Si tukang kebun ikut menimpali
"Begitu ya. Aku kira jika malam hari, akan sepanas ini." Axel menatap Billy dan bertanya, "kalau anda, tuan?"
"A_aku tidak pernah mandi malam, tuan." Seru Billy
"Tapi tuan, bukankah malam sebelum nyonya di temukan meninggal, kau mandi pada malam hari." Seru si pembantu
Sylvia dan Axel saling melirik dan menyeringai. Mereka akhirnya mendapatkan pernyataan jika Billy menghilangkan bukti bubuk mesiu dengan mandi setelah membunuh istrinya. Tapi itu belum cukup, mereka masih harus memancing pelaku untuk mengaku.
"A_apa maksud mu?" Tanya Billy
"Saat saya membersihkan kamar tuan, saya menemukan baju yang anda gunakan pada malam itu basah di kamar mandi."
"I_itu.....
"Kenapa anda mandi di malam hari, tuan Billy? Apa anda berusaha menghapus bubuk mesiu yang menempel di tubuh anda? Itu sebabnya anda mandi dan membasahi baju anda." Kali ini Damian ikut menimpali. Dia yakin inilah yang Sylvia cari.
"A_aku...
"Hei, aku hanya bertanya, bukan menuduh." Sangkal Damian
"Jelas-jelas kau menuduhnya." Teriak Bruce
"Diam!!" Teriak Bara yang membuat mereka semua diam seketika.
Tapi Sylvia justru mendekat dan berdiri di depan Billy. Sepertinya dia harus mencari cara lain agar pria itu mengaku. "Tuan Billy, apa kau tahu jika bubuk mesiu itu tidak akan hilang cuma dengan mandi? Bubuk mesiu yang menempel di baju, walaupun sudah di cuci sekalipun akan tetap meninggalkan bekas. Dan jika hal itu di temukan di baju anda yang anda basahi di malam saat korban meninggal, maka kita akan tahu apakah kau pelaku pembunuh istri mu sendiri atau bukan."
Ucapan Sylvia membuat semua rekannya tercengang, kecuali Axel dan Damian. Bruce ingin menegur Sylvia tapi Bara menghentikan nya. Dia mulai paham jika sedari tadi Axel, Sylvia dan Damian sedang menjebak pelaku.
"Apa kau ingat baju mana yang di pakai tuan Billy malam itu?" Tanya Sylvia pada pembantu
"Saya ingat nona."
"Good. Tolong ambilkan!!"
Billy mengepalkan kedua tangannya. Keringat menetes deras dari pelipisnya karena takut kejahatannya ketahuan.
__ADS_1
Si pembantu pergi ke kamar Billy dan mengambil baju yang Billy pakai saat malam di mana nyonya nya meninggal. Setelah mendapatkan nya, dia memberikannya pada Sylvia.
"Mari kita periksa, rambut, sidik jari dan juga baju ini." Seru Axel
"Periksa saja!! Kalian tidak akan menemukan apapun di sana. Karena malam itu aku menggunakan sarung tangan saat menembak iblis itu." teriak Billy
Deg
Mereka semua tercengang dengan ucapan Billy yang secara spontan mengaku jika dia telah membunuh istrinya sendiri.
"Ma_maksud ku, a_aku...." Billy terbata saat menyadari ucapannya
"Kau baru saja mengakui kejahatan anda, tuan?" Tanya Bruce tidak percaya
"A_aku salah bicara. Ma_maksudku bukan begitu." Ucapnya terbata
Sylvia terdiam. Dan tanpa sengaja melihat sesuatu di roda kursi roda yang di pakai Billy. Dia tersenyum dan jongkok di samping kursi roda Billy.
"Sepertinya kau sudah tidak bisa mengelak lagi, tuan." Sylvia mengorek sesuatu yang di duga darah yang sudah mengering yang menempel di roda kursi roda yang di pakai Billy.
"Amel!!"
"Baik!!" Amel mengambil darah yang sudah mengering itu untuk di teliti. Dan ternyata darah itu cocok dengan darah korban.
"Apa saat korban di temukan meninggal, tuan Billy ikut masuk ke kamar korban?" Tanya Sylvia pada pembantu
"Tidak nona. Justru tuan yang meminta kami untuk membangun kan nyonya muda untuk sarapan waktu itu. Dan saat saya menemukan nyonya meninggal, tuan sama sekali tidak naik ke lantai dua sampai polisi datang." Terang si pembantu
"Lalu, kenapa darah korban bisa menempel di roda kursi roda anda, tuan Billy?" Tanya Sylvia
"Dia bilang aku tidak akan ketahuan jika mengikuti trik darinya. Dia bilang semua akan aman. Tapi.. tapi....
"Apa maksudmu, tuan Billy?'" tanya Bruce
Billy menatap satu persatu tim Alfa dan kembali berkata, "pria itu yang bersalah. Aku memang berniat membunuh istri ku karena dia tidak pernah mengurus ku tapi justru berfoya-foya dengan teman-temannya. Dan pria itu memberikan trik untuk membunuhnya." Isak Billy
"Pria siapa yang anda maksud tuan?"
"Aku tidak tahu. Aku mengenalnya di sosial media. Dia pria misterius dengan tato di lengannya."
"Tato?"
__ADS_1
Billy mengangguk dan kembali berkata, "tato mengerikan dengan gambar kepala ular yang tertancap paku."
Deg