Terpaksa Menikah Dengan Mafia

Terpaksa Menikah Dengan Mafia
Mencari Informasi


__ADS_3

"Pagi Mel." sapa Sylvia. Dia sudah sampai di markas FBI dan langsung menemui Amel untuk menanyakan apakah ada tugas untuk mereka atau tidak.


"Pagi juga." Sahut Amel


"Apa kita ada tugas hari ini?" Tanya Sylvia


"Untuk sekarang, belum. Tapi tidak tahu nanti. Tim kita selalu mendapatkan tugas dadakan. Jadi kau harus siap kapanpun."


"Oke. Kalau begitu aku ke ruang informasi dulu. Aku ingin melihat-lihat." Sylvia meninggalkan ruangan Amel dan langsung ke ruang informasi.


Dia akan mencari berkas tentang pembunuhan keluarga Abraham 22 tahun silam. Dan dia berharap menemukan petunjuk nantinya.


Sylvia masuk dan menemui seorang wanita penjaga ruangan khusus informasi. Jika di lihat sepertinya wanita itu bisa di ajak bekerjasama. Wanita itu bukan asli warga Amerika. Dia di rekrut dari kepolisian jepang. Jadi Sylvia yakin jika dia bersih. Tapi tetap saja dia harus berhati-hati.


"Selamat pagi, Youra." sapa Sylvia


"Kau Sylvia?" tanya Youra


"Yes. Apa kau mengenalku?"


"Tentu saja aku mengenalmu. Astaga, akhirnya aku bisa bertemu dengan mu secara langsung. Aku ini penggemar suamimu. Upss.." Youra menutup mulutnya dengan telapak tangan karena keceplosan.


"Maafkan aku, Sylvia." sesal Youra


Sylvia tertawa. Dia menepuk pelan bahu Youra dan berkata, "Tidak apa-apa. Di sini tidak hanya kau yang mengidolakan suamiku. "


"Kau tidak marah?"


"Kenapa aku harus marah? Kalian mengidolakannya bukan untuk memiliki nya, bukan?"


"Te_tentu saja tidak. Aku hanya mengidolakannya saja. Untuk memilikinya, itu tidak mungkin. Lagipula aku masih sayang dengan nyawaku."


Sylvia kembali tertawa keras. Dia melihat sekitar ruangan yang tidak ada siapapun. Mungkin ini saatnya bertanya pada Youra di mana letak penyimpanan berkas tentang kasus besar tersebut.


"Ada apa? Apa kau mencari informasi penting?" tanya Youra yang melihat tingkah aneh Sylvia


Sylvia tersenyum dan mengangguk. "Kau sudah paham ternyata."


"Katakan!! kasus apa yang kau tangani. Aku sudah hafal di mana saja letak berkas setiap kasus. Bahkan aku juga membaca semua berkas-berkas itu. Menurutku ada yang aneh, banyak kejanggalan dalam kasus-kasus yang di tangani FBI." Youra mendekatkan wajahnya dan berbisik, "Asal kau tahu, tidak semua anggota FBI menyelesaikan kasus yang mereka tangani dengan benar."

__ADS_1


"Wow.. benarkah?" tanya sylvia yang di jawab anggukan oleh Youra. Dia tidak menyangka di balik kesuksesan FBI menangani kasus, banyak yang terbengkalai dan asal-asalan. Tapi itu bukan urusannya. Yang terpenting sekarang adalah informasi tentang pembunuhan keluarga Abraham.


"Tadi kau bilang, kau hafal semua kasus yang di simpan disini, bukan?"


"Tentu saja. Kau mau bertanya tentang kasus apa? pemerkosaan, korupsi, pencurian....


"Pembunuhan keluarga Abraham." sela Sylvia


Deg


"A_apa kau bilang?" tanya Youra dengan terbata


"Kenapa kau terkejut seperti itu?"


"Ssttt.. Kecilkan suara mu, Sylvia." Youra menarik Sylvia untuk mendekat dan melihat kesana kemari. "Apa kau tahu apa yang sudah kau katakan tadi? Jika sampai ada yang mendengar, kau bisa dalam masalah."


Sylvia mengerutkan keningnya dan berkata, "Apa maksud mu? aku tidak mengerti."


"Sebelum aku mengatakannya, jawab dulu pertanyaan ku, kenapa kau mencari informasi tentang kasus tersebut?" tanya Youra


Sylvia bersenyum dan berkata, " Karena aku tertarik dengan kasus besar yang belum terpecahkan." Seru Sylvia. Dari sini dia sudah bisa menyimpulkan jika ada yang di rahasiakan FBI tentang kasus tersebut. Jadi dia harus bisa mendapatkan nya hari ini juga. Bagaimanapun caranya.


Sylvia memutar kedua bola matanya malas. Dia meyakinkan Youra jika dia hanya ingin tahu saja, tidak lebih. Dan setelah terjadi perdebatan kecil antara mereka, akhirnya Youra mau menunjukkan di mana letak bekas itu di simpan.


Wanita itu mengajak Sylvia di sudut ruang. Di sana ada sebuah pintu yang tertutup disana. "Kasus-kasus penting akan di simpan disini. Jujur aku sendiri belum pernah melihat ataupun membaca tentang kasus-kasus yang tersimpan di ruangan ini. Jadi aku tidak tahu di mana letak pasti berkas itu berada." terang Youra


"Tidak masalah, aku akan mencarinya sendiri."


"Dan satu hal lagi, selain orang yang berkepentingan di larang masuk kemari. Jadi, aku hanya bisa menjaga dari tempat ku. Aku akan memberi kode jika ada orang masuk. Selebihnya kau urus dirimu sendiri." Youra mengambil kunci dan menyerahkannya pada Sylvia. "Ini kunci cadangan ruangan ini. Jika kau sudah selesai, kembalikan padaku."


Sylvia menerima kunci tersebut dan mengucapkan terimakasih pada Youra. "Thanks."


Youra mengangguk pelan dan kembali ke tempatnya bertugas.


Sylvia menghela nafas panjang dan mulai membuka pintu ruangan itu menggunakan kunci pemberian Youra. Dia harus bergegas, jangan sampai ia ketahuan. Dan lagi, dia tidak ingin melibatkan Youra dalam masalahnya.


Pintu terbuka, Sylvia melihat banyak berkas yang tersimpan rapi dan untungnya berkas-berkas itu tersimpan dengan label nama kasus yang terjadi. Dan hal itu memudahkan Sylvia mencari informasi yang dia inginkan.


Sylvia mulai membaca urutan nama yang ada di label. Dia mencari berkas dengan label pembunuhan keluarga Abraham. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya dia menemukannya.

__ADS_1


"Akhirnya aku mendapatkannya. Tidak ada waktu untuk membacanya. Aku akan menyalinnya saja." Sylvia mengambil ponselnya dan memotret setiap lembar berkas tersebut.


Jantungnya berdetak kencang saat melihat foto keluarga nya yang tergeletak bersimbah darah. Dia menghela nafas berat dan menghapus air matanya. "Tenang kan dirimu, Sylvia. Sekarang bukan waktunya untuk menangisi semuanya."


Sylvia kembali memotret berkas tersebut. Hingga dari arah luar, terdengar teriakan Youra yang menandakan ada orang lain disana.


"Gawat!!"


...****************...


Youra kembali di tempatnya. Dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. "Semoga kau mendapatkan apa yang kau inginkan, Sylvia." batin Youra


Tapi sepertinya Dewi Fortuna tidak berpihak pada Sylvia.


Bruce, tiba-tiba datang ke ruang informasi dan ingin mencari berkas tentang kasus besar yang tersimpan di ruang tempat Sylvia kini berada.


"Pagi Youra." sapa Bruce


Youra tersentak dan tersenyum kikuk. "Pa_pagi juga Bruce." sapa Youra dengan suara yang keras. Dia sengaja melakukan itu untuk memberitahu Sylvia jika ada orang lain yang masuk keruangan ini.


Bruce mengerutkan keningnya karena Youra berbicara sangat keras dan dia juga bersikap tidak seperti biasanya yang selalu semangat jika ada orang yang masuk dan menanyakan tentang letak berkas berisi kasus yang di cari anggota lain.


"Ada apa? Apa kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Bruce


"A_apa? Aku tidak menyembunyikan apapun, Bruce." lagi-lagi Youra bersuara keras


"Hei, ada apa dengan mu? kenapa kau berteriak?" Bruce menatap sekitar ruangan penuh selidik dan kembali menatap Youra. "Kau menyembunyikan sesuatu kan?"


"A_apa?? Ti_tidak Bruce. Kau saja yang terlalu paranoid."


"Aku tidak percaya." Bruce berkeliling mencari jika saja ada yang di sembunyikan Youra. Tapi dia tidak menemukan apapun. Dan tiba-tiba pandangan tertuju pada pintu ruangan penyimpanan berkas-berkas penting.


"Youra!!" panggil Bruce


"Gawat, apa Bruce menemukan sesuatu?" Youra menghampiri Bruce yang berdiri di depan pintu ruangan di mana Sylvia berada. "Gawat!! Ini benar-benar gawat." batin Youra khawatir


"Tolong kau buka pintu ini. Ada berkas yang harus aku ambil. Ini perintah dari kapten Alvin." pinta Bruce


"Ba_baik." Youra mengambil kunci dari sakunya dan membuka pintu tersebut.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sylvia. Semoga kau bisa lolos. Jika tidak, maka aku juga akan di hukum." batin Youra


__ADS_2