
Tim Alfa memutuskan untuk pulang setelah selesai melakukan penyelidikan di TKP tempat Axel terbunuh. Sayangnya mereka tidak menemukan petunjuk apapun di sana. Hal itu membuat mereka tampak lesu. Tapi walaupun begitu, mereka tidak akan menyerah. Besok mereka akan kembali menyelidiki dengan bertanya pada penduduk sekitar tentang kejadian tersebut. Dan mereka berharap ada orang yang melihat peristiwa tersebut.
Berbeda dengan timnya, Sylvia justru pulang dengan hati yang senang karena dia berhasil menemukan satu-satunya petunjuk yang di tinggalkan Axel. Dia ingin segera melihat isi dari memory card milik Axel. Dia yakin ada hal yang sangat penting yang tersimpan di memory card tersebut. Karena tidak mungkin Axel menyembunyikan benda itu di tempat yang mustahil di temukan oleh orang lain jika tidak ada hal yang penting.
Dan saat dia sampai di rumah, dia langsung ke ruangan Anthony. Dia memasang memory card pada card reader dan menghubungkannya pada komputer.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Anthony saat melihat Sylvia berada di ruangan nya.
"Pinjam komputer mu sebentar." Sylvia mengotak-atik komputer Anthony dan melihat isi dari memory card milik Axel.
Tidak ada yang aneh, hanya ada foto-foto Axel dan beberapa video nya saja. Tapi ada satu file yang tersimpan dengan menggunakan sandi. Dan Sylvia yakin jika sesuatu yang penting tersimpan di sana. Tapi kira-kira sandi apa yang di gunakan Axel?
"Kau dapat dari mana benda itu?" tanya Anthony yang berdiri di samping Sylvia. Dia melihat apa yang di lakukan istrinya itu.
"Kau tahukan, hari ini adalah hari pemakaman Axel. Saat dia meneleponku kemarin ternyata dia benar-benar dalam bahaya. Aku menyesal tidak segera menolongnya." terang Sylvia
"Lalu?"
"Kau pasti sudah melihatnya di televisi kan. Untuk apalagi kau bertanya?" gerutu Sylvia
"Bukan itu maksudku. Aku memang sudah melihatnya di televisi. Mereka bilang jika temanmu itu di bunuh oleh perampok. Lalu untuk apalagi kau menyelidiki kematiannya?"
Ucapan Anthony membuatnya tertegun. Dia menatap Anthony sekilas yang memperhatikan layar komputer. "Darimana kau tahu?"
"Gerak-gerik mu mudah untuk di tebak sayang."
Sylvia memanyunkan bibirnya, dia lupa jika anak buah Anthony ada di mana-mana. Pria ini pasti tahu dari mereka.
"Aku curiga jika pembunuh Axel bukan perampok yang meresahkan masyarakat akhir-akhir ini."
__ADS_1
"Kasus ini di tangani tim lain. Dan kami tidak terima, untuk itu aku menemui Tuan John agar kasus Axel di serahkan pada tim Alfa. Tapi dia menolaknya dengan alasan yang konyol." geram Sylvia
"Lalu?"
"Saat aku sedang berbicara dengan tuan John, Elgar berkata jika ponsel Axel berhasil di perbaiki. Dan tidak ada petunjuk selain riwayat panggilan Axel dengan saudara jauhnya."
Anthony mengerutkan keningnya menatap Sylvia. "Bukankah....
"Itu dia yang membuat ku curiga. Kau tahu sendiri kan, dia menghubungiku kemarin. Tapi riwayat panggilan di ponselnya tidak tercantum namaku, tapi justru nama saudaranya. Itu artinya sebelum dia meninggal, dia menghapus riwayat panggilan dengan ku dan menghubungi seseorang secara acak." seru Sylvia
"Untuk itu kami sepakat untuk menyelidiki ulang kematian Axel. Dan..." Sylvia mencabut card reader dan menunjukkan pada Anthony. "Aku menemukan memory card milik Axel."
Saat mereka tengah membahas tentang Axel, Daniel yang baru saja kembali dari perjalanan nya yang menyenangkan terlihat masuk ke ruangan Anthony.
Penampilannya yang terlihat tidak biasa membuat Sylvia menggodanya. Pria itu terlihat tampan dengan penampilan yang acak-acakan. Rambut basah, lengan kemeja yang di lipat sampai batas siku, dan beberapa kancing atas yang terbuka.
Melihat hal itu, Anthony mendengus kesal. Dia menutupi mata Sylvia yang terus menatap Daniel. Dia lebih tampan dari Daniel. Tapi dia tidak pernah mendapat pujian dari wanita itu.
"Lepas!!" Sylvia menyingkirkan tangan Anthony yang menutupi matanya. "Kau mengganggu pandangan ku." gerutu Sylvia
"Itu karena kau menatap Daniel seperti itu. Padahal aku lebih tampan daripada Daniel." gerutu Anthony
Daniel tersenyum tipis melihat tuannya yang cemburu padanya. Padahal dia tahu jika Sylvia hanya bercanda.
"Saya mendapatkan informasi penting yang anda inginkan tuan." seru Daniel
"Tuan Kehl terlihat masuk ke markas FBI. Dia..." Daniel terdiam sejenak mengingat hal yang dia lihat saat mengintai di dekat markas FBI
"Dia apa, Niel?" tanya Anthony. Dia masih berdiri di samping Sylvia yang sedang melihat isi dari memory card milik temannya.
__ADS_1
"Eh.. Maaf tuan. Saya tidak bisa masuk untuk melihat lebih lanjut. Tapi saya tahu jika Tuan Kehl menghadiri acara di kapal pesiar. Di sana saya melihat tuan Kehl bertemu dengan seseorang. Sepertinya dia orang yang sangat di hormati Tuan Kehl." Daniel menyerahkan kamera kecil yang di jadikan penjepit dasi yang dia pakai sebelumnya.
"Semua ada di sini, Tuan." saat menyerahkan benda itu, mata Daniel tidak sengaja melihat layar komputer milik Anthony. Di sana terpampang foto anggota FBI yang pernah dia lihat. "Bukankah dia teman anda, nona." tanya Daniel
"Yeah. Kau benar. Dia meninggal karena di bunuh. Dan saat ini aku sedang menyelidikinya." seru Sylvia
"Meninggal?" pekik Daniel.
"Ada apa? kenapa ekspresi mu seperti itu?" tanya Anthony
"Kemarin saat aku mengintai Tuan Kehl yang masuk ke kandang FBI, aku melihatnya mengendap-endap masuk melalui pintu samping."
"Benarkah? Jangan bercanda, Niel!!" pekik Sylvia
"Saya berkata jujur nona. Awalnya saya juga ingin melakukan hal yang sama. Tapi setelah saya pikir-pikir, saya tidak mungkin bisa lolos jika sampai ketahuan. Karena waktu itu mereka tengah berkumpul. Dan tidak lama kemudian, Dia terlihat keluar dari pintu samping dan di kejar oleh beberapa anggota FBI lengkap dengan senjatanya."
Deg
Sylvia mencengkeram kerah Daniel dan berkata dengan keras, "Jangan mengada-ada, Daniel!! Apa maksudmu Axel di kejar-kejar oleh anggota FBI? bukankah mereka adalah teman?" teriak Sylvia.
"Tenang sayang!! Dengarkan penjelasan Daniel!! Aku yakin jika Daniel tidak mungkin berbohong." Anthony melepaskan cengkraman Sylvia dan mencoba menenangkannya.
"Maaf nona. Tapi itu yang saya lihat. Saya ingin membantu, tapi Tuan Kehl terlihat keluar dari sana. Jadi saya memilih mengikuti tuan Kehl."
"Tidak!!! Itu tidak mungkin." lirih Sylvia. Dia menatap Anthony dan menggelengkan kepalanya, "Kau juga tidak berfikir jika....
"Maaf Sylvia, tapi kemungkinan itu pasti ada. Axel di bunuh oleh anggotanya sendiri."
Deg
__ADS_1