
Sylvia tidak bisa berbuat apa-apa saat Damian menodongkan senjatanya kearah kedua orangtuanya. Dia hanya bisa diam saat anak buah Damian mengikatnya. Bahkan mereka mengambil dua pistol yang dia sembunyikan di pinggangnya.
"Sejak kapan?" Sylvia menatap Damian dan kembali bertanya, "Sejak kapan kau menjadi pengkhianat?"
"Kenapa? Kau penasaran?" Damian tersenyum sinis dan jongkok di depan Sylvia. "Aku memakluminya. Kau pasti sangat ingin tahu kapan, kenapa dan bagaimana aku bisa mengkhianatimu? Karena aku sedang berbaik hati, maka aku akan mengatakannya padamu." Damian berdiri dan berjalan mengelilingi Sylvia yang duduk terikat .
"Apa kau tahu, Sylvia. Aku sangat mencintaimu. Tapi kau justru memilih menikah dengan Anthony. Dari situ awal mula aku mulai melenceng dari pekerjaan ku."
Deg
Sylvia terkejut dengan pengakuan Damian. Tapi dia berusaha terlihat biasa saja. Dia tidak tahu jika Damian menyimpan perasaan terhadapnya. Selama ini dia hanya menganggap Damian sebagai teman saja tidak lebih. Dan dia merasa jika Damian pun juga begitu. Tapi ternyata pria itu mencintainya.
"Saat itu, seseorang menawarkan sesuatu padaku. Dia ingin aku mencari putri dari Abraham Louis. Awalnya aku ingin menolak. Tapi mendengar tawaran yang sangat menggiurkan, aku menyetujuinya. Apalagi kami mempunyai musuh yang sama, yaitu Anthony." terang Damian
"Tapi setelah mendengar cerita tentang Abraham Louis, aku mencari informasi lebih tentang Abraham Louis. Dan dengan menggabungkan semuanya dengan ceritamu yang mencari pembunuh kedua orangtuamu, aku baru sadar jika kau adalah putri Abraham Louis." lanjutnya
"Apa kau tahu, Dam. Kau melakukan kesalahan besar. Apa dengan membunuh Anthony maka aku akan mencintaimu? Tidak!! Aku tidak akan pernah mencintaimu." sentak Sylvia
__ADS_1
Damian tertawa keras. Dia jongkok di depan Sylvia dan mencengkeram dagu wanita itu. "Apa kau pikir aku perduli? Saat ini tujuan ku adalah membunuh Anthony. Dan kau? Aku akan memberikanmu pada seseorang."
"Tuan D." celetuk Sylvia
Deg
Damian menatap Sylvia yang juga menatapnya. "Kenapa? Kau terkejut aku mengetahuinya?"
"Aku ini lebih pintar dari mu, Damian. Bahkan rencana kalian yang ingin menyingkirkan ku dan Anthony pun, aku tahu. Untuk itu tidak lama lagi Anthony akan datang dan menghabisi mu. Jadi bersiaplah!!"
Damian mengepalkan tangannya. Dia tidak menyangka jika rencananya sudah di ketahui Sylvia. Untuk itu dia menghubungi Tuan Kehl.
"Bawa wanita itu kemari dan bereskan semuanya." ucap tuan Kehl.
"Baik." Damian mematikan sambungan teleponnya. Dia menarik Sylvia yang terikat untuk berdiri dan membawanya keluar.
"Bereskan mereka!!" ucapnya pada anak buahnya
__ADS_1
"Baik!!"
Damian mendorong Sylvia untuk berjalan. Tapi Sylvia seolah enggan untuk pergi. Dia menoleh menatap kedua orangtuanya yang menangis.
Dia merasa gagal karena tidak bisa menyelamatkan mereka.
Tidak!! Dia belum gagal karena belum mencobanya. Saat mereka sampai di depan pabrik, Sylvia menendang Damian yang berjalan di belakangnya hingga pria itu mundur beberapa langkah.
Sylvia tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia bersalto dengan tangan terikat. Dan memberikan tendangan maut di kepala Damian.
Brakh
Damian tersungkur dan muntah darah. Sylvia berjongkok dan mencoba meraih belati yang dia sembunyikan di kakinya. Dan berhasil. Dia mencoba memotong tali yang mengikat kedua tangannya.
Tapi Damian bangun dan menyerang Sylvia. Wanita itu tersentak dan berguling menghindari serangan Damian. Dia melakukan sliding yang membuat Damian terjatuh.
Sylvia berdiri dan menendang wajah Damian hingga terguling. Dia mengambil kesempatan untuk mengambil belatinya yang terjatuh dan mulai melepaskan ikatan talinya kembali. Tapi sayang, Damian bangun tanpa sepengetahuan Sylvia dan mengarahkan senjatanya pada wanita itu.
__ADS_1
"Kau memang hebat Sylvia. Tapi sayangnya kau kalah."
Dor