
Keesokan harinya, baik Anthony maupun Sylvia tengah bersiap untuk melakukan aktivitas mereka masing-masing.
Seperti biasa, Anthony akan pergi ke kantor. Sedangkan Sylvia, dia akan pergi ke kantor FBI untuk menemui kapten Alvin.
Ya, dia sudah memutuskan untuk menerima tawaran mereka. Dia sudah menghubungi Kapten Alvin dan memberitahu keputusannya. Dan hari ini, dia di minta kapten Alvin untuk datang ke kantor FBI untuk menerima tugas pertamanya.
"Hari ini aku tidak bisa ikut dengan mu ke kantor." seru Sylvia
"It's okay. Aku tidak masalah. Tapi ada satu hal yang ingin aku katakan padamu."
"Apa?"
Anthony memeluk pinggang Sylvia agar merapat padanya. "Kau harus berhati-hati. Tidak menutup kemungkinan jika pelaku yang sebenarnya adalah temanmu sendiri." seru Anthony
Sylvia terdiam. Dia menatap kedua mata Anthony yang terlihat serius mengatakannya. Apa Anthony mengetahui sesuatu?
Dari awal, dia hanya mempunyai dua kemungkinan atas kasus kematian kedua orang tuanya, yaitu si pelaku adalah penjahat yang menaruh dendam dengan ayahnya, atau pelaku adalah rekan kerja ayahnya yang merasa iri dengan prestasi yang di raih ayahnya.
"Aku tidak bermaksud untuk menghasut mu untuk memberontak pada mereka. FBI adalah penegak hukum yang sangat berambisi untuk menangkap ku. Tapi sayang mereka kekurangan bukti. Bahkan saat kau bergabung untuk menangkap ku beberapa yang lalu, aku bisa bebas dari hukuman. Apa kau tahu kenapa?"
"Karena mereka takut padamu?"
__ADS_1
Anthony menggelengkan kepalanya. Dia mendekatkan bibirnya di telinga Sylvia dan berbisik, "Karena aku bermain dengan sangat rapi."
Anthony tersenyum dan menjauhkan wajahnya. Dia mengusap pipi Sylvia dan kembali berkata, "Untuk itu kau harus profesional. Aku sangat ingin melihat aksimu menangkap ku dengan bukti yang kau dapatkan."
Sylvia tersenyum dan memeluk leher Anthony. "Apa kau sedang menantang ku?" tanya Sylvia
"Bisa di bilang begitu. Pasti akan sangat menyenangkan bisa bermain-main dengan mu. Kita lihat, seberapa hebat seorang Sylvia Erena Louis."
"Jika aku bisa mendapatkan bukti kejahatan mu, apa yang akan aku dapatkan?"
"Aku akan mengabulkan semua keinginanmu." seru Anthony
"Tidak buruk."
Deg
Sylvia melepaskan pelukannya dan mendorong pelan tubuh Anthony." dasar mesum." dia membalikkan badannya dan memegang dadanya yang tiba-tiba berdetak kencang. "Sial !! Ada apa denganku?" batin Sylvia
Anthony terkekeh. Dia kembali memeluk Sylvia dari belakang dan menopang dagunya di bahu wanita itu. "Tenang saja, aku akan menunggu sampai kau siap." satu kecupan Anthony daratkan di leher Sylvia. Dan hal itu berhasil membuat wanita itu meremang.
"A_aku sudah terlambat. A_aku pergi dulu." Sylvia melepaskan pelukan Anthony. Tapi bukannya terlepas, justru pelukan itu semakin erat. "Anthony!!" pekik Sylvia
__ADS_1
"Beri aku ciuman. Baru aku lepaskan."
"Jangan macam-macam!!"
Anthony terkekeh, dia membalikkan tubuh Sylvia agar menghadap pada nya. Dia mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di bibir Sylvia.
Tidak ada penolakan dari wanita itu. Dan hal itu membuat Anthony semakin berani memainkan lidahnya. Dan di luar dugaan, Sylvia membalas ciumannya.
Anthony tersenyum di sela-sela ciuman mereka. Dia memeluk pinggang Sylvia dan memperdalam ciumannya. Ini awal yang sangat baik. Untuk pertama kalinya, Sylvia mau membalas ciumannya dan tentu saja hal itu membuatnya senang. Rasanya ada ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya. Sungguh, rasanya dia tidak ingin berhenti melakukan. Tapi sayangnya, Sylvia hampir saja kehabisan nafas. Dan mau tidak mau Anthony menyudahi ciuman mereka.
"Kau mau membunuhku ya?" teriak Sylvia dengan nafas yang memburu.
Anthony tersenyum tipis. Dia mengusap bibir Sylvia yang basah karena perbuatannya. Ini akan menjadi candu untuk nya. Dan dia yakin, perlahan dia bisa mendapatkan yang lain sedikit demi sedikit.
"Aku mencintaimu, Sylvia." Anthony kembali memberikan kecupan singkat di bibir Sylvia dan kembali berkata, "Ingat pesan ku!! Jika kau menemukan sesuatu yang mencurigakan, jangan pernah bertindak gegabah. Kita akan mencari pelaku bersama-sama. Apa kau mengerti?" tanya Anthony yang di balas anggukan oleh Sylvia.
"Good. Sekarang, ayo kita berangkat!!"
Anthony dan Sylvia keluar dari kamar mereka dengan tangan yang saling bertautan.
Sylvia melirik sekilas, entah mengapa dia merasa sangat senang. Jantungnya terus berdetak kencang dan tubuhnya bergetar hebat saat berciuman dengan Anthony. Apa dia mulai menyukai Anthony? Tapi rasanya ini terlalu cepat. Bagaimana jika Anthony hanya manfaatkan?
__ADS_1
Sylvia menggeleng-gelengkan kepalanya. Itu tidak mungkin. Dia bisa melihat kejujuran di mata Anthony.
"Baiklah, aku akan mencoba mempercayai mu, Anthony. Semoga kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan." batin Sylvia